بسم الله الرØÙ…Ù† الرØÙŠÙ…
Ucapan Terima Kasih
Yang terhormat, Hadirin sekalian.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Atas nama diri saya sendiri dan atas nama bangsa Palestina yang
terluka, saya berterima kasih kepada Anda semua atas perhatian yang
dalam terhadap problematika Palestina. Saya juga berterima kasih atas
kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan realita dan kesulitan yang
dialami oleh salah satu kelompok masyarakat Palestina, yaitu mereka yang
mengalami luka-luka.
Saya datang dari Palestina yang terluka,
dari Baitul Maqdis tempat keberadaan Masjid Al-Aqsha yang diberkahi,
negeri para Nabi dan Rasul – alahimussalam -, tempat Mi’raj Rasulullah
saw, kiblat pertama ummat Isam, dan tempat suci ketiga mereka. Saya
datang dari tengah penderitaan yang dialami oleh Ghaza yang diisolasi.
Saudara-saudara yang mulia tentu tahu bahwa sejak awal berlangsungnya
Intifadhah Al-Aqsha 28 September 2000 telah jatuh korban gugur,
luka-luka setiap hari hingga jumlahnya mencapai lebih dari 49000 orang.
Pada kesempatan ini kami ingin menjelaskan kehidupan orang-orang
Palestina yang terluka dan berbagai kesulitan yang mereka hadapi
diantaranya masalah sosial, kesehatan, kejiwaan, dan dampak isolasi
(blokade pemboikotan) atas kami bangsa Palestina khususnya mereka yag
terluka. Orang yang terluka tidak dapat berobat karena ditutupnya lintas
perbatasan sedangkan sarana dan prasarana di Jalur Ghaza tidak
mencukupi kebutuhan minimal untuk menolong mereka yang terluka dari
bahaya kematian.
Politik Kebijakan dan Perlakuan Musuh terhadap Warga Palestina
Pendudukan dan penjajahan Yahudi selalu melakukan tindakan kezaliman
dan penghancuran yang amat keji, serta menggunakan segala kekuatan
brutal terhadap bangsa Palestina. Mereka menggunakan berbagai jenis
senjata militer yang dilarang oleh dunia internasional seperti rudal
pembakar, dan senjata penggergaji dan pemotong tubuh. Sehingga cukup
banyak diantara kami yang terluka dan cacat karena kehilangan sebagian
anggota tubuhnya baik mata, tangan, kaki atau lainnya. Kebanyakan
diantara mereka adalah anak-anak dan remaja yang sedang berada di rumah
atau sedang menyeberang jalan lalu diserang secara membabi buta. Salah
satu buktinya adalah pembantaian di Hay Ad-Daraj yang menelan korban 20
syuhada dan 100 luka-luka. Anda juga telah menyaksikan bagaimana
bayi-bayi yang masih menyusui meninggal di bawah puing reruntuhan
bangunan rumah mereka. Juga pembantaian keluarga ‘Atsamina yang menelan
korban 18 syahid serta 50 luka-luka yang kebanyakan mereka mengalami
cacat permanen. Ini adalah pembunuhan massal yang bertentangan dengan
akhlak manusia dan undang-undang samawi.
Peran Isolasi dan Pemboikotan
Blokade dan isolasi yang zalim terhadap Ghaza telah merampas hak-hak
korban terluka, meskipun sekadar hak mendapat obat dan perawatan, hingga
bahan bakar untuk mobil ambulan untuk mengantar korban luka ke klinik
atau RS pun tidak ada. Belum lagi pemutusan aliran listrik yang
menyebabkan peralatan terkait pernafasan pasien tak dapat berfungsi
sehingga banyak diantara korban luka akhirnya meninggal. Diantara kami
juga tidak mendapatkan obat bius sehingga dokter terpaksa melakukan
amputasi atau operasi tanpa bius seperti yang Anda saksikan. Bukankah
ini pembunuhan sengaja dan berencana terhadap manusia??
Dampak Sosial
Saudara-saudara yang mulia, mari kita melihat bagaimana seorang anak
kecil usia sekolah tidak dapat pergi sendiri ke sekolahnya dan
memerlukan ibu, ayah, atau saudaranya untuk mendorong kursi rodanya ke
sekolah akibat cacat yang disebabkan oleh kekejaman pendudukan Israel.
Anak-anak cacat itu tidak bisa lagi bermain bersama kawannya, tidak
dapat membaca, menulis atau berolahraga, lalu kondisi mereka menjadi
beban baru bagi keluarganya untuk diperhatikan dan dijaga secara khusus
dengan program khusus pula. Semua bisa ia dapatkan jika keluarganya
mampu. Jika tidak, maka perhatian dan perawatan minimal pun sulit ia
dapatkan.
Bagaimana jika yang menjadi korban meninggal atau
cacat adalah perempuan yang menjadi ibu? Dapat dikatakan bahwa telah
terjadi penghancuran satu keluarga penuh, karena keluarga itu kehilangan
pendidik, penjaga dan pengasuh mereka yang menyayangi. Adakah
penghancuran yang lebih dahsyat darinya??
Bagaimana pula jika
korban meninggal atau cacat adalah kepala rumah tangga? Padahal ia
adalah tumpuan satu-satunya yang mencari nafkah keluarga, memenuhi
kebutungan sandang, pangan dan perhatian. Penjajahan Zionis telah
menghalangi seorang ayah yang cacat tubuh untuk memberikan kebahagiaan
dan keceriaan bagi istri dan anak-anaknya, bahkan telah menjadikannya
sebagai beban bagi mereka.
Bila yang mengalami cacat adalah
remaja putra atau putri maka mereka akan mengalami tekanan jiwa yang
berat, karena masa depan mereka yang mengkhawatirkan terutama masalah
pernikahan. Sulit bagi mereka untuk mendapatkan pasangan yang mereka
inginkan.
Akhirnya, kami, orang-orang yang terluka dan sakit
sangat membutuhkan obat, kursi roda dan peralatan medis dan bagaimana
membawanya masuk ke Ghaza. Kami membutuhkan pembangunan sarana dan
prasarana kehidupan dan penyelenggaran berbagai program rehabilitasi
serta proyek-proyek kemanusian agar kami dapat hidup mulia sebagai
bangsa. Bangsa Palestina yang mengalir darahnya memanggil seluruh
komponen ummat Islam, semua lembaga sosial dan kemanusiaan dan setiap
pemilik hati nurani untuk mengulurkan bantuannya, berdiri di samping
kami beriringan demi menghilangkan kezaliman, karena Allah selalu
menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudarannya.
Bantulah kami terus untuk menghentikan penjajahan agar kami bisa hidup lebih baik.
Akhirnya sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada hadirin dan penyelenggara muktamar ini.
Wassalamu’alaikum wrwb.
Salam dari orang-orang terluka di Ghaza, Baitul Maqdis, Palestina
(Surat terbuka ini dibacakan langsung oleh Dami Dabbur -yang kaki
sebelah kanannya harus diamputasi korban kekejaman Israel- dalam
Konferensi Internasional Palestina/as/ut)