Cinta itu membuat kita cenderung berpikir lebih besar dan kreatif. Wow
!!!, sebegitu hebatkah cinta itu... Yup, selain itu cinta bagi saya
adalah komponen yang membuat dunia ini hidup, tanpa cinta kita semua
mungkin tidak pernah ada didunia ini. Lantas sebenarnya ada apa sih
dengan cinta...????
Darimanakah Cinta Itu Berasal ?
Jika Anda menanyakan darimana cinta itu berasal tentu bisa dijawab
dengan jawaban cinta itu berasal dari takdir Tuhan. Jawaban tersebut
memang benar tetapi tidak memuaskan.
Ya, memang begitulah adanya. Perasaan cinta yang kita rasakan muncul
karena di dalam tubuh diproduksi beberapa zat-zat tertentu yang sedikit
membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. Salah satu
zat ini dinamakan
feromon.
Feromon ini bisa mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh manusia
lainnya (terutama otak). Contoh paling mudah adalah "bau badan". Sifat
dari senyawa
feromon sendiri tidak kasat mata, mudah menguap, tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan oleh manusia.
Senyawa feromon ini biasa dikeluarkan oleh tubuh saat sedang berkeringat dan dapat tertahan dalam pakaian yang kita gunakan.
Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara
yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan
oleh
vomeronasalorgan (VMO) di dalam indra pencium. Sinyal
feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama
hipotalamus.
Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku
dan fisiologis. Menimbulkan rasa ketertarikan antara dua orang berlainan
jenis dengan bekerja sebagai pemicu dalam reaksi-reaksi kimia. Ketika
dua orang berdekatan dan bertatapan mata, maka
feromon akan
tercium oleh organ tubuh manusia yang paling sensitif yaitu VMO, organ
dalam lubang hidung yang mempunyai kepekaan ribuan kali lebih besar
daripada indera penciuman biasa. Dari disinilah terjadi apa yang
dinamakan dengan cinta.
Hm.. semakin menarik ya gan? walau jadi terdengar kurang romantis tapi saya rasa anda perlu untuk mengetahuinya...
Konon kemampuan tubuh untuk menghasilkan
feromon berkurang setelah dua sampai empat tahun. Apakah ini berarti cinta itu hanya bersifat sementara?
Penasaran kan ?, Silakan baca tulisan ini sampai habis!
Apa Sih Cinta Itu ?
Ada banyak definisi tentang cinta, ada yang bilang cinta itu takdir,
cinta itu buta, cinta itu indah, cinta itu luapan emosi, cinta itu kagum
atau menyukai sesuatu, dan lain sebagainya.
Pernyataan diatas tentang cinta itu adalah benar, namun terlepas dari
itu semua, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa cinta itu adalah proses
biologis berupa reaksi kimia didalam tubuh kita.
Cinta dipengaruhi oleh pelepasan hormon /
neurotransmitter. Hormon berasal dari bahasa Yunani “
Horman” yang berarti “menggerakan”, atau dengan kata lain hormon adalah
pembawa pesan kimiawi antar sel atau antar kelompok sel. Berbeda dengan
feromon
yang dapat menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan
dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies), hormon hanya
dapat menyebar di dalam tubuh. Saat kita mencintai seseorang maka
dilepaslah hormon-hormon yang membuat tubuh kita bereaksi, merasakan
berbagai perasaan dan emosi.
Salah satu hormon yang dikeluarkan oleh tubuh itu adalah
dopamin.
Dopamin ini memiliki efek selayaknya
kokaine. Ketika Anda bertemu seseorang yang Anda sukai, hormon
dopamine ini bekerja dan sifatnya
addictive.
Artinya mereka yang menyukai pasangannya seakan-akan ketagihan untuk
terus bertemu dengan orang yang disukainya itu. Dalam proporsi yang
tepat,
dopamin menciptakan energi intens, kegembiraan, dan fokus
perhatian, dan itulah sebabnya, ketika Anda baru jatuh cinta, Anda dapat
tetap terjaga sepanjang malam, mendaki gunung lebih cepat, dan menekan
batas kemampuan Anda. Cinta membuat Anda lebih berani menjalani risiko
yang biasanya tidak Anda ambil. Dalam dosis tinggi bisa jadi juga
membuat Anda berani melakukan resiko seperti bunuh diri.. hiih sereem.
Cinta Membuat Seseorang Menjadi Bahagia
“Aku tak bisa hidup tanpamu, kamu berada di aliran darahku, kamu
adalah nafasku, aku tak ingat makan, tak ingat minum, tak ingat bobo,
tak ingat mandi dll. semua itu karena mengingat kamu...”.
Mungkin kata-kata lebay dan alay diatas tak asing lagi kita dengar dari
mulut seseorang yang tengah dimabuk asmara. Dalang dibalik keadaan
tersebut adalah
hormon fenylethilamin. Selain
hormon fenylethilamin ada juga
hormon adrenalin. Sebagian pengaruh dari adrenalin ada yang mirip dengan
fenylethilamin,
yaitu mempercepat nafas. Selebihnya ada lagi hubungannya dengan, "tak
ingat makan, tak ingat minum..". Ketika hormon ini bekerja, efek yang
ditimbulkan dapat menghilangkan nafsu makan karena organ pencernaan jadi
bekerja lebih lambat.
Nah, yang berikutnya rada-rada menakutkan. Rupanya, selain
hormon dopamine yang bekerja selayaknya
kokaine, ada juga hormon yang bekerja selayaknya
morphine. Hormon ini bernama
endorpin.
Endorpin dikatakan adalah morfinnya tubuh karena memang sifatnya yang
seperti morfin (tahukan morfin ?, masih sejenis narkoba juga Gan.)
Hormon ini sebenarnya hanya akan muncul ketika kita merasakan sakit,
kegembiraan, dan orgasme. Namun, rupanya ketika kita jatuh cinta, hormon
ini juga bekerja, oleh karena itu orang yang jatuh cinta merasa bahagia
(kadang-kadang membuat senyum-senyum sendiri). Uniknya ketika Anda
memakan cokelat, hormon
endorpin ini juga akan dihasilkan.
Itulah sebabnya ada baiknya apabila kita memberikan hadiah cokelat kepada pasangan kita.
Selain itu ada juga
vasopresin. Hormon ini memiliki peranan dalam kegiatan sexual. Hormon ini dapat menekan sekresi air, berperan sebagai
antidiuretik
yang dapat mengatur pengeluaran urin. Tanpa hormon ini, Anda sudah
pasti memerlukan bantuan pampers karena tidak bisa mengatur air kencing
sendiri. Dan yang terakhir adalah
oxytocine yang merupakan hormon
yang terkait dengan perasaan kepuasan. Ketika Anda memeluk atau
membelai pasangan Anda, hormon ini akan dihasilkan di
hipotalamus.
Cinta Membuat Seseorang Menjadi GILA
Saat kita jatuh cinta, bagian otak yang bertugas sebagai pengontrol
depresi dan analisis, sama sekali tidak bekerja, sebaliknya bagian otak
pengontrol intuisi, rasa "ser-seran" dan bagian otak yang bekerja
merespon obat bekerja dengan aktif.
Kesimpulannya Menurut psikiater dan asisten klinik psikiater di University of California San Francisco School of Medicine,
Dr. Thomas Lewis, dalam bukunya yang bertajuk
A General Theory of Love mengatakan, “Jatuh cinta memang bukan merupakan fungsi otak, jatuh cinta itu lebih merupakan fungsi saraf “.
Jadi tidak heran kenapa orang yang jatuh cinta kerap melakukan hal-hal
bodoh, karena mereka mungkin "bekerja" tanpa menggunakan otak. (hahaha
goblok ya Gan....)
Mengingat penelitian biologi saat ini, tampaknya bahwa ungkapan "
jatuh cinta membuat gila"
bukan hanya metafora. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa jatuh
cinta secara fisiologis mirip dengan penyakit mental. Misalnya saja
gangguan seperti OCD (
Obsessive-Compulsive Disorder). Si
penderita OCD biasanya mempunyai pikiran tertentu yang tak dapat
dilenyapkannya (obsesi) atau melakukan suatu tindakan berulang-kali
tanpa kendali (kompulsi). Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan
serotonin, dan ketika dipelajari,
peneliti menemukan bahwa seseorang yang jatuh cinta memiliki kadar serotonin 40% di bawah normal.
Adakah Yang Namanya Cinta Sejati Itu ?
Yup, tanpa diragukan lagi cinta sejati itu memang ada, buktinya kita
bisa melihat pasangan kakek-nenek yang tetap saling mencintai sampai
ajal memisahkan mereka.
Bagiamanakah Cara Untuk Menciptakan Cinta Sejati ?
Sebelumnya kita harus mengerti dulu apa itu “cinta sejati”. Ada banyak
definisi cinta sejati, jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Namun
kita tak perlu bingung. Toh kebanyakan definisi itu merupakan hasil
pemikiran subyektif dan tidak logis. Supaya tidak terjebak
dalam kebingungan, lebih baik kita bersandar pada definisi cinta sejati
yang ilmiah, obyektif, dan logis.
Salah satu definisi yang ilmiah, obyektif dan logis itu dikemukakan oleh
M Scott Peck dalam
The Road Less Travelled. Ia mendefinisikan cinta sebagai “
kemauan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual diri sendiri atau perkembangan spiritual orang lain”.
Ungkapan “dengan maksud” pada definisi tersebut digarisbawahi karena
tujuanlah yang terutama membedakan antara cinta dan yang bukan cinta.
Dengan demikian, cemburu buta atau pun upaya mengekang sang kekasih
(walau dengan alasan demi menjaga keselamatannya) bukanlah cinta sejati.
Dalam pada itu, untuk memelihara perkembangan spiritual orang lain yang
kita cintai, kita perlu lebih dulu mengembangkan diri sendiri.
Mengapa demikian? M Scott Peck menerangkan:
“
Bila kita mencintai seseorang, cinta kita dapat dibuktikan atau
diwujudkan hanya dengan cara pengerahan tenaga kita sendiri…. Cinta
bukan tanpa usaha. Sebaliknya, cinta itu penuh dengan usaha”.
Nah, sekarang mari kembali ke bagian ilmu pengetahuannya. Pasangan dalam
hubungan jangka panjang dan bahagia berarti telah beralih dari keadaan
dimabuk asmara akibat dopamin- ke induksi
oxytocin tenang.
Oksitosin selain terkait dengan perasaan kepuasan sebagaimana dituliskan sebelumnya adalah
hormon peptida
yang mempromosikan rasa ikatan dan hubungan dan dilepaskan selama
menyusui, pelukan, dan orgasme. Pasangan yang berhasil dalam mencari
cara untuk merangsang pelepasan oksitosin dalam satu sama lain lebih
cenderung senang untuk tetap selalu bersama. Jadi, apa yang bisa kita
lakukan untuk
merangsang pelepasan oksitosin, dan dengan demikian tetap saling
terhubung dan bahagia dengan pasangan? (syuut... khusus buat
kelanggengan hubungan suami-istri !!)
Inilah rahasianya :
- Seringlah berpelukan!.
- Saling memandangi satu sama lain ketika Anda sedang berbicara atau sedang berduaan.
- Melakukan petualangan bersama-sama, seperti mengunjungi tempat-tempat baru, naik roller coaster, berolahraga bersama, dll.
- Tertawa bersama.
- Saling memberi pijatan.
- Setiap kali konflik terjadi, sebelum meningkat menjadi marah.
Segeralah terhubung secara fisik dengan satu sama lain (berpegangan
tangan, memeluk, dll), bernapas bersama-sama selama beberapa menit,
kemudian bicara.