Minggu, 17 Agustus 2014

Bagaimana Cara Kerja Alexa Ranking

Apa dan Bagaimana Cara Kerja Alexa Ranking mendaftar+claim+blog+alexaAlexa Traffic Rank, atau Alexa ranking bisa dijadikan salah satu referensi untuk mengukur tingkat popularitas website yang kita miliki. Meskipun beberapa webmaster menganggap alexa rangking tidak terlalu penting dan beberapa menganggap kalau alexa tidak menunjukan nilai yang aktual sehingga tidak terlalu berguna. Saya pribadi setuju kalau rangking alexa tidak menunjukann nilai aktual, berhubung rangking alexa berdasarkan pada data trafik selama 3 bulan terakhir yang sebagian besar berasal dari user (pengunjung) yang menggunakan alexa toolbar dan dikombinasikan dengan jumlah jumlah trafik kunjungan dan jumlah page view. Data alexa tidak terlalu akurat, kecuali anda memutuskan berlangganan certify site’s metrics pada situs anda. data yang didapat akan lebih akurat
Meski demikian Alexa merupakan salah satu situs terbaik yang memberikan penilaian terhadap suatu situs/ website. Alexa menunjukan Global rank, country based rank, search term query and informasi lainnya yang digunakan untuk memberikan penilaian terhadap sebuah website. Bagi situs yang menawarkan pemasangan iklan misyalnya, ranking alexa mungkin bisa jadi salah satu faktor yang berpegaruh agar orang mau menempatkan iklan di situs tersebut dengan asumsi bahwa nilai rank alexa yang ramping tentu memiliki trafik bermutu yang besar.

Alexa

Alexa didirikan pada tahun 1996, merupakan pelopor website analytic. Alexa mengumpulkan data dari pengguna internet dari seluruh dunia. Sebagian besar data trafik yang diterima alexa berasal dari website yang memasang script alexa pada situsnya, dan situs yang melakukan certify site’s metrics (berlangganan alexa plan).

Apa itu Ranking Alexa

Seperti dijelaskan sebelumnya, ranking alexa menunjukan nilai popularitas sebuah situs. Alexa menunjukan rangking sebuah situs secara global maupun lokal berdasarkan sumber kunjungan dari negara tertentu (country based rank). Seperti dikutip dari pernyataan alexa sendiri,  “Our global traffic rank is a measure of how a website is doing relative to all other sites on the web over the past 3 months”.  Ranking Alexa dihitung dengan mengkombinasikan perkiraan rata-rata kunjungan unik dan jumlah pageview selama 3 bulan terakhir.

Alexa Toolbar

Apa dan Bagaimana Cara Kerja Alexa Ranking alexa+toolbar+rangking+alexaAlexa toolbar merupakan sebuah tool untuk mengecek ranking sebuah situs / website. Alexa toolbar bisa dipasang di web brower seperti Firefox, chrome dan IE. Namun hal penting dari alexa toolbar adalah untuk mengirimkan deltail browsing yang kita lakukan (pada web browser yg terinstall alexa toolbar) ke pusat data alexa. Data yang yang diperoleh alexa untuk digunakan dalam menentukan ranking sebuah situs, sebagian besar berasal dari pengguna alexa toolbar. Jadi, dengan kata lain memasang alexa toolbar akan membantu meningkatkan ranking alexa sebuah situs yang kita kunjungi.
Konon direct trafik (kunjungan langsung) dari browser yang terinstall alexa toolbar akan diperhitungkan oleh alexa, dan tidak jika tanpa alexa toolbar. Meski demikian, kunjungan yang berasal dari situs referal dan search engine tetap diperhitungkan. Hal ini juga yang kemudian menimbulkan perdebatan tentang ranking alexa, dimana sebagian menganggap rangking alexa tidak terlalu mencerminkan nilai trafik yang sesungguhnya. Tapi terlepas dari itu, ranking alexa tetap bisa dijadikan acuan untuk menilai dan meningkatkan popularitas situs yang kita miliki
Daftarkan dan Claim situs anda di alexa.com, pelajari dan ikuti langkah langkah cara mudah mendaftarkan situs di alexa

Sabtu, 16 Agustus 2014

One Piece Episode 656

Silakan lihat cerita dengan mendownload file sesuai dengan kebutuhan kalian.
Like Fanspage Facebook kami untuk mendapatkan informasi terbaru Anime Jepang Subtitle Indonesia di [ LIKE ] 
Dan juga Follow di Twitter kami di [ FOLLOW ]
One Piece Episode 657 Subtitle Indonesia rilis 17 Agustus 2014
Jangan lupa klik Share/Bagikan/Tweet/Plus One Piece Episode 656 Sub Indo ini pada menu diatas atau dibawah atau langsung klik [BAGIKAN]
Download MP3 OST One Piece – Wake Up! – Fullversion [DI SINI]
Bagi yang ingin Nonton One Piece via Laptop, Komputer/PC, Android, Tablet silakan pilih format dibawah ini.
One Piece Episode 656 Subtitle Indonesia . MP4
(720p/ MP4HD  : 90 Mb)
Episode One Piece 656 Subtitle Indonesia . MP4
(1080p/FULL HD  : 120 Mb)
BACA BERITA [DI SINI]  DOWNLOAD FILM [DI SINI]  DOWNLOAD SOFTWARE [DI SINI]
One Piece Episode 656 Subtitle Indonesia . MKV (480p : 70 Mb)
[SB] [BU] [UPT] [MF] [RDF] [SF]  [TF](720p/HD  : 90 Mb)
(1080p/FULL HD  : 120 Mb)
=======================
Bagi yang ingin Nonton One Piece via Handphone, Android, Tablet silakan pilih format dibawah ini.
One Piece 656 Subtitle Indonesia. AVI
( 40 Mb )
One Piece 656 Sub Indo. 3GP
( 20 Mb )
Download One Piece 656 Subtitle Indonesia. MP4
( 30 Mb )

Jadwal Rilis Naruto Shippuden

Bulan September 2014 memang baru bulan depan, tapi Jadwal Rilis Naruto Shippuden sudah beredar dan mimin akan kerjakan Naruto Shippuden Subtitle Indonesia seperti biasanya di hari kamis dan menyediakan semua jenis format video, mulai dari kualitas paling rendah (3Gp) hingga paling tinggi (1080p/Full HD).


Naruto Shippuden Episode 375 berlatar belakang Obito dan Kakashi.
Untuk Naruto Shippuden Episode 376-377 merupakan episode spesial dengan rilis 2 episode sekaligus dan berisi tentang Mecha Naruto untuk menyambut rilisnya Game Ultimate Naruto Storm Revolution.
Naruto Shippuden Episode 378, 379 belum diketahui bercerita tentang apa.
Berikut adalah Jadwal List Download Naruto Shippuden Subtitle Indonesia Agustus 2014
1. Naruto Shippuden Episode 375 Subtitle Indonesia : 4 Sepetember 2014 – judul: Kakashi vs Obito

2. Naruto Shippuden Episode 376-377 Subtitle Indonesia : (Double Release) 11 Sepetember 2014 – judul: n/a
3. Naruto Shippuden Episode 378 Subtitle Indonesia : belum dipastikan tanggal berapa – judul: n/a
4. Naruto Shippuden Episode 379 Subtitle Indonesia : belum dipastikan tanggal berapa – judul: n/a
Untuk jadwal yang belum tercantum tanggal dan judul akan mimin update jika sudah tersedia informasinya.
Demikianlah Jadwal Rilis Naruto Shippuden Subtitle Indonesia September 2014 dan semoga bisa memberi informasi bagi kalian.

Naruto Shippuden Episode 372

Download Naruto Shippuden 372 Subtitle Indonesia
Naruto Shippuden Episode 372 Subtitle Indonesia ini bercerita tentang datang para Hokage ke medan perang untuk menghadapi Madara, dan Naruto bertemu dengan Minato.
Download Game Naruto Shippuden Ultimate Ninja Storm 3 Full Burst PC [DI SINI]
Like Fanspage Facebook kami untuk mendapatkan informasi terbaru Anime Jepang Subtitle Indonesia di [ LIKE ]  dan juga Follow di Twitter kami di [ FOLLOW ]
Naruto Movie 10: The Last atau Naruto Shippuden The Movie 7: The Last [SINI ] 
Naruto Shippuden Episode 373 Subtitle Indonesia rilis 21 Agustus 2014 atau lihat Jadwal Naruto [DISINI]
Jangan lupa klik Share/Bagikan/Tweet/Plus Naruto Shippuden 372 Sub Indo ini pada menu diatas atau dibawah atau langsung klik [BAGIKAN]
Bagi yang ingin Nonton Naruto Shippuden via Laptop, Komputer/PC, Android, Tablet silakan pilih format dibawah ini.
Naruto Shippuden Episode 372 Subtitle Indonesia . MP4
(720p/ MP4HD  : 90 Mb)
Episode Naruto Shippuden 372 Subtitle Indonesia . MP4
(1080p/FULL HD  : 120 Mb)
BACA BERITA [DI SINI]  DOWNLOAD FILM [DI SINI]  DOWNLOAD SOFTWARE [DI SINI]
Naruto Shippuden Episode 372 Subtitle Indonesia . MKV (480p : 70 Mb)
(720p/HD  : 90 Mb)
(1080p/FULL HD  : 120 Mb)
=======================
Bagi yang ingin Nonton Naruto Shippuden via Handphone, Android, Tablet silakan pilih format dibawah ini.
Naruto Shippuden 372 Subtitle Indonesia. AVI
( 40 Mb )
Naruto Shippuden 372 Sub Indo. 3GP
( 20 Mb )
Download Naruto Shippuden 372 Subtitle Indonesia. MP4
( 30 Mb )

Rabu, 13 Agustus 2014

PENGALAMAN DI POMBENSIN (spbu)



Sebelum membaca saya mau minta maaf dulu jika ada perkatan yang kurang enak.

Pada hari itu tanggal 12-08-2014, berniat ntuk membeli besin di POM biar harga terjangkau di bandingkan di eceran namun entah kenapa di setiap banyak POM besin di INDONESIA terkususnya di wilayah sayah, untuk mencari POM yang benar-benar jujur ituh susah di cari entah kenapan saya juga heran ko bias takaran di setiap POM pada perliternya itu berbedah apakah setandar perliter di SPBU di setiap wilayah itu berbedah.

Aneh dan sangat mengherankan ko bias berbuat kaya gitu bukanya menjelek-jelekan tapi emang kenyatanya begitu , saya juga sempat menanyakan pada pegawainya kenapa takaran di POM bapa berbeda di POM wilayah saya dia bilang kalo mau beli disana aja kalo takaranya lebih banyak .

Emang benar apa tidak setiap pegawai menjawab dengan perkataan seperti itu saya juga agak kesel mendengarnay selang pada hari itu saya males membeli bensi di tempat itu.

Sekian dari pengalaman saya semoga bias menghibur .

Jumat, 08 Agustus 2014

Rabu, 06 Agustus 2014

Pasang jam swf di blog

File swf sebenarnya adalah animasi yang di buat khusus untuk web site karena itu ukuranya sangat kecil apabila di bandingan dengan format video lain. Tapi untuk saat ini di Indonesia khususnya, kecepatan internet rata-rata sangat rendah apabila di bandingan dengan negara lain. Jadi para blogger lebih suka tidak menggunakan file swf ini, katanya dapat memperlambat loading.

Kalau menurut saya kecepatan internet di indonesia tidak lama lagi juga akan meningkat, mengingat pengguna internet di indonesia yang bertambah. Maka dari itu swf akan sangat di perlukan karena ukuranya yang kecil bahkan beberapa file gambar seperti png* memiliki ukuran yang biasanya lebih besar deripada animasi sederhana swf*.

Disini saya akan memberikan cara memasang file berformat swf* ke blog. Yang harus anda punya adalah file berformat swf* anda dapat mendownloadnya atau membuat sendiri.

Hal Pertama yang harus di lakukan adalah upload file swf anda. di sini saya akan memberikan cara hosting dengan www.ximg.us hanya saja meksimal file yang di upload hanya sampai 300kb. tapi tidak begitu masalah karena swf biasanya berukuran sangat kecil.
1. buka ximg.us
2. Nah akan muncul tampilan seperti di bawah ini

tampilan awal ximg

3. Pilih browse, kemudian pilih file swf yang ada di komputer anda kemudian akan ada lokasi file anda dengan tulisan warna merah.
browe file di ximg  
4. Masukan email anda jika anda pikir perlu (optional) klik tombol upload yang warnanya hijau. kemudian tunggu file di upload sebentar dan akan muncul seperti pada gambar berikut.
link hasil upload ximg

5. Itulah link file swf anda, langsung copy ke notepad dan simpanlah yang aman karena untuk menemukan file yang linknya hilang agak susah.

Setelah mengupload file swf kita langsung saja menuju blogger.com

1. Login ke Blog anda terlebih dahulu
2. Masuk ke Tata letak
3. Tambahkan Sebuah Gadget atau Widget
4. Pilih Widget HTML/Javascript
5. Masukan script sebagai berikut
<center><embed src="http://ximg.us/upload/1407340367.swf" quality="high" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi? P1_Prod_Version=ShockwaveFlash"></embed><center>

Kode yang berwarna merah adalah link file swf anda. jika anda bingung mengenai ukuran panjang dan lebar. anda dapat memasukan width"..." dan high="..." setelah link file swf anda. jika tidak ada perintah ukuran biasanya akan menempatkan sendiri.
6. SAVE

Ingin Menikah Tapi Pacarku Belum Siap


Namaku Asri (nama samaran), aku adalah anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara, mungkin karena alasan itulah sehingga aku terlalu dikekang. Keinginanku selalu terhambat karna tidak mendapatkan izin dari orang tua.
 Seperti biasanya teman-teman seusiaku (20 thn) sudah mendapatkan izin dari orang tua mereka untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis atau biasa disebut dengan PACARAN, tapi itu yang tidak pernah aku rasakan, jadi yang aku lakukan adalah pacaran sembunyi-sembunyi dari orang tua.
Aku mulai pacaran sejak kelas 6 SD, yah seperti biasa pacaran hanya sekedar pacaran, kami putus karna kami melanjutkan sekolah yang berbeda, kemudian saat aku di bangku SMP aku juga sempat berpacaran dengan pacar temanku yang kebetulan berprofesi sebagai guru ngaji, tapi tidak lama hanya berjalan 1 tahun saja, hubungan kami kandas alasannya karna kami berjauhan (kebetulan pada tahun tersebut aku pindah rumah ke kota lain dan akan menetap disana).
Semenjak pindah akupun mulai hidup yang baru, saat itu aku belum mempunyai sepeda motor untuk berangkat kesekolah jadinya setiap pagi aku berangkat dengan angkot yang selalu berdesakan. Namun ternyata di angkot cintaku pun bersemi kepada laki-laki yang beda umur 3 tahun denganku, sebut saja M.
Singkat cerita kami semakin akrab dan akhirnya berpacaran, namun aku merasa hubungan kami selalu hambar, seperti tidak ada rasa cinta, tapi tetap ku pertahankan sampai bertahan 2 tahun. Kemudian kami putus tanpa sebab. Yah sejujurnya meski aku bercerita tentang pacar-pacarku, orang tuaku sama sekali tidak mengetahuinya, aku menyembunyikannya rapat-rapat dari mereka.
Kemudian selama aku menjalin hubungan dengan M aku sempat dekat dengan BW (yang sekarang menjadi pacarku). Kedekatan kami awalnya biasa saja, namun hari berganti hari, bulan berganti bulan kami sudah saling akrab, dan aku tau dia memiliki perasaan kepadaku.
Setelah 6 bulan kami menjalin hubungan yang kalo di istilahkan sih semacam PDKT, ternyata dia sangat pintar untuk membuat aku terkesima kepadanya, aku pun mulai ada rasa untuknya, dan tepat pada tanggal 07 februari 2010 kami resmi berpacaran. Awalnya aku kira dia laki-laki yang bisa aku bodoh-bodohi seperti mantan-mantan aku dulu. Saat aku pacaran dulu aku sering berselingkuh, dan sama BW juga rencananya aku mau selingkuh juga karena dia keliatan seperti anak yang bodoh.
Sebelum aku sempat selingkuh kami sempat bercakap-cakap ringan, entah kenapa aku bertanya pada BW kalo aku selingkuh gimana? Itu kejadian nya kalo gak salah hubungan kami berjalan 2 minggu. Dan jawaban dari BW menyadarkan aku bahwa selingkuh itu tidak ada gunanya dan tidak pernah ada kesenangan dalam perselingkuhan itu.
Hanya satu kalimat yang dia lontarkan yang membuat aku takut untuk kehilangannya, “kalo kamu selingkuh kita putus dan aku akan pergi dari kota ini (kebetulan dia adalah pendatang di kota tersebut), aku gak akan pernah mau kenal sama kamu lagi karna aku paling benci sama orang yang selingkuh”.
Hanya itu yang dia ucapkan, dan dari semenjak kejadian itu aku tidak pernah selingkuh sampai detik ini. Setelah kejadian itu semua anggapanku terhadapnya berubah 360 derajat. Yang awalnya ku kira dia anak bodoh yang bisa di bodoh-bodohi ternyata salah. Sekarang dalam berpacaran kami membuat sebuah komitmen, kemanapun kami pergi kami harus melapor, aku harus melapor ke dia dan diapun harus melapor kepadaku (ini yang aku inginkan sejak dulu, karna dari pertama aku pacaran sampe terakhir dengan M aku tidak pernah berkomitmen seperti ini, dan aku merasa senang karna kalo begitu aku merasa diperdulikan kemanapun aku pergi).
Tentang BW, keluargaku sudah lebih dulu mengetahuinya, bahkan sebelum kami pacaranpun keluargaku sudah mendengar kabar kalo aku sudah berpacaran dengan BW dan semua keluargaku tidak menyetujuinya karna alasan yang tidak bisa aku ceritakan. Namun aku tidak menanggapinya karna saat itu aku masih tidak mempunyai perasaan apapun terhadap BW jadi tidak ada bantahan dariku terhadap ketidak setujuan keluargaku.
Singkat cerita, hal yang paling aku sesali sampai kapanpun akhirnya terjadi juga. Saat itu usia hubungan kami berjalan 6 bulan, entah apa yang terbesit dalam pikiran kami sehingga kami berani melakukan hal bodoh itu. Saat itu rumah yang dia tinggali kosong dan kamipun berbuat hal yang tidak sepantasnya kami perbuat, setelah kejadian itu dia berjanji akan bertanggung jawab dan dia akan menikahiku di tahun 2020 nantinya.
Akupun hanya bisa menangis dan menyesali perbuatan kami, hal yang paling penting untuk masa depanku yang selama ini aku jaga dengan baik akhirnya kuserahkan kepada laki-laki yang sudah jelas keluarga ku tidak menyetujui nya. Sampai saat ini usia hubungan kami memasuki 5 tahun dan hal yang tidak sepantasnya itupun masih tetap berjalan kalo kami bertemu dirumahnya, kalo orang rumahnya keluar rumah untuk jalan-jalan. Disetiap kesempatan kami selalu melakukannya namun setelah melakukan nya kami menangis menyesali, kami berdua sepakat untuk tidak melakukan nya lagi tapi ternyata sangat sulit untuk meninggalkannya.
Rahasia ini hanya kami yang tau, sampai saat ini keluargaku tidak pernah tau akan hal itu dan keluargaku selalu menyuruhku untuk putus dengannya, namun aku bingung bagaimana caranya aku bisa putus sedangkan aku sudah pernah ditiduri oleh BW dan aku pun sudah pernah berjanji kepada BW bahwasanya aku gak akan pernah menikah dengan orang lain kalo buka sama BW, kalo gak sama BW ya aku gak akan pernah nikah seumur hidupku, karna aku akan menutupi rahasia ini sampai kapanpun kalo aku menikah dengan orang lain rahasia itu harus aku bongkar agar orang yang menikahiku itu tidak menyesal dan bisa terima aku apa adanya.
Dan sekarang BW sudah bekerja selama 3 tahun, namun sampai detik ini seribu rupiah pun belum ada uang simpanannya untuk bekal kami menikah, padahal sebelum dia mendapatkan pekerjaan dia bilang dia akan menyisihkan uang 200 ribu perbulan setiap dia gajian, aku percaya akan hal itu, namun ini sudah memasuki tahun ke 4 dia bekerja apakah aku harus bersabar menunggu? Ataukah aku hanya dibohongi? Karna bukti nyata tidak ada yang dia tunjukan kalo dia akan cepat-cepat melamar aku.
Tapi aku sudah di perkenalkan sama orang tuanya dan sama keluarganya semua menerimaku dengan baik, tidak seperti keluargaku yang tidak bisa menerimanya karna sesuatu hal. Aku merasa dia cocok untuk menjadi pendamping hidupku, dia pria yang bertanggung jawab (kepada keluarga dia sangat bertanggung jawab) dan dia juga baik aku pun tunduk kepadanya tidak pernah aku berani untuk melanggar apa yang sudah dibuat peraturan olehnya.
Namun sekarang aku selalu ragu akan keseriusannya, memang sih 2020 itu masih 6 tahun lagi tapi apakah mungkin aku akan menunggu selama itu? Sedangkan perbuatan dosa itu selalu saja kami lakukan. Kalo diliat dari situasi sebaiknya akhir tahun ini kami harus segera menikah agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Aku berkeingan sekali untuk menikah sekarang tapi BW tidak mau menikah sekarang karna berdalih masih sangat muda, dia mau menikmati masa mudanya. Aku bingung harus tetap menunggu BW meskipun aku tau pada akhirnya keluargaku tetap tidak menyetujuinya. Atau meninggalkannya dan aku hidup seorang diri.
Tekad ku serang aku tetap bertahan semampu kami bertahan dan akan aku berikan penjelasan sampai aku mendapatkan restu dari keluargaku untuk bisa dinikahi oleh BW. Karna aku merasa tidak akan pernah bahagia kalo bukan sama BW. Dan selama penantian izin tersebut aku harus banyak bersabar mendapat perlakuan keluargaku yang setiap hari mengintrogasiku kemanapun aku pergi, dan larangan yang selalu dikekang.
***

Bertukar Suami Istri

Cerita ini adalah seorang suami yang merasa bosan dengan istrinya lalu mencoba bertukar istri dengan saudara kembarnya. Istri saudaranya tersebut berpenampilan menarik, cantik dan wangi. Sampai sejauh itukah hubungan mereka? Apakah semuanya sesuai harapannya?

Baca kisahnya di bawah ini.

Senyumnya mengembang menyambutku sepulang dari kantor. Seperti biasa, wanita itu mengajakku duduk di sofa. Kemudian wanita itu membuka sepatuku, kaus kakiku dan tidak lupa menyuguhkan secangkir teh manis hangat dan sepiring kue kesukaanku.

Dia adalah Yuni. Istriku yang sudah 13 tahun menemaniku dan telah memberiku 3 orang anak yang lucu.Ketika awal menikah, Yuni seorang wanita karir yang cantik dan menarik. Sungguh, Yuni benar-benar membuatku jatuh cinta.

Namun sejak kelahiran Daffa anak pertama kami, dia memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja. Heny ingin lebih fokus dalam merawat dan mendidik anak-anak kami.

Aku tak mempermasalahkan alasannya. Aku ikut senang dan mendukungnya. Penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tangga kami.

Namun seiring berjalannya waktu, Yuni telah berubah di mataku. Yuni tak semenarik dulu lagi. Sibuknya Yuni dalam mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak kami, membuat Yuni lalai dalam merawat dirinya. Yuni jarang menggunakan make up, parfum, dan sering kali memakai daster butut yang selalu setia menemaninya di rumah. Menurut Yuni, sangat nyaman dan adem bila memakai daster di cuaca yang sangat panas.

“Mau makan malam atau mandi dulu mas?” Yuni membuyarkan lamunanku.

Di tangannya sudah siap handuk dan baju gantiku. Mataku sempat melirik sebuah foto pernikahan di dinding dengan tulisan dibawahnya: Yuni & Adi. Kami tampak begitu bahagia dan serasi.

“Mandi saja dek, tadi di kantor aku sudah makan”,

Aku terpaksa berbohong, meski sebenarnya aku belum makan, pemandangan lusuh yang ada di mataku telah merusak selera makanku.

Sementara di kantor, rekan-rekan wanitaku tampilannya modis dan wangi namun di rumah wanita yang menyambutku berbeda bagai langit dan bumi. Istriku yang memakai daster lusuh dan berdandan sangat natural.

Selesai mandi, segera aku masuk ke kamar Daffa. Dia tengah tertidur pulas. Di usianya yang masih 10 tahun, sudah terlihat wajahnya mengadopsi wajahku. Kukecup keningnya, selanjutnya aku beranjak menuju kamar Zahra dan Nadia. Mereka masih tidur dalam satu kamar. Kecantikan wajah keduanya mewarisi wajah Yuni, istriku. Setelah kucium keduanya yang sedang terlelap, segera aku beranjak menuju kamar tidurku.

Di dalam kamar, istriku sedang menyalakan lampu tidur. Aku segera berbaring ke tempat tidur yang telah rapi. Meski di rumah tidak ada pembantu rumah tangga, namun istriku mampu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah dengan baik. Dia memang tergolong wanita yang rajin, seolah-olah tidak ada capeknya.

“Bagaimana dengan pekerjaannya di kantor, mas ?”

“Baik dek” aku biasa memanggilnya dengan sebutan adek.

“Bener nggak ada masalah mas? Kok kuperhatikan akhir-akhir ini mas banyak diam”

“Iya, ngggak apa-apa kok,”

“Syukurlah kalau begitu mas” Yuni ikut naik ke ranjang sambil menyelimuti tubuhku dengan selimut yang lembut dan wangi. Aku memang tidak terlalu kuat dengan dingin AC.

Aku tidak bisa nyenyak dalam tidurku, jujur aku merasakan suatu kebosanan dengan kehidupanku. Disampingku istriku tidur dengan memakai daster kembang-kembang warna kuning yang juga dipakainya saat hamil Daffa anak pertamaku, yaaa…. berarti sudah 10 tahun lebih usia daster lusuh itu. Sungguh menjadi inspirasi untuk datangnya mimpi burukku.

Saat makan siang di kantor aku mengutarakan tentang kehidupan rumah tanggaku yang membosankan kepada Rudi dan Rio temen akrabku. Sambil tersenyum, silih berganti mereka mendengarkan keluhanku.

“Itu karena kamu terlalu monoton Adi, terlalu lurus berumah tangga. Sekali-kali cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim untuk membakar kembali gelora jiwamu” Rudi nyerocos sambil menikmati sepiring nasi goreng.

“Betul tuh kata Rudi, cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim agar kehidupan rumah tanggamu tidak monoton, dengan cara selingkuh misalnya, tuh.. diem-diem Siska, anak baru di departemen kita kuperhatikan sering curi-curi pandang ke kamu Ar, udah… jadiin aja Siska selingkuhanmu, aku yakin dengan berselingkuh kamu akan menemukan kembali apa yang selama ini hilang dari hidupmu” Rio turut memberikan usulannya.

Benar juga kata mereka, Siska anak baru di departemenku memang kuperhatikan sering curi-curi pandang, senyum serta sorot matanya menyiratkan sesuatu maksud tertentu kepadaku.

Meski di usiaku yang menginjak 38 tahun, namun ketampananku belum pudar, ditambah lagi posisiku di kantor yang cukup mapan, aku yakin tidak terlalu sulit buatku mendapatkan seorang wanita.

“Aku tidak mau terjebak dengan komitmen kepada seorang wanita sob, ada usulan lain nggak?”

“Kalau tidak mau susah-susah pelihara kambing, langsung beli satenya aja, ngerti kan maksudku di” kata Rudi dengan senyum nakalnya.

“Kita bisa kok mengantarmu ke tempat gadis-gadis cantik yang akan memuaskanmu, cinta satu malam, puas, tanpa komitmen, bayar, pulang deh berkumpul lagi bareng keluarga” Rio turut menimpali.

“Ok deh, thanks ya sob masukannya, aku pikir-pikir dulu.”

“Iya tapi jangan terlalu lama mikirnya, keburu digaet pak bos tuh si Siska, tahu sendiri bos kita nggak bisa lihat cewek bohay dikit” kata Rudi.


Untuk berselingkuh dengan wanita lain aku masih belum berani, demikian juga untuk berzinah, tidak pernah ada dalam kamusku. Dalam kekalutanku aku menghubungi Bimo, kakakku untuk bertemu saat makan siang.

Akhirnya pertemuanku dengan kakakku Bimo, akan terlaksana juga. Syukurlah di tengah kesibukannya, ia masih sempat meluangkan waktu untuk mendengar curahan hatiku.

“Hallo… sudah lama nunggu Di?” Bimo tersenyum menghampiriku.

Bimo mengenakan atasan setelan hem biru lengan panjang dan dipadukan dengan celana panjang hitam. Melihatnya, seolah aku sedang bercermin. Kita memang saudara kembar, namanya Bimo, dia lebih tua 10 menit dariku, sehingga antara kami berdua tidak ada yang memanggil kakak atau adik melainkan langsung dengan nama kami masing-masing.

“Begitulah Bim, masalah berat yang sedang aku hadapi”

Kening Bimo langsung berkerut pertanda sedang berfikir setalah mendengarkan panjang lebar curhatku, tidak lupa usulan teman-temanku Rudi dan Rio aku sampaikan kepadanya.

Bimo telah menikah juga dan baru dikaruniai 1 orang anak. Pernikan kita dahulu dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Masih teringat ekspresi para tamu undangan yang tersenyum-senyum menyaksikan dua pasang pengantin dengan mempelai pria kembar identik. Ketika bersalaman tidak henti-hentinya para tamu berpesan kepada Yuni istriku, dan kepada Rosa istri Bimo,
“Awas jangan sampai tertukar ya suaminya di malam pertama!!”
Kami pun hanya bisa tersenyum membayangkan malam pertama tertukar, hihihi


“Semua keluarga pasti ada permasalahan Di, akupun juga tidak luput dari permasalahan keluarga” Bimo berucap sambil menghisap sebatang rokok.

Di mataku Bimo laki-laki yang sangat beruntung, punya istri Rosa yang cantik, seksi dan wangi. Tidak seperti Yuni yang lusuh dan bau minyak. Rosa seorang sekretaris pada sebuah perusahaan minyak asing. Kemanapun tampilannya selalu modis dan wangi. Bahkan ketika kami sekaluarga menginap di rumah Bimo, Rosa selalu tampil cantik di rumah.

“Kamu beruntung Di punya istri Yuni, seorang ibu yang pinter mendidik anak, telaten melayanimu dan bisa setiap saat bertemu denganmu, sedangkan aku karena kesibukan Rosa, jarang punya waktu untuk menikmati saat kebersamaan.”

“Tapi aku membutuhkan suatu terobosan besar dalam kehidupanku yang monotan ini Bim, kalau tidak, aku ragu apakah bahtera rumah tanggaku ini bisa diselamatkan. Kalau untuk selingkuh atau “jajan” seperti usul teman-temanku aku jelas tidak bisa melaksanakan Bim, duh.. gimana dong ada solusi nggak?”

“Hmm… gimana kalau aku tawarkan sesuatu yang ekstrim tapiiii… nggak jadi deh, Di..” ucap Bimo ragu-ragu.

“Ayo dong Bim, lanjutin kata-katanya, aku pasti setuju deh” pintaku dengan penasaran

“Sebenarnya aku ragu dengan usulanku ini, sangat ekstrim, namun lebih baik dibandingkan dengan selingkuh atau jajan Di. Kamu ingat tidak saat kita keluarga besar bertemu, Yuni dan Rosa sering salah mengira aku adalah kamu dan sebaliknya kamu dikira aku.”

“Bener juga ya Bim, selain papa mama, istri-istri dan anak-anak kita masih sering keliru, karena wajah, suara, postur dan perangai kita memang bener-bener susah dibedakan, terusss… maksud kamu apa Bim?” tanyaku tak sabar.

“Begini Di, setelah mendengar penjelasanmu tadi tentang tidak bahagianya kamu dengan istrimu, dan demi meyelamatkan rumah tangga kalian maka aku berfikir bagaimana kalau sementara waktu kita saling bertukar posisi, kamu di posisiku dan aku menggantikan posisimu.”

“ Barter atau tukeran istri maksudmu Bim”? tanyaku kaget dengan mata melotot.

“Bukan sekedar istri namun juga barter seluruh kesehariannya, keluarga dan pekerjaan Di, cukup satu minggu saja dan ada satu syarat yang tidak boleh kita langgar”?

“Syarat apa tuh, Bim”?

“Kamu berjanji tidak menggauli istriku Rosa Di, dan sebaliknya aku juga tidak berhubungan intim dengan istrimu Yuni, bagaimana?”

“Baiklah Bim kalau itu aku pasti setuju, tapi kalau boleh tahu apa alasanmu merelakan aku menikmati berada dalam posisimu meski cuma sementara”

“Seperti yang aku utarakan tadi Di, kulakukan ini untuk menyelamatkan kehidupan rumah tangga kalian, dari pada kamu terjerumus ke hal-hal yang tidak benar seperti teman-temanmu, disamping itu aku juga ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku pun memiliki permasalahan dengan istriku, setiap rumah tangga pasti ada problem, yang terpenting bagaimana kita menyikapinya”

“Baik lah mulai kapan kita mulai permainan ini Bim ??”

“Sekarang saja mumpung kita bisa bertemu Di.”

Maka setelah kami saling bertukar informasi tentang situasi rumah, istri, anak-anak, pekerjaan dan lain-lain maka mulailah kami bertukar pakaian, HP dan kendaraan untuk melanjutkan keidupan sandiwara kami.Kupacu mobil Bimo menuju rumahnya yang sementara waktu akan jadi rumahku. Ada perasaan bimbang juga bagaimana bila Rosa, atau Farhan anaknya Bimo mengenaliku bukan Bimo.

Sesampainya di rumah, yang membukakan pintu bukanlah Rosa melainkan Mbok Rusti pembantu setia keluarga Bimo.

Dalam foto-foto yang dipajang di dinding nampak wajah cantik Rosa, hmm aku pasti bahagia seminggu ini menggantikan Bimo.

“Ibu belum pulang pak, bapak mau minum teh atau kopi? Makanan sudah mbok siapkan di meja makan” kata mbok Rusti.

Lega juga akhirnya ternyata mbok Rusti mengira aku Bimo

“Baik mbok, makasih,”

Belum sempat aku membuka sepatu, Farhan keponakanku, anak Bimo satu-satunya langsung menarik tanganku.

“Pa temenin Farhan maen bola ya.. trus maen kuda-kudaan”

“Sudah malam Farhan, papa capek besok saja ya?”

“Nggak mau, pokoknya papa harus temenin maen, kalau tidak Farhan nggak mau tidur malam”.

Dengan sangat terpaksa aku menemanin keponakanku itu bermain sepuasnya. Bayangan Yuni tiba-tiba muncul di benakku. Betapa capeknya dia selama ini mengurus ketiga orang anakku, dia melakukannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Selesai bermain, aku masih harus menunggu sampai Farhan sampai tertidur dan aku baru bisa mandi. Tidak ada lagi Yuni yang menyiapkan handuk dan baju gantiku, aku sekarang melakukannya sendiri.

Selesai mandi aku menonton TV sambil menunggu kedatangan Rosa.

“Bapak nggak makan, pak?” sapa mbok Rusti.

“Nanti saja mbok nunggu ibu datang”

“Sebaiknya bapak makan duluan, ibu kan biasa pulang hampir tengah malam, bapak bisa kena sakit magg kalau menunggu ibu pulang” saran mbok Rusti kepadaku.

Benar juga sampai jam 22.00 Rosa belum juga pulang, akhirnya kusantap juga makanan yang sudah disiapkan mbok Surti sejak tadi, rasanya hambar dan dingin sangat berbeda dengan masakan Yuni istriku. Istriku pinter masak dan bikin kue, di hari libur pasti disempatkannya membuat sendiri kue-kue yang lezat.

Akhirnya aku tertidur juga, karena seharian capek kerja ditambah lagi menemani Farhan main kuda-kudaan. Aku terbangun dari tidurku karena merasa kedinginan, hmm pastes ternyata aku lupa tidak memakai selimut, biasanya istriku Heny yang memakaikan selimut jika aku lupa memakainya.

Kulihat disampingku tertidur seorang wanita bergaun tidur putih… Ahh hampir saja aku berteriak ketakutan,kupikir penampakan disampingku sejenis makhluk halus. Bergaun putih, muka pucat putih kaya topeng. Benar-benar membuatku terkejut.

Ternyata setelah kuperhatikan lebih dekat dia adalah Rosa. Tidurnya terlentang seperti mayat, muka pakai masker krim yang tebalnya 1 cm ditambah irisan mentimun di matanya.

Hmm… akhirnya kulanjutkan tidur juga, dalam hati aku berpikir apa enaknya Bimo punya istri cantik dan seksi namun tidurnya tidak lebih dari mayat begini, masih mending Yuni istriku yang dengan lembut dan penuh kasih sayang memperlakukan aku di atas ranjang.


Bangun tidur tidak kulihat Rosa disampingku. Mungkin dia sedang mandi, kudengar bunyi gemericik shower di kamar mandi yang ada di kamar. Segera saja aku menuju kamar mandi bawah untuk mandi. Setelah mandi aku masuk kamar dan kulihat Rosa sedang berdandan untuk ke kantor.

“Pa… sarapan sama Farhan ya, mama ada meeting pagi-pagi, nggak sempet sarapan. Oh ya pa, mulai nanti malam mama ada dinas luar kota selama 1 minggu, baik-baik ya di rumah “

Aku pun mengangguk serta beranjak turun untuk sarapan. Saat sedang menyantap sarapan, Rosa keluar dari kamar menuruni anak tangga, tampilannya sangat cantik, seksi dan wangi.

”Berangkat dulu ya pa, Farhan jangan nakal ya, mbok jaga rumah baik-baik !!” sambil menciumku ia beranjak menuju mobil meninggalkan bekas lipstick di pipiku.

Ternyata kecantikan dan keseksiannya hanya untuk orang lain bahkan suaminya pun tidak ada waktu untuk menikmatinya. Malang sekali nasibmu Bimo kakakku…

Sesampainya di kantor pertama kali yang kulakukan adalah menelpon Bimo saudara kembarku.

“Bim, tidak perlu menunggu sampai seminggu, barter ini selesai di sini saja ya. Aku tidak kuat” kataku pada Bimo.

“Hahaha… sudah kuduga kamu pasti akan menyerah Di, ok lah kita bertemu siang ini di kantin biasanya”,
Aku dengar gelak tawa Bimo di ujung telepon sana.

Sesampainya di rumah, seperti biasa dengan senyum indahnya, Yuni menyambut kedatanganku. Melepas sepatuku, kaus kakiku, dan menyiapkan air hangat untuk mandiku serta menemaniku makan malam. Masakan istriku yang masih hangat terasa begitu nikmat di lidahku. Meski baru sehari aku tidak merasakannya, serasa setahun aku tidak menikmati masakan lezat itu.

Ku lihat bola matanya lebih dalam, kulihat sorot mata kelelahan. Istriku ternyata begitu berat pekerjaanmu di rumah selama ini. Merawat ketiga anakku ditambah aku yang seolah-olah menjadi anak keempatmu yang masih serba dilayani sehingga tidak ada waktu untuk sekedar merawat tubuhmu.

Saat selesai shalat isya berjamaah dengan istriku, seperti biasa ia meraih tanganku untuk diciumnya dengan mesra. Ohh.. kurasakan tangan yang dulu begitu halus kini telah berubah sedemikian kasar, dan kurus, pastilah karena kerja kerasnya di rumah selama ini.

Kucium tangan suci ini, bagiku ini adalah tangan suci kedua setelah ibuku. Maafkan aku istriku, anak-anakku, aku selama ini hanya bisa menuntut ini dan itu bahkan begitu pengecut untuk sekedar mengutarakan uneg-unegku. Selalu membanding-bandingkanmu dengan wanita lain. Suami macam apa aku ini, yang hanya tahu mencari uang tanpa memikirkan keluarga.

Sebelum tidur, aku dan Yuni berdikusi banyak hal. Aku menyampaikan keluhanku padanya dengan cara yang halus tanpa menyinggung perasaannya. Setengah merayu dan memuji kukatakan padanya bahwa aku ingin melihat dan menikmati tubuh indahnya, dengan memberikan sebuah hadiah yang kubeli sepulang dari kantor tadi,

” Dek, aku punya hadiah untuk mu” kataku sambil menyodorkan bungkusan kado berwana biru. Warna kesukaan Yuni.

Dengan terkejut dan mata berbinar-binar Yuni membuka kadonya

” Wah, surprise nih mas. Boleh aku buka sekarang? ” tanyanya tak sabar.

” Ya, semoga dek Yuni suka dan mau memakainya malam ini ” kataku sambil mengedipkan mata.

Dengan terburu-buru Yuni membuka. Roman muka yang begitu gembira ketika Yuni melihat Adi membelikan setengah lusin Lingerie seksi pengganti daster batiknya yang lusuh. Yuni memeluk Adi dengan malu-malu dan berkata,

“Terima kasih mas, aku pasti pakai malam ini “

Aku juga menyarankan kepada Yuni untuk mengambil seorang pembantu rumah tangga dari sebuah yayasan. Tujuanku agar Yuni tidak terlalu kelelahan dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak kami. Sehingga Yuni masih mempunyai waktu luang untuk merawat diri, kesalon, berolah raga dan membaca buku kegemarannya.

Yuni sangat gembira sekali. Dan permasalahan dikelurga kami telah tersolusikan.

“I Love you, Yuni!” Kataku sambil memeluknya

“Terima kasih sudah menemani dan mengurus aku dan anak-anak selama ini”,

Ku kecup keningnya dan tidak terasa meleleh air mataku, telah kutemukan apa yang selama ini aku cari-cari.

Merasa tertipu dengan judulnya ? ?? Hubungi klinik terdekat hahaha

Mencintai Kakak Ipar

Cerita ini adalah kisah nyata hidupku yang tega mengkhianati saudara sendiri. Pengalaman seru bersama kakak ipar membuatku lupa bahwa dia adalah suami kakakku yang telah membiayai diriku sampai dewasa. Kini yang tersisa adalah penyesalan meskipun godaan dari kak Dody selalu membuat imanku goyah.

Cerita kakak ipar
Aku menemukan situs ceritacurhat.com secara tidak sengaja ketika sedang mencari-cari informasi lowongan pekerjaan. Kupikir ini adalah situs cerita dewasa ternyata setelah kubaca enak juga, isinya curhatan semua. Dan akupun berpikir untuk menulis sedikit kegundahan hatiku disini.
Aku tahu, masalahku bermula dari kondisi ekonomiku yang sangat pas-pasan yang membuatku numpang tinggal di rumah kak Dewi untuk menghemat pengeluaran. Dan tanpa aku sadari, keputusanku ini adalah awal cerita dari rentetan kisah hidupku yang begitu kubenci tapi tak bisa kutinggalkan.
Ceritaku bermula ketika aku memutuskan tinggal di rumah kak Dewi yang berada di tengah kota. Sejak melahirkan bayinya yang pertama, kak Dewi kewalahan mengatur waktunya antara suami, anak, rumah dan pekerjaannya di kantor.
Aku yang saat itu masih berstatus sarjana muda tidak berpikiran untuk mencari pekerjaan, waktu itu kupikir mencari uang adalah kewajiban suami dan tugas istri adalah menjaga rumah dan mendidik anak. Keinginanku untuk ikut kak Dewi diterima baik olehnya dan kak Dody, suaminya. Hitung-hitung aku mengisi waktu daripada di rumah saja tidak ada kegiatan. Aku pikir aku sudah dewasa jadi bisa menentukan hidupku sendiri, lagian tentu menyenangkan bisa bermain-main dengan kemenakan yang lagi lucu-lucunya.
Teman-temanku menyebutku cantik dan mudah bergaul, itulah mungkin yang membuatku cepat akrab dengan orang disekitar, kemenakan dan suami kakakku juga akrab denganku. Aku tidak terburu-buru ingin menikah sebab selama ini pria-pria yang kukenal selalu minta yang aneh-aneh. Aku wanita normal dan sudah dewasa, tentu saja butuh seks tapi aku tidak pernah memiliki niat melakukannya dengan pria yang bukan suamiku. Meski banyak teman yang bercerita aktifitas seks mereka tapi tidak membuatku tertarik melakukannya.
Aku senang di rumah Kak Dewi, suaminya juga tidak membatasi gerakku, bahkan kak Dody sering memberiku uang untuk keperluan pribadiku, aku jadi tambah semangat di rumah mereka. Di rumah kak Dewi semua fasilitas lengkap dan bisa kugunakan, bahkan aku diajar mengendarai mobil oleh kak Dody, katanya supaya aku bisa ke supermarket untuk belanja sendiri. Jika kak Dewi dan suaminya ke kantor, akulah yang menguasai rumah, aku bisa nonton dvd atau makan sepuasnya, yang penting aku bisa menjaga kemenakanku dan kebersihan rumah.
Pekerjaanku bisa dikatakan mudah sebab aku sudah terbiasa di rumahku yang dulu, sejak kecil sampai dewasa aku memang dididik untuk disiplin bekerja. Menjaga anak kecil usia dua tahun paling cuma menyiapkan susu dan makanan, atau kalau menangis cukup digendong atau di ayun. Yang paling berat adalah menyiapkan makanan untuk kak Dewi dan suaminya. Aku tahu mereka pasti lapar sepulang kerja, jadi sebisa mungkin segala tetek bengek makanan sudah harus selesai sejak maghrib.
Aku juga diberi uang bulanan yang cukup, bukan hanya oleh kak Dewi tapi juga kak Dody, mereka memang pasangan yang sangat baik. Jumlahnya lumayan untuk beli baju dan kosmetik. Mereka bahkan bilang kalau aku boleh tetap tinggal di rumah mereka meskipun nanti aku sudah menikah. Rumah kak Dewi memang sangat luas dan sangat bisa ditinggali oleh dua keluarga. Kamarnya saja ada tujuh buah, ditambah ruang tamu dan keluarga yang lumayan besar membuat rumah terasa sepi jika hanya mereka yang tinggali.
Bencana menimpaku saat aku memasuki bulan ke sepuluh di rumah kak Dewi. Saat itu suami kak Dewi kecelakaan, pembaca yang di Jakarta pasti tahu kecelakaan yang dialami kak Dody karena beritanya sangat luas waktu itu. Luka kak Dody termasuk parah karena kakinya patah sehingga dia harus istirahat total di rumah selama tiga bulan. Karena kak Dewi bekerja, maka akulah yang melayani kak Dody di siang hari. Semua kebutuhan kak Dody aku siapkan mulai dari makan, minum sampai mengantarnya ke toilet untuk buang air kecil. Kak Dewi memang wanita karir, ia baru tiba di rumah setelah malam tiba, bahkan terkadang sampai pagi.
Dari keseringan menemani kak Dody aku merasa ada yang aneh, diam-diam kak Dody selalu memperhatikanku dengan seksama, caranya memandang tidak seperti biasanya, aku bahkan tahu dia sedang menatap bokongku jika aku membelakanginya. Aku sadari itu tapi aku berusaha menyembunyikannya dan bertindak biasa saja. Lama kelamaan kak Dody semakin berani, secara sengaja dia sering memegang tanganku atau bahkan merayuku. Aku hanya diam dan berusaha menghindar, aku selalu ingat kak Dewi dan kupikir itu cuma gurauan kak Dody semata.
Hingga suatu siang, ketika aku terlelap di kamarku, aku merasa ada beban yang sangat berat menindih tubuhku. Aku kaget dan berusaha melepaskan diri, tapi semakin aku bergerak semakin sulit aku bergerak, bahkan pakaianku bagian bawah sudah lepas tanpa aku sadari. Tidak kuasa aku melawan dan akhirnya mas Dody….
Itulah awal petualangan seru yang kualami bersama mas Dody, kakak iparku sendiri. Hubungan terlarang itu masih sering kujalani bersamanya sampai sekarang, tidak ada lagi keinginan berontak seperti dulu, aku lupa kalau kak Dody adalah kakak iparku. Kami melakukan hubungan dewasa itu seperti tak ada batasnya. Jika mengingat kak Dewi aku menangis dan meraung, aku merasa berdosa. Aku menangis setiap malam, memohon ampun dan memohon diberi kekuatan untuk bisa melepaskan diri dari kak Dody.
Sekarang aku berusaha sekuat tenaga menghindari kakak iparku, meskipun godaan seksual darinya sangat kuat, aku harus bisa meninggalkan kak Dody demi kebahagiaan kakakku. Semoga aku diberi kekuatan dan kepada pembaca ceritacurhat.com aku ucapkan terimakasih telah membaca cerita ini. Aku mohon doa dan masukan dari semua rekan pembaca.
***

CHAPTER XI MY HANDSOME STRANGER

Pagi hari itu, aku terbangun karena mendengar kesibukan di luar kamarku. Kulihat langit masih gelap, matahari belum terbit dan jam menunjukkan pukul 5.15 wita tapi rasanya begitu banyak orang yang telah memulai aktivitas. Ku paksa tubuhku bangun dan menghampiri jendela yang mengarah ke teras dan jalan kecil diluar. Kulihat beberapa pria dan wanita bule itu berjalan keluar dari kamarnya masing-masing menenteng papan surf.

Barulah aku sadar, kawasan ini memang terkenal sebagai spot untuk surfing dan sepertinya mereka bangun pagi-pagi untuk mengejar ombak. Merasa lebih tenang karena tahu alasan kesibukkan itu aku pun kembali ke dalam selimut dan meneruskan tidurku. Bertekad tidur beberapa jam lagi sebelum mulai beraktivitas.

Matahari sudah keluar dari peraduannya ketika aku bangun untuk kedua kalinya, matahari disini datang lebih lama daripada di rumah. Jam di meja menunjukkan pukul 8.30 wita tapi rasanya mendung membuat pagi ini lebih dingin. Setelah mandi pagi dan berdandan tipis, aku keluar kamar dan menuju restoran untuk makan pagi.

Sudah cukup banyak tamu yang berada disana, menghadapi laptop, notebook dan berpiring-piring makanan. Tanpa menunggu lama sepiring pancake hangat dan susu panas sudah tersaji di mejaku bersama sepiring buah-buahan. Aku sarapan dengan lambat sambil memperhatikan daftar acara untuk tur hari ini. Aku memang sudah memesan mobil hotel untuk mengantarkanku melakukan tur seharian ini di kawasan dekat hotel.

Aku bisa melihat jadwal hari ini yang cukup padat dan bisa kulihat ada banyak tujuan wisata yang bisa aku lihat. Setelah piring-piring sarapanku diangkat, Cok memperkenalkan seorang pria muda yang akan membawaku berkeliling naik mobil. Tanpa menunggu lama aku dan Mas Fandi nama sopirku hari ini pun meluncur keluar hotel memulai tur.

*&^%$

Sore hari menjelang makan malam, aku sudah sampai di hotel. Lelah namun sangat bersemangat karena sudah berjalan-jalan melihat tempat-tempat yang indah dan menyenangkan. Sebelum makan malam aku ingin sejenak merebahkan diri di tempat tidur untuk meluruskan punggung, namun ketika terbangun ternyata waktu sudah larut malam.

Yakin restoran akan sudah sepi di jam seperti itu, aku memutuskan untuk tidak makan malam disana. Aku ingat Cok pernah bilang kalau di bagian belakang hotel ini ada kolam renang kecil untuk tamu. Aku meminta room service untuk mengirimkan spaghetti dan jus buah ke samping kolam renang. Kupikir cukup menyenangkan untuk makan malam di bawah bulan dan bintang-bintang.

Aku hanya mengenakan celana pendek katun dan kaos longgar dibalut jaket hoodie warna merah untuk menghalau dingin dan segera menuju kolam. Areal kolam renangnya ada di tengah-tengah cottage di bagian belakang hotel. Bagian ini hampir bisa dibilang kosong, karena kulihat hanya beberapa kamar di bagian ini yang dihuni, dilihat dari papan surfing yang tergeletak di depan kamar dan pakaian atau handuk yang dijemur di depannya. Namun kamar-kamar itu kosong tak berpenghuni, mungkin karena pemilik kamarnya masih ada di luar hotel, sedang bersenang-senang di café dan restoran di pinggir pantai.

Makananku sampai dan aku pun menghabiskannya dalam waktu yang cukup singkat. Sebelumnya aku tak merasa lapar, tapi begitu melihat makanan di depan mata. Rasanya aku cukup kelaparan. Kenyang dengan makan malam yang lezat itu, aku merebahkan tubuh di kursi pantai dan memejamkan mata, mendengarkan suara daun nyiur yang tertiup angin di atas sana.

Tiba-tiba saja, aku ingin berenang. Hawa malam itu cukup hangat, hingga membuatku melepaskan jaketku yang kini tergeletak di meja. Air kolam mengundangku untuk masuk kedalamnya. Kulihat kanan kiri, tak ada satu orang pun disana, bahkan tak ada pegawai hotel yang berkeliaran. Saat itu aku tidak menggunakan pakaian renang dan aku tak mau kaos kesayanganku basah, merasa sendirian dan sedikit gila, aku melepas kaos dan celana pendekku lalu melipatnya rapi di kursi.

Dengan sekali lompatan aku terjun dengan mulus ke dalam air kolam. Airnya tidak begitu dingin dan terasa menyegarkan di malam yang hangat. Berenang dari satu ujung ke ujung yang lain dengan gerakan sehalus mungkin karena tak ingin membuat orang mendengar kecipak air dan mendatangiku.

Setelah beberapa saat berenang bolak-balik, tiba-tiba aku dengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali dari salah satu pintu kamar gelap itu. Merasa sedikit takut aku berenang ke tepid an menyembunyikan tubuhku yang hanya berbalut bra dan cd ke dalam air yang aku yakin tidak banyak membantu. Sosok seorang pria jangkung keluar dari kegelapan teras ke cahaya lampu taman.

“Helloo… Good nite!”

“Good nite!”

“May I join you?” tanyanya, melihat aku hanya diam didalam air, dia melanjutkan, “No… Im not going to swim, I just going to sit here and do what I have to do!”

Kulihat dia duduk di kursi pantai di sisi lain kolam tempatku berdiri saat itu dan mengeluarkan sebuah gadget dari sakunya, memasang earphone dan mengutak-atik smartphonenya. Merasa jengah dengan keadaanku yang setengah telanjang, aku menunggu sampai dia benar-benar berkonsentrasi dengan gadget di tangannya sebelum aku keluar dari kolam membelakangi dia, mengenakan jaketku dan meraih barang-barangku kemudian pergi meninggalkannya.

Aku sudah hampir melupakan kejadian memalukan itu saat aku tidur malam itu, namun tubuh dan ingatanku ternyata masih mengingat hal itu dan membuat aku tidur gelisah semalaman karena bayangan pria misterius itu.

Pagi harinya aku terbangun dengan rasa frustasi karena mimpi erotis yang melibatkan pantai, pria jangkung dan matahari. Aku memaksakan diri untuk mandi dan berdandan karena aku sudah ada janji dengan Mas Fandi yang akan membawaku berjalan-jalan. Yakin suasana liburan akan membuatku semangat kembali, aku keluar membawa tas kecil berisikan perlengkapan liburanku dan berjalan menuju restoran untuk sarapan.

Menghadapi sandwich dan segelas jus melon, aku masih saja mengingat-ingat sosok misterius pria semalam. Dia jangkung dan berperawakan sedang, tidak terlihat lebih tua dari 30 tahun. Dari aksennya jelas sekali dia bule. Rambutnya pendek namun sedikit panjang dan ikal di bagian depan, walau aku tak yakin apa warna rambut dan matanya.

Ingatan itu membuatku bernapas panjang, dengan sekali usaha aku mendorong ingatan dan bayangan itu ke belakang kepalaku dan melahap sisa sandwich di piringku. Ketika aku berdiri dari mejaku, kulihat Mas Fandi memasuki restoran untuk memanggilku.

“Pagi Mas… Aku sudah siap!”

“Oh iya Mbak… Hari ini kita gak Cuma berdua… Ada tamu hotel yang juga ingin bergabung dengan tur kita hari ini…”

“Oh ya?”

“Iya… Dia tertarik untuk ikut tur ke pura jadi saya mempersilahkan dia untuk bergabung!”

“Boleh aja, Mas! Biar gak sepi juga di perjalanan ya?! Mereka udah siap?”

“Uh… Kayaknya sih dia udah siap… Bentar ya! Aku mau panggil dia di kamarnya. Mbak Nina masuk aja dulu ke mobil, pendinginnya udah aku nyalain kok!”

“Oke!” setelah menyerahkan kunci kamar pada Cok untuk dibersihkan aku pun naik ke dalam mobil hotel dan duduk manis sambil menyalakan audio system.

Sedang asyik memakai sunblock untuk kulit, aku dikejutkan dengan pintu mobil yang tiba-tiba terbuka dan disana wujud kasat mata khayalanku muncul. Berdiri tegak dengan senyum cemerlang menghiasi wajahnya.

“Good morning!”

“Morning…”

Tanpa permisi dia menyelinap masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku, memenuhi sisa ruang yang ada di dalam mobil. Seketika itu juga rasanya aku akan terkena serangan asma. Apa yang dia lakukan disini. Apa mungkin yang dibilang Fandi adalah orang ini?

Aku menoleh ke arahnya dan melihat dia tersenyum aku memaksakan sebuah senyuman di wajahku. Mati aku.

“Okey… are you ready? We are going now…”

“Yes… of course!” sahutnya ceria.

Tur hari ini adalah hasil perencanaanku dan Fandi, aku meminta untuk diantar ke daerah Pura karena aku suka dengan suasana dan arsitektur Pura-Pura di Bali. Agak jauh dari kawasan kami berada sekarang namun tak mengapa. Tak kusangkan bule ini akan bergabung karena setahuku orang-orang luar ini jarang sekali tertarik dengan hal seperti itu. Biasanya yang mereka tahu hanya pantai… pantai dan pantai.

“Mbak Nina… perkenalkan Bule ini namanya Rolland Jefferson… Dia bule Amerika. Tinggal di hotel kita juga, di deket kolam renang sana kamarnya!” lalu dia melanjutkan lagi, “Mr Jefferson, this young girl is Miss Nina Almeira. She is our only domestic tourist, so she is a special guest!”

“Haha… yeah special… She is special, Fandi!” jawabnya sambil tersenyum padaku, “So… Please don’t be upset on me… I didn’t mean to interrupt your vacation here…”

“No I didn’t think about that… It’s a hotel tour so you have the same right to be here as I have…”

“Yes, of course! So I hope we could enjoy the tour together for the rest of the day!”

“Same here, Mr Jefferson!”

Sisa hari itu kurasakan sangat sulit menolak pesona Jeff. Dia lucu, menyenangkan, tingkahnya menggemaskan. Dia selalu berada di sekitarku ketika kami berkunjung ke pura. Memberi komentar cerdas dan lucu. Bahkan karena sikapnya itu dia berhasil mendapatkan souvenir dari salah satu pengunjung Pura berapa udheng… Ikat kepala yang dipakai umat Hindhu untuk bersembahyang di Pura. Jadilah sepanjang sisa hari itu dia berkeliaran dengan udheng warna biru emas di kepalanya.

Di penghujung hari, jarak diantara kami sudah hampir hilang karena kepintarannya mencairkan suasana. Setelah tujuan terakhir hari itu, kami masuk ke dalam mobil dengan puas dan lelah. Tinggal perjalanan 2jam lebih untuk sampai kembali ke hotel dan beristirahat.

“What time will we arrive at hotel, Fandi?”

“About 8pm Miss!”

“Okey… Lets go home now…”

“Are you tired?”

“Just a Little!” jawabku lalu menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata, merasakan mobil kami mulai meluncur ke jalan.

Aku tidak tertidur, aku hanya memejamkan mata dan merelakskan badan jadi aku bisa merasakan semua yang terjadi saat Jeff menyelipkan lengannya di lekuk leherku dan kemudian menarikku mendekat padanya. Dia menyandarkan kepalaku dibahunya. Mungkin dia bermaksud untuk membuatku lebih nyaman, namun hal itu justru membuat tubuhku mengantisipasi sentuhannya.

Remasan kecilnya di bahuku, wangi tubuhnya, betapa menyenangkannya ada di pelukan seorang pria seperti dia. Aku mencoba untuk menjadi lebih nyaman, sangat berusaha, hingga akhirnya aku benar-benar terlelap.

“Nina… we are here…”

“Where?”

“Hotel…” aku menggeliat perlahan dan merasakan posisiku sudah jauh berubah, kini aku berbaring di dalam mobil dengan kepalaku ada di pangkuan Jefferson, lalu dia melanjutkan, “I could take you to your room now, in my arms, but I am afraid that it’ll make some misunderstanding to the other staff!”

“You don’t have to…”

“I don’t have to…” ujarnya setuju, “But I want to…”

Aku bangun dan meraih tasku, lalu keluar dari mobil dan berdiri. Kulihat Cok menyambut kedatangan kami di depan restoran.

“Mbak Nina… gimana jalan-jalannya? Mau langsung makan di restoran atau mau bersih-bersih dulu?”

“Rasanya aku minta makanan dianter ke kamar aja ya Cok! Aku pingin mandi dulu, tapi rasanya malas balik ke restoran!”

“Okey mbak. Nanti kita antar ke kamar, ini kuncinya, kamar sudah dibersihkan!”

“Makasih!” sahutku pada Cok dengan senyum lelah, “Thank you for today, mr Jefferson!”

“Its my pleasure Nina!”

Meninggalkan 3 orang pria itu, aku berjalan menuju kamarku sendiri.

Setelah mandi dan berganti baju aku membuka pintu teras dan menemukan nampan makan malam yang aku pesan. Di dalamnya, Cok menyiapkan makanan khas Lombok Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung yang sempat aku bilang padanya ingin aku rasakan. Aku membawa nampan itu masuk dan makan malam sendirian di dalam kamar.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11wita. Aku sudah selesai makan malam dari sejam yang lalu, kemudian memutuskan untuk membaca novel yang aku bawa sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Mungkin dikarenakan aku tadi tidur di dalam mobil, jadi sekarang energiku masih belum habis.

Aku berpikir bagaimana caranya menghabiskan sisa tenaga ini karena aku ingin sekali tidur dan bangun lebih awal besok untuk melihat sunrise di pantai. Aku memutuskan untuk berenang di kolam renang belakang. Entah karena lupa atau memang aku sengaja, aku tak memakai baju renang di balik bajuku. Aku hanya membawa handuk hotel dan jaket.

Keadaan hotel masih cukup sepi karena jam 11 biasanya acara-acara di café baru saja dimulai. Sepanjang perjalanan ke belakang aku melihat banyak yang tinggal di dalam kamar atau duduk-duduk diteras, namun begitu memasuki halaman belakang, kamar-kamar itu masih gelap, seperti malam sebelumnya.

Ketika aku berbelok kea rah kolam renang bisa kulihat aku tidak sendirian. Di sana seorang pria berbaring di kursi pantai sambil membaca buku. Dia hanya memakai celana boxer, kaos putihnya di gantungkan di sandaran kursi. Dia terlihat sama terkejutnya denganku.

Pandangan matanya seolah bertanya apa yang aku lakukan disana. Jika aku berbalik sekarang dan membatalkan rencanaku untuk berenang, itu berarti aku pengecut, namun jika aku tetap melanjutkan rencanaku maka bisa dibilang aku memberikannya undangan yang cukup nyata.

Alih-alih berbalik arah, aku berjalan maju mendekati kursi pantai yang aku duduki semalam, meletakkan handuk hotel dan jaketku di meja. Berdiri menghadap ke dirinya aku bisa melihat dia tidak sesantai yang ingin dia tunjukkan. Perlahan aku melepas kaos dan celana pendekku, lalu lompat ke dalam air dan meluncur ke arahnya.

“Hello… good nite Jeff!” sapaku dari dalam kolam,

“Good nite Nina… What are you doing?” tanyanya padaku,

“Swimming…”

“In the middle of the nite?”

“Yes… And what are you doing?” tanyaku padanya yang masih tak beranjak dari kursinya,

“Reading a novel!” katanya, “And waiting for you, I suppose!” tambahnya jujur sambil mengacak-acak rambut ikalnya,

“Really, so you are sure that I’ll be coming here?”

“Not really but I am willing to bet on it!”

“Then u’ve win!” kataku sambil berseru dan dengan sekali sentak meluncur menjauh dalam gaya punggung dengan perlahan,

“Yes… I guess… but now I am doubting myself. Could it be better if I lose?”

“I don’t know about that…” kataku sambil terkikik geli.

Dia membiarkanku berenang di kolam dan dia masih berbaring disana, namun novelnya sudah tertutup di meja. Dia terlihat cukup santai untukku kecuali ketegangan kecil yang mulai terbentuk di bagian bawah tubuhnya. Mau tak mau aku memperhatikan gundukan di celananya yang semakin membesar dan dia memastikan aku melihat itu.

Air kolam cukup dingin, namun rasanya tubuhku menghangat.

“Arent you going to swim?”

“Im afraid that you’ll run again if I do that!”

“No I won’t… I just surprised yesterday because a stranger see me half naked!”

“So am I not a stranger tonite?”

“Well… you are… But I didn’t think you are strange so…”

Dia masuk ke dalam kolam dengan perlahan, menciptakan hanya sedikit riak pada permukaannya, namun menciptakan gelombang pasang dalam tubuhku. Aku tahu apa yang akan datang, aku menanti-nantikannya. Kami berjarak tak lebih dari 3 meter dengan beberapa langkah atau ayunan lengan, aku bisa menyentuhnya, namun kami tetap berdiri disana dan saling memandang.

Dia tidak berusaha mendekat, mungkin membiarkan aku yang memulai. Jadi aku pun melangkah perlahan, membangun suasana diantara kami. Ketika aku sudah berjarak 1 lengan, dia meraih tanganku dengan tangannya dan meletakkannya di dadanya.

Tangannya yang lain meraih tubuhku dan meniadakan jarak diantara kami. Kulit menyentuh kulit. Panas bertemu panas. Seolah mencoba-coba dia mendekatkan wajahnya dan kemudian menyentuh bibirku dengan bibirnya ringan menyapu, menjilat, menghisap, mengulum lalu dia melepaskannya.

“Arent you going to runaway?”

“No, I wont!”

“Good!”

Sekali lagi dia menciumku, kali ini lebih dalam, dirapatkannya tubuh kami, kejantanannya menekan perutku dan ciumannya membuat kakiku lemas kehilangan tenaga.

“Arent you cold?”

“A little…”

Dia mengajakku naik keluar dari kolam renang. Diambilnya handuknya sendiri dan dililitkannya di tubuhku, sedangkan dia mengambil handukku untuk dirinya. Kemudian dia duduk di sebelahku dan merangkulku dari belakang, dia berbaring di kursi santai dan membawaku dalam pelukannya.

“I heard from the staff that youre here alone? Why? Broken heart trip?”

“No… My friend cancel the trip in a last minute, but I already got my permit so I go anyway…”

“Its so brave of you to make a trip by yourself!”

“I am a grown up… I could responsible for myself, thank you!”

“I could see that!” katanya sambil mengecup pipiku dengan lembut, “Nina… There is something I want to ask from you and it might makes you looks like a careless girl!”

“What is it?” tanyaku sambil melepaskan pelukannya dan berbalik menghadapi Jeff,

“I want to make love to you!” katanya masih menatapku dengan pandangan serius,

“Are you always this serious?”

“Yes, if I talks about this kind of things!” katanya lagi, “I know you might find this ridiculous but I mean it! I would like to take you in my arms now and lock you up in my room, but…”

“But…” sahutku menunggu dia melanjutkan kalimatnya yang terpotong,

“I’m staying with my friends here and I dont want them to caught us together. They will deffinitely snatch you away from me if they know you!”

“Hmmm… I dont think today is the best time to do that…” kataku menjawab ajakannya dan bisa kulihat raut wajahnya kecewa, “Its not that I dont like you, its just that I am so tired tonight. Maybe you should try to ask me again tomorrow!”

Pelukannya telah terlepas sepenuhnya dan dia masih tampak bingung dengan penolakanku. Akupun berdiri dan meraih celana dan jaket yang tadi aku letakkan di meja.

“I think, I gotta go now… Good nite Jeff!” saat aku hendak berjalan kembali ke kamarku, tiba-tiba tanganku diraih dan ditariknya aku dalam rengkuhannya yang terasa lembut, tidak cukup keras untuk menjagaku tetap disana jika memang aku bermaksud melarikan diri, namun aku tak ingin melarikan diri.

Kunikmati rasa bibir dan lidahnya di mulutku, bau kaporit dari air kolam yang mengering di kulit kami dan sentuhan tangannya yang menggantikan angin hangat malam itu. Jeff mengakhiri ciuman itu dengan enggan dan kemudian menumpaskannya dengan sebuah kecupan di dahiku.

“Good nite, Nina! I’ll see you tomorrow!”
6 Mei 2014   
CHAPTER XI MY HANDSOME STRANGER bagian a
Posted in nina_almeira chap 11    ¶ Tagged bule, cerita, cerita seru, jeff, kolam renang, nina, sex, surfing, warga negara asing    ¶ Tinggalkan komentar

Duduk di dalam pesawat, memandang keluar melalui jendela kecil dan menatap lautan awan diluar sana adalah sesuatu yang cukup spektakuler untukku. Mengingat betapa sungguh-sungguhnya gadis itu meminta maaf karena harus membatalkan perjalanan bersama kami demi seorang pria kaya yang sedang dikencaninya membuatku tersenyum. Harusnya aku dan Lulu akan menghabiskan satu minggu di Pulau Lombok hanya kami berdua dan bersenang-senang bersama.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan cuti yang sudah terlanjur aku ajukan, aku pun memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa Lulu. Bahkan saat ini pun aku tidak merasa menyesal sama sekali. Aku akan bersenang-senang walaupun aku hanya sendiri and who knows ada seseorang yang aku temukan disana.

Sesampainya di bandara Praya aku langsung menuju ke area bagasi untuk mengambil koperku dan berjalan perlahan menuju gate kedatangan dimana aku sudah berjanji dengan salah satu pegawai hotel tempatku menginap. Label namanya hanya menyebutkan satu kata “Cok” jadilah aku memanggilnya Cok. Cok mengajakku segera kembali ke hotel karena waktu sudah hampir menunjukkan jam 7 wita ketika kami bertemu. Dia tak ingin aku terlambat makan malam.

“Bagaimana occupancy hotel untuk hari ini COk?”

“Baik, Mbak Nin… 70% kamar kami penuh. Tapi nanti jangan heran kalau tidak menemui tamu local sama sekali. Karena memang Mbak Nina satu-satunya tamu local untuk minggu ini. Semuanya bule!”

“Masa sih?”

“Iya mbak… Kita sudah siapkan kamar untuk Mbak seperti yang sudah dipesan. Tidak terlalu dekat dengan restoran karena mbak minta ketenangan dan tidak terlalu jauh di belakang karena mbak sedikit takut kalau sendirian…”

“Hahaha… Detail banget laporannya Cok?”

“Iya mbak… Habisnya tamu local satu-satunya… Jadinya ya gitu eye catching… Nanti begitu datang Cok antar ke kamar dulu naruh barang-barangnya setelah itu, Mbak Nina bisa makan malam di restoran. Nanti kalau ada apa-apa bisa minta ke temen-temen saya!”

“Sip deh!”

Perjalanan kami didominasi kegelapan dan hanya sesekali saja aku melihat cahaya pelita yang dinyalakan di dalam rumah, maklum daerah yang kami lewati memang termasuk daerah pedesaan walau listrik sudah masuk tapi masih banyak orang yang memakai pelita di rumahnya.

Akhirnya kami sampai di pelataran hotel tempatku menginap selama seminggu ini. Aku dapatkan rekomendasi hotel ini dari sebuah website wisata terkenal. Cukup murah namun bagus, fasilitasnya lengkap dan pemandangannya sangat indah. Cok memperlihatkan kamar yang aku tinggali dan memberikan tur singkat untuk areal hotel.



Setelah berganti pakaian dan menata barang-barangku, aku pun berjalan ke restoran di depan dan memesan makan malam ringan. Menunya cukup beragam dan rasanya pun lezat. Selama makan malam aku bisa mendengarkan deru ombak dari laut yang ada tepat di seberang hotelku. Aku menghabiskan makananku dengan lahap dan setelah selesai aku langsung berjalan ke luar area hotel menuju pantai.

Benar kata Cok, kawasan ini cukup ramai tapi tak ku lihat satu pun turis berkulit eksotis sepertiku. Kebanyakan dari mereka adalah wajah-wajah khas Lombok dan Indonesia timur yang memang bekerja di kawasan ini atau turis-turis Eropa yang berjalan berpasang-pasangan, berlalu lalang di sepanjang jalan yang temaram.

Langkahku ringan mengayun melewati hamparan pasir pantai ditengah kegelapan, tanpa penerangan lampu jalan. Hanya ditemani redup lampu yang berasal dari café-café pinggir pantai yang mengundang pejalan kaki untuk masuk sejenak dan duduk dibawah redup cahayanya. Namun tidak, aku terus berjalan di atas pasir pantai mendekati suara ombak yang kurindukan.

Aku selalu sangat mencintai laut. Aku suka ketika ombak menyapu kakiku, ketika pasir menyelip masuk ke sela jari kaki dengan lembut, aku suka rasa pasir basah di telapak kakiku, aku menyukai perasaan hangat dan nyaman ketika aku masuk ke laut dan berenang di dalamnya.

Ombak disini cukup tenang, walau dari suara gemuruh di kejauhan aku bisa melihat dengan mata batinku ombak besar bergulung-gulung di tengah laut. Aku duduk di atas pasir yang lembab, kupanjangkan kakiku hingga ombak perlahan menggapai dan membelaiku. Merasa sedikit lelah akupun membaringkan tubuhku diatas pasir, tak peduli bajuku akan basah dan lembab setelahnya. Aku hanya ingin sejenak memejamkan mata.

“Hei… Hei… Are you okey?” tanyanya dari atasku, mataku sulit terbuka, kurasakan bahan rokku melekat di pahaku dan bunyi berkecipak kecil tertangkap telingaku,

Ketika aku membuka mata, aku memandang sesosok wajah asing di atasku, kurasakan tangannya sedikit mengangkat kepalaku dan satu tangannya menepuk-nepuk pipiku.

“Are you awake now? Who would be silly enough to fall asleep in the beach, near the water? You could kill yourself!”

“I’m sorry!” kataku sambil berusaha bangun, kemudian diapun duduk disebelahku dan kurasakan pandangannya mengamatiku, “Who are you?”

“Just someone that almost have a heart attack because he thought that he find a dead body!”

“I just a little tired and I didn’t think of suicide or anything…”

“What u are doing could be categorized as a suicide attempt, you know?”

“Well… Thanks for helping me! I think I’m going to go back to my room now…”

“Where do you stay? I can take you home…”

“You don’t have too… I stay across the beach…”

“Segara anak Hotel?”

“Yeah…”

“Okey then… Good nite!”

“Nite…”

Saat berjalan kembali dan pikiranku mulai jernih, aku mulai berpikir betapa konyol keadaanku. Bawahanku basah kuyup dan sepertinya ombak sudah mencapai paha dan pinggulku ketika pria itu menemukanku. Jika dia terlambat sedikit saja menemukanku rasanya bukan tidak mungkin aku akan terseret ombak.

Setelah mandi dan berganti baju, aku putuskan untuk tidur dan beristirahat mungkin aku hanya terlalu capek karena harus menyelesaikan semua tugasku sebelum berangkat ke airport malam ini. Aku yakin besok pagi, aku akan fresh kembali.
4 Januari 2014   
CHAPTER X BAYOE… Sang Badai bagian c
Posted in Uncategorized    ¶ Tagged bayoe, cerita, nina, rambut panjang, seniman, seru    ¶ Tinggalkan komentar

Sepertinya sudah hampir fajar ketika aku bermimpi erotis. Hampir mirip dengan mimpiku ketika pertama kali mendatangi rumah Bayu. Bedanya, saat itu aku masih belum benar-benar tahu bagaimana gaya percintaannya dan seberapa lembut sentuhannya pada tubuhku.

Yang membuatku heran adalah karena ternyata mimpi sebelumnya dan mimpi kali ini memiliki sensasi hampir sama. Seolah sedari sebelum aku tidur dengan Bayu, aku sudah mengenali sentuhannya.

Mimpi kali itu juga tentang dia yang mencumbuku di area intimku. Walaupun mataku terpejam dan pikiranku berkabut bisa kubayangkan posisinya, ekspresi wajahnya yang penuh nafsu. Jilatan basah dan isapan pelan pada klitorisku membuatku mendesah perlahan dan menggeliat dalam tidurku, namun tangannya menahan kedua pahaku dan diteruskannya serangan itu. Lidahnya menusuk masuk liang vaginaku dan diliuk-liukkannya batang lidahnya. Bisa kurasakan permukaan lidahnya yang kasar membelai bagian dalam vaginaku. Tiba-tiba sensasi itu berhenti dan kurasakan permukaan tempat tidurku bergerak dan kemudian kurasakan benda besar dan tumpul melesak masuk ke dalam vaginaku langsung menabrak mulut rahimku, sukses membuat mataku membelalak terbuka. Perpaduan antara terkejut dan nikmat, sambil memekik keras.

Betapa terkejutnya aku ketika melihat Bayu dengan tubuh telanjang, berada diantara kakiku dan cengiran khas menghiasi wajahnya.

“Pagi Nina!” sapanya sambil mengecup bibirku dengan gemas, kemudian mulai menggerakkan pinggulnya, mencari kepuasan dari tubuhku,

“Ah… Ah… Bay…” nafsuku mulai berkobar karena sentuhan dan gerakannya,

Beberapa menit kemudian dia memuntahkan spermanya di dalam tubuhku dan menghujani tubuhku dengan ciuman saat dia menyelesaikan letupan-letupan kecil dalam vaginaku.

“Selamat pagi lagi Nina!” sahutnya sambil menarik penisnya keluar dan berbaring di sebelahku dengan satu kaki ditumpangkan di satu kakiku,

“Pagi… Apa itu tadi?”

“Morning sex? Wake up call?” sahutnya sambil tersenyum,

“Bayu… kamu tahu apa maksudku…” kataku sambil bangkit dan duduk, melupakan fakta bahwa aku sendiri masih dalam keadaan telanjang,

“Apa?” tanyanya sambil menangkup payudaraku dan membelai putingnya,

Walau tubuhku beraksi, tapi aku menolak menyerah, “Beberapa hari yang lalu, saat aku tertidur di sofa… Apa kamu juga…”

“Apa Na?” tanyanya sebelum menjilat dan mengulum putingku,

“Bayu…” desahku sambil menyebut namanya, tanganku spontan terangkat dan membelit pada rambutnya.

Dengan segenap tekad aku menjauhkan mulutnya dari tubuhku dan menarik bed cover menutupi ketelanjanganku. “Bayu… stop it!”

“Kamu mau aku jawab apa?” tanyanya sambil cemberut, seperti anak kecil yang dijauhkan dari mainan kesukaannya,

“Kapan hari saat aku tertidur di sofa apa kamu juga melakukan hal yang sama seperti tadi?”

Bayu beringsut menjauh dengan enggan, dia mundur ke belakang dan menyandarkan punggungnya pada headboard. Di sapukannya jemarinya pada rambutnya yang terurai dan kemudian kembali menatapku yang masih menunggu jawabannya.

“Ya dan tidak!” sahutnya tak berani menatap langsung pada mataku,

“Apa maksudmu?” tanyaku tak sabar,

“Ya untuk ya aku memang menciummu dan mencumbumu hari itu. Tapi tidak aku tidak memulainya! Kamu yang menarikku mendekat dan menciumku lebih dulu. Kamu menarik kepalaku… seperti ini!” katanya sambil megalungkan tangan di tengkukku dan menciumku, “Bahkan dalam tidurpun kamu menyebutkan namaku, jadi kubayangkan kamu sedang bermimpi indah tentangku!”

“Aku bermimpi karena kamu melakukan itu padaku!” seruku kesal,

“Jadi benar kamu memimpikan aku saat itu?” tanyanya penasaran sambil menarikku mendekat,

“Saat itu… dan tadi…” kataku pelan sambil memeluknya dan menyandarkan kepala di dadanya,

“Astaga Nina… Aku tidak menyesal mengakhiri persahabatan kita yang dingin jika aku melihat sisi ini dari dirimu…”

“Sisi yang mana maksudmu?”

“Cute? Menggemaskan… Pria akan menganggap seorang wanita sangat menggemaskan saat dia bilang pada kami, dia sering bermimpi erotis tentang dirinya. Itu meningkatkan ego kami!”

“Well… Kamu bisa yakin sekarang ada aku dan wanita-wanita lain yang memakaimu menjadi bahan imajinasi erotis mereka…”

“Aku tidak peduli dengan yang lain… Tapi pendapatmu cukup bisa membesarkan egoku!” sahutnya sambil membelai rambut dan punggungku.

Ketika dia mulai mencoba memulai kembali sesi bercinta kami, aku beringsut menjauh dan bangkit dari ranjang, berjalan cuek memamerkan tubuhku padanya dan menuju kamar mandi.

“Kamu mengajakku untuk bercinta dikamar mandi?” tanyanya saat melihatku membuka pintu kamar mandi,

“Tidak… aku mau mandi kemudian menyiapkan sarapan. Kita belum makan dari semalam dan menghabiskan tenaga lebih banyak daripada berolahraga di fitnes semalaman. Aku perlu makan jika kamu tidak…”

“Setelah itu kita akan bercinta lagi?”

“Tidak… kamu akan bekerja di depan mejamu dan aku akan bersiap ke kantor untuk mengikuti rapat dengan atasanku.”

“Astaga… kerja mode:on lagi?”

“Ya… dan selesaikan pekerjaanmu dengan cepat karena aku juga ingin melanjutkan aktivitas baru kita yang menyenangkan…”

Masih bisa kulihat ketika Bayu menggeram gemas dan membenamkan wajahnya di bantal. Paling tidak sekarang aku punya sesuatu untuk memintanya bekerja dengan serius dan hadiahnya sangat menyenangkan bagi kami berdua.
3 Januari 2014   
CHAPTER X BAYOE… Sang Badai bagian b
Posted in nina_almeira chap 10    ¶ Tagged almeira, bayoe, cerita, nina, rambut panjang, seniman, seru, sex    ¶ 1 Komentar

Sudah beberapa hari ini jam-jam kerjaku kuhabiskan berada dalam ruangan serba putih itu. Memperhatikan Bayu bekerja di meja sketsanya atau duduk di depan kanvas dengan tangan berlumuran cat aneka warna, seolah menjadi sebuah kebiasaan bagiku.

Temperatur udara di sekitar kami kadang akan meningkat saat pandangan kami bertemu. Seringnya di atas meja makan ketika kami makan bersama, terkadang di atas layar laptopku ketika aku sedang mengerjakan tugas kantor dan kami sama-sama mencuri pandang sejenak dari pekerjaan masing-masing, terkadang saat dia membuka pintu untukku ketika aku datang dan pulang.

Rasa ketertarikan kami hampir-hampir tak bisa ditutupi, namun aku terus berusaha menarik garis profesional di antara kami. Sebisa mungkin tidak melampaui garis imajiner itu.

Hingga malam itu…

Siang itu ketika aku meninggalkan kantor, hujan turun deras dan berlanjut hingga malam. Ketika saatnya makan malam dan aku membuka lemari es, ternyata tak ada apapun yang bisa dimakan, bahkan sebungkus mie instan pun tak kutemui disitu.

“Hei… Makan apa kita malam ini?” tanyanya sambil ikut melongokkan kepala ke dalam lemari es,

“Tak ada apapun yang bisa dimakan. Pengurus rumahmu gak belanja?”

“Ah iya… Aku baru ingat! Semalam dia menelpon dan meminta ijin tidak bisa datang hari ini. Harusnya dia belanja pagi ini…”

“Okey… Jadi kita terjebak disini tanpa maka…”

“Kita beli aja!” potongnya,

“Di luar hujan!”

“Cuma gerimis, Nina!”

“Tetap saja hujan…”

“Jangan bilang kamu takut hujan?!”

“Aku tidak takut hujan…” kataku, kemudian jeda beberapa saat aku melanjutkan, “Aku tidak suka basah!”

“Kita tidak akan basah! Ada payung disini… di suatu tempat…” Katanya sambil membuka lemari gudang dan mengobrak-abriknya, “Ini dia! Satu untukmu… Satu untukku!”

Fisik payung yang diberikannya padaku sungguh tidak meyakinkan. Payung itu seolah tidak digunakan bertahun-tahun lamanya, membuatku enggan memakainya. Namun Bayu terus membujukku keluar, balik mengancam tidak akan kembali bekerja jika kami tidak keluar dari rumah itu. Dia bersikeras ingin makan makanan rumah walaupun sederhana. Dengan terpaksa, kuturuti permintaannya, tujuan kami adalah sebuah swalayan di dekat rumah Bayu. Jadi kami putuskan untuk berjalan kaki saja.

Berjalan bersisian, kami menuju swalayan dan dengan cepat memilih belanjaan karena tidak tahan dengan dinginnya AC. Begitu keluar kurasakan angin hujan lebih hangat daripada suhu ruangan supermarket. Tak terasa hujan gerimis yang mengiringi saat kami berangkat berubah menjadi hujan deras bercampur angin besar. Naasnya, ketika kami berjalan di dalam hukan badai itu, payung yang kupegang tiba-tiba tertiup angin hingga rusak parah tanpa bisa diperbaiki. Dalam waktu sekejap saja pakaianku sudah basah kuyup. Putus asa, aku berlari menuju halte yang ada tak jauh dari tempat kami berhenti.

“Sebaiknya kamu pakai payung ini aja!” katanya sambil menyodorkan payungnya padaku, sepertinya merasa kasihan dan tak tega melihatku basah kuyup,

“Jangan tolol! Kamu masih ada pekerjaan, kalau kamu sakit kita bisa dapat masalah besar!”

“Na… Kesehatanku gak lebih penting dari kesehatan kamu!”

“Toh aku sudah basah! Apa bedanya aku pakai payung atau tidak?”

“Astaga Nina! Kamu mau keras kepala sampai sejauh mana? Rasanya kamu tidak sekaku ini di luar pekerjaan…” katanya sambil berteriak kesal.

Saat itu, tiba-tibas ebuah truk besar lewat di depan halte, menerjang genang air setinggi mata kaki dan sukses membuat kami berdua basah dari ujung rambut ke ujung kaki. Spontan kami berdua tertawa keras-keras, tak ada gunanya kini kami berdebat siapa yang membawa payung karena kami berdua jelas sudah tak memerlukannya.

“Kamu okey?” tanyanya dengan penuh perhatian,

“Aku basah… Hingga ke celana dalam…” setelah komentarku yang ceroboh, kami langsung berhenti tertawa dan menata napas masing-masing.

Kulirik dia diam-diam, Bayu bersandar di tiang halte, satu tangannya masih memegang payungnya yang masih dalam keadaan terbuka. Rambut panjangnya basah dan menitikkan air. Entah darimana, muncul dorongan untuk merapikan sejumput rambut yang keluar dari ikatannya dan terkulai di wajahnya. Tanpa terasa, tanganku sudah terangkat setengah jalan, berhenti tepat sebelum menyentuh wajahnya.

Kami berdua seolah menunggu sambil menahan napas. Apa sentuhan itu, gesekan itu dan percikan itu akan terjadi? Aku mengatakan pada diriku sendiri untuk menghentikan apapun yang akan aku lakukan saat itu, namun tanganku seolah memiliki kehendak dan pemikiran sendiri.

Perlahan tanganku menyingkirkan rambut itu, namun kemudian tak segera mundur. Malahan tangan kananku merangkum pipi kirinya yang dingin seolah ingin memberikan kehangatan.

Kuamati kedua belah matanya menutup. Bayu tidak bergerak, seolah dia hanyalah patung pualam. Kujatuhkan tas belanja yang selama ini kupegang, dan kemudian kutempelkan tangan kiriku ke pipi kanannya.

“Jangan buka matamu… Kumohon… Jangan buka matamu!” batinku lirih memohon,

Namun seolah tak mengindahkan teriakan batinku, Bayu membuka matanya. Bola mata hitam pekat bagai manik-manik itu memandang lurus ke arahku.

Seketika, setan di hatiku berbisik, “Satu kecupan. Hanya satu kecupan. Buktikan apa rasanya sama dengan mimpimu. Setelah itu kamu bisa berkata seolah itu hanya bercanda!”

Jadi aku pun melangkah mendekat, berjinjit dan menyapukan bibirku pada bibirnya. Bayu berdiri kaku, benar-benar bagaikan patung. Hanya sebuah kecupan singkat, ditutup dengan jilatan kecil pada bibir atasnya. Kemudian aku mundur dan melepaskan kedua tanganku dari wajahnya.

“Kita harus segera kembali. Sketsamu…”

Ketika aku membungkuk untuk mengambil tas belanjaan yang kujatuhkan tadi, tiba-tiba tubuhku disambar dengan cepat dan dihimpit oleh tubuh besar dan kokoh. Punggungku menempel ke dinding halte dan dengan segera aku merasakan api panas menggelegak, menghangatkan tubuhku.

Bayu menyerangku dengan ganas dan karena insting semata, aku mengimbangi serangannya. Bibir dengan bibir, lidah dengan lidah. Beradu dalam tarian nafsu yang menghanguskan, tak ada kelembutan. Hanya kebutuhan mendesak untuk dipuaskan.

Ketika akhirnya kurasakan tangannya yang dingin beradu kulit telanjang di pinggangku, kami berdua serentak berhenti, menyadari tempat kami berdiri. Dengan canggung aku membetulkan pakaianku dan menyambar tas belanjaanku dari tanah kemudian berjalan tergesa menuju ke rumah Bayu. Kurasakan dia membuntuti di belakangku.

Ciuman tadi, jelas bukan kecelakaan. Itu murni keinginan kami berdua. Keinginan yang terpendam dan tertahan. Begitu sampai di rumah, kuletakkan barang-barang di dapur dan kemudian langsung menuju kamar mandi. Begitu di dalam ruangan dan sendiri, aku langsung memarahi diriku sendiri. Aku telah menjanjikan satu minggu profesional, hanya satu minggu untuk tidak membahayakan persahabatan kami . Dan sekarang hanya selang beberapa hari saja aku sudah mengingkarinya, bukan hanya itu, aku malah menyulut api itu sendiri.

“Nin…” panggilnya dari luar pintu kamar mandi,

“Iya… Aku mau ganti baju sebentar, setelah itu akan buatkan makanan!” sahutku dari dalam, setelah itu dengan cepat aku berganti dengan baju kering dan keluar dari ruang perlindunganku.

Begitu keluar, kulihat Bayu masih mengenakan pakaiannya yang basah. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi, menungguku keluar.

“Kamu mandi air panas aja… Aku udah nyalain water heaternya. Aku akan siapin makanan!”

Tangannya terangkat merintangi jalanku, “Mau lari lagi?”

“Kamu perlu mandi dulu, kalau kamu sakit, aku yang repot!” sahutku lagi,

“Jika aku perlu mandi… Berarti kamu juga perlu mandi. Kalau kamu sakit, aku yang repot!” balasnya sambil tersenyum jahil,

“Okey! Kamu duluan, aku…”

“Kenapa harus? Kita bisa sama-sama masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandiku bisa menampung dua orang kok!” katanya sambil mencengkeram lengan atasku dan mendorongku masuk kembali,

“Bay…”

“Iya Nina…” kata-katanya lebih berupa gumaman halus saat dia menciumi pipi dan rahangku,

“Aku…” dia mulai menjilat dan mengulum daun telingaku, “Kita harus…” tangannya meremas tengkukku dengan lembut kemudian membelainya, “Bayu…” sebagai jawaban, dia memberikan gigitan kecil di telingaku dan lidahnya menyeruak masuk ke lubang telingaku,

“Ahh…” desahan nikmat lolos keluar dari bibirku, dan Bayu menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibirku dan lidahnya meliuk-liuk di dalam mulutku, melanjutkan kobaran hasrat yang sudah menjadi bara dalam sekam. Dengan mudahnya, dia berhasil mengipasi kembali nafsuku dan membuat akal sehatku terpinggirkan seketika.

Dia mendorongku semakin masuk ke bagian terdalam dari kamar mandi, melewati pintu kaca menuju ruang shower dan disudutkannya aku disana, mulut kami masih menyatu, tangannya mulai melepaskan satu persatu kancing kemejaku dan dengan satu sentakan aku melepas kaosnya melalui kepala dan menarik lepas ikatan pada rambutnya.

Tangan dan mulutnya begitu rajin mengecap dan merasai diriku dimanapun dia mendarat. Tanpa banyak perlawanan, rok spanku turun ke lantai kamar mandi dan ditendang ke sudut ruangan bersama helai-helai pakaiannya.

“Shower…” gumamnya pelan sebelum kembali membawa tubuh kami masuk ke dalam ruang shower dan menyetel suhu air pada showernya, tak lama kemudian air hangat yang nyaman memancar keluar dan menyirami tubuh kami yang kedinginan diluar namun panas di dalamnya.

Lidah dan bibir kembali menyatu dengan terburu-buru. Saat tangannya menggantikan belaian air hangat di payudara dan putingku, tubuhku sontak melengkung ke depan meminta lebih.

“Bayu…”

“Iya Nina… Aku sangat menginginkanmu…”

“Miliki aku… sekarang… saat ini juga!” kataku diantara desahan nikmatku,

“Not now… segera… segera Na!”

Setelah yakin tubuh kami cukup hangat dia menarik handuk dari hanger dan mengeringkan tubuh kami berdua. Setelah itu diselimutkannya handuk besar itu ke tubuhku dan dengan langkah perlahan, matanya tak lepas dari mataku, Bayu menuntun langkahku keluar kamar mandi dan masuk ke kamar tidurnya yang temaram.

Dia mendudukkanku di pinggir ranjang dan dia sendiri memunggungiku seraya mengambil sesuatu dari meja samping. Saat itu aku sangat menyadari bahwa dia keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan telanjang. Tampak belakang tubuh telanjangnya benar-benar serupa Adonis. Kaki jenjang, pantat seksi, pinggul yang menyempit, punggung lebar yang saat itu tertutup rambut hitam ikal panjangnya, benar-benar ancaman untuk akal sehatku. Ketika dia berbalik pemandangan itu meningkat dua hingga tiga kali lipat. Wajah tampan dengan mata manik-manik memandang ke arahku penuh janji kenikmatan dan kejantanan yang sudah siap berperang. Ah… dia memang Adonisku.

“Apa ini?” tanyaku saat dia menyodorkan segelas cairan berwarna coklat,

“Apa lagi? Itu coklat na! Minumlah… Akan membantu menghangatkanmu!”

“Aku tidak butuh ini untuk menghangatkanku…” tapi tetap kuminum juga seteguk lalu kuletakkan kembali ke meja, kemudian “Aku hanya butuh kamu!”

“Jadi… kamu memutuskan pemanasan kita sudah cukup?”

“Pemanasan?”

“Kamu sudah membuatku mengalami foreplay plg lama sepanjang hidupku… Aku sudah merasa mengalami pemanasan sebelum bercinta denganmu selama beberapa hari yang menyiksa ini!” katanya sambil menciumku lagi dengan lembut, “Jadi… Bolehkah aku dapatkan hadiahnya sekarang?”

“Iya…”

Seolah mendapat aba-aba, diangkatnya tubuhku semakin ke tengah ranjang dan dia memanjat naik sambil matanya tetap menatap ke dalam mataku.

Sentuhannya yang tergesa telah berubah menjadi begitu lembut seolah aku adalah kanvas dan tangannya adalah kuas. Inilah rasanya bercinta dengan pria ini. Diperlakukan begitu berharga layaknya karya-karyanya. Ciumannya yang keras dan penuh nafsu juga berubah melunak, menjadi lebih santai, kami memiliki semua waktu di dunia untuk saat ini.

Tangannya perlahan menuruni tubuhku, dan disapukannya tangan dan jemarinya di vaginaku. Tidak hanya mengocok keluar masuk tp juga mengusap dan membelai. Ketika dirasanya sudah cukup, Bayu menempatkan dirinya di antara kakiku yang terbuka, diangkatnya pinggulku mendekat ke tubuhnya dan dia memasukkan penisnya dengan sangat perlahan dan aku bisa merasakan setiap senti dan inchi memasuki tubuhku.

Aku terkesiap kecil saat penisnya menabrak mulut rahimku. Kurasakan begitu sesak, ternyata perangkat Bayu yang satu itu cukup besar hingga mentok didalam vaginaku.

Gaya bercintanya sangat pelan, dia tidak terburu-buru membawa kami ke puncak. Sempat dibisikkannya pelan ditelingaku, “Aku ingin menikmatimu dengan perlahan. Jika bisa untuk selama hidupku…” saat aku memprotes gayanya.

Setelah itu aku tak lagi memprotesnya karena kenikmatanku mulai mengumpul. Malam itu aku membuktikan kecepatan gerakan bercinta dan tempo tidak bisa menentukan besar kenikmatan yang aku terima. Karena bahkan dengan gaya bercintanya yang pelan, aku berhasil meraih orgasme hingga beberapa kali.

Karena terlalu lelah, aku pun jatuh tertidur sesaat setelah kami menyelesaikan sesi bercinta kami. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku tertidur di dada Adonisku, rambutnya tergerai diatas bantal dan irama napas kami menyatu.
21 Desember 2013   
CHAPTER X BAYOE… Sang Badai bagian a
Posted in nina_almeira chap 10    ¶ Tagged almeira, bayu, cerita, nina, seniman, seru    ¶ Tinggalkan komentar

Ketika kubuka pintu kamar itu, hal pertama yang terlihat adalah kertas berserakan di lantai kamar, kemudian bau thinner pengencer cat. Kuambil kertas terdekat dari kakiku. Terlihat sketsa pemandangan yang setengah jadi, kuduga kertas-kertas lainnya pun berisi hal yang sama. Jejak kekacauan terlihat hingga ke bagian dalam rumah itu. Pakaian yang tersampir disana-sini. Kuanggap diriku beruntung jika aku bisa menemukan pria itu masih bernapas diantara kekacauan yang telah dia buat. Di dalam ruangan itu masih ada satu ruangan lagi dengan pintu setengah tertutup. Ketika kubuka pintu itu, disanalah dia…

Berbaring telentang di tengah-tengah ranjang dengan sprei kacau balau membelit kakinya. Rambut panjangnya tersebar berserakan diatas bantal membentuk gelombang hitam. Dadanya yang cukup bidang naik turun teratur menandakan dia masih hidup.

“Bay!” panggilku dari depan pintu, dia masih tak bergerak,

“BAY!” ucapku setengah berteriak setelah masuk lebih dalam, semakin dekat dengan tepian ranjangnya, namun dia hanya bergerak perlahan,

“BAYU!” sahutku lebih keras tepat disebelah ranjangnya.

Merasa terkejut, aku tidak bisa mengimbangi kecepatan geraknya yang bagai seekor harimau menemukan mangsa, menerjang, dan menarikku ke atas tempat tidur, kemudian menindihku dengan badannya. Mataku mengerjap terbuka dan mendapati wajahku begitu dekat dengan dadanya yang bagaikan pualam. Kurasakan hembusan napasnya di puncak kepalaku. Rambutnya bagai tirai kelam menyelubungi kami berdua.

“Bayu… Bangsat kamu!” ujarku, sambil memukul dadanya, tidak terima atas serangan tiba-tiba yang barusan dilancarkannya, “Minggir!”

Kurasakan dadanya berguncang dan suaranya serak berkata dengan nada mengejek, “Nina… Nina… Nina… Ada angin apa sampai kamu berkunjung ke rumahku?”

Perlahan dia bangkit dan bisa kulihat dibalik selimut itu dia masih mengenakan sehelai celana boxer yang hampir tak bisa menyembunyikan tubuhnya dari amukan imajinasiku.

“Kamu belum menyerahkan draft terbaru untuk proyek tas dari perusahaanku! Kamu menjanjikannya dua minggu yang lalu, namun sampai sekarang kamu belum juga mengirimkan draftnya…” kataku sambil mengikutinya keluar dari kamar,

“Dan mana gadis kecil yang bertugas untuk mengambil draft itu?” tanyanya tanpa menoleh, membuatku leluasa menikmati goyangan pinggulnya yang berbalut secarik kain.

[Dan untuk memuaskan rasa penasaran pembaca... Ya... wanita menikmati goyangan pinggul lelaki, sama besarnya seperti ketika seorang lelaki mengagumi goyangan pinggul wanita... Berikan kami seorang lelaki dengan aset yang tepat dan kami akan berpesta dalam impian masing-masing]

“Kamu membuangnya ke bak sampah, seperti wanita-wanitamu yang sudah bosan kamu urusin!” jawabku lagi.

“Seperti biasa… Nina muncul bak pembela kaum wanita yang tertindas…”

“Wanita tertindas ada karena orang macam kamu, ada. Jadi, sekarang kamu harus bertahan karena aku akan jadi pengawasmu, sampai kau selesaikan deadline itu! And please… make it fast!”

“Aku ga bisa… Gak ada inspirasi!”

“Persetan dengan kamu dan inspirasimu. Aku ada jadwal launching yang harus dikejar! Jika kamu gagal memenuhi deadline, uang kontrakmu melayang, plus kamu harus membayar ganti rugi ke perusahaan kami tentunya. Tapi kalau jadwal launching itu tak terkejar, nama perusahaan akan jatuh dan kami akan menderita kerugian milyaran. Efeknya… kamu akan membuat aku yang kau bilang adalah sahabatmu ini menjadi pengangguran.”

“Baiklah… Baiklah! KAmu paling tahu bagaimana membuatku bekerja…”

Pria itu kemudian menyambar celana piama yang tersampir di bahu kursi dan memakainya seolah tak ada wanita bersamanya di ruangan itu dan duduk di depan meja gambar. Rambutnya telah diikat menjadi satu ikatan dan perhatiannya terpusat sepenuhnya pada kertas di atas meja.

Tinggal aku sendiri di ruang tamu itu, menyibukkan diri dengan membersihkan rumah yang dipakainya untuk studio itu, sambil menata jantung yang serasa mau copot.

Aku dan Bayu sudah saling kenal cukup lama. Aku juga yang mengajukan namanya untuk bergabung dalam proyek tas fashion dengan hiasan lukisan yang juga adalah sumbangan ide dariku dan ternyata booming di pasaran. Setelah launching pertama yang sukses, perusahaan memberikan ijin untuk melaksanakan launching kedua dan kini telah mencapai launching ketiga. Setiap launching, tema yang diusung oleh Bayu selalu berbeda.

Launching pertama menggunakan tema naturalis, dimana dia melukiskan pemandangan desa-desa di pegunungan. Launching kedua dia memasukkan unsur-unsur kota dalam lukisannya seperti dalam film Sex In The City. Kini tentu saja para pelanggan kami menunggu tema apa yang akan diusungnya pada launching ketiga. Aku percaya Bayu bisa membalas kritikan dari kritikus fashion yang menganggap angka 3 adalah angka keramat dimana sering sekali jika ada seri fashion di launching ketiganya gagal total. Aku yakin Bayu bisa memberikan gebrakan yang sama spektakulernya dengan tema-tema sebelumnya.

Perusahaan sangat mencintai Bayu karena dia berhasil membuat kami menjual ratusan tas exclusive dan meraup keuntungan yang sangat besar karena harga yang kami patok cukup tinggi mengingat kualitas bahan tas yang bagus digabungkan dengan karya seni bernilai tinggi. Namun bukan berarti perusahaan dengan senang hati mengurusi seniman tampan nan eksotis itu. Bayu terkenal akan pribadinya yang susah diatur dan dijinakkan dan fakta yang satu itu sudah banyak menjadi bahan pembicaraan dalam perusahaan kami. Terlebih dia selalu bisa menyingkirkan pengawas yang kami kirimkan untuknya.

Pria ini adalah godaan iman bagi pria maupun wanita. Untungnya dia tidak sadar telah berhasil membuatku sedikit goyah. Kelemahanku memang tak banyak orang yang tahu [kecuali tentu saja pembaca blog ini]. Kelemahanku terhadap pria-pria berambut panjang yang hampir pasti akan membuatku jatuh dalam masalah pelik yang bernama Mahesa Bayu.

&$^%^@

Sehari sebelumnya…

“Nina! Tolong kamu gantikan tugas Rena. Bayu memang jenius tapi jika tidak diawasi dia cenderung melakukan proyek pribadinya daripada proyek kita! Jika lukisan-lukisan itu tidak sampai ke tangan kita satu minggu lgi, takutnya kita terpaksa memundurkan jadwal launchingnya…” kata Pak Hari langsung begitu aku duduk dan memusatkan perhatianku padanya,

“Jika itu terjadi, kita di divisi perencanaan akan mati kutu di dalam rapat bulanan.”

“Cuma kamu Na, yang bisa Bapak andalkan untuk bersikap objektif dalam menghadapi seniman itu. Aku yakin kamu bisa mengacuhkan daya tarik Bayu dan membuatnya menyelesaikan kewajiban kontraknya. Iya kan? Kami bisa mengandalkanmu, Nina?” tanyanya lagi.

Walau terdengar seperti meminta pertolongan, jelas-jelas Pak Hari membuat permintaannya tak bisa ditolak. Ini adalah keahlian Beliau dalam menghadapi anak-anak buahnya. Tentunya aku takkan bisa menolak permintaan Beliau terutama karena aku mengenal Bayu dengan baik dan dugaannya tentang pria itu tepat sekali.

“Baik Pak… Saya akan berusaha!”

&^!$%%

Itulah kenapa akhirnya aku ada disini, terjebak dalam satu ruangan bersama pria yang tak boleh kusentuh. Lagipula, aku tidak tertarik untuk mempertaruhkan hubungan persahabatanku dengan Bayu. Dia teman yang baik, diluar fisiknya yang menarik. Akan sayang sekali jika akhirnya, kami harus mengakhiri hubungan itu untuk prospek hubungan semalam. Aku tentu saja tidak kebal atas pesonanya, seperti yang Bossku duga tentang diriku. Namun aku yakin aku bisa menjaga tanganku dari tubuhnya, walau tidak bisa menjaga otakku darinya.

Setelah bersih-bersih, aku merasa sedikit lelah dan memutuskan untuk duduk di sofanya yang terlihat menggoda. Semalam aku sudah bergadang untuk menyelesaikan proposal proyek, jadi saat ini aku benar-benar kurang tidur. Tapi, aku janji tidak akan tertidur, aku hanya akan bersandar sebentar.

*&^$

Beberapa saat kemudian rupanya aku tertidur. Merasa nyaman, aku jadi malas untuk membuka mata dan memutuskan tak ada salahnya beristirahat sejenak. Kubiarkan tubuhku rileks dan kesadaranku perlahan hanyut menjauh. Selanjutnya aku rasa aku kembali tertidur dan bermimpi indah.

Kulihat Bayu berjalan mendekati sofa. Rambutnya terurai dan kemejanya tak dikancingkan, melambai di sekitarnya. Kaki jenjang tertutup celana piama berakhir di kaki telanjang. Kurasakan dia naik ke atas sofa dan kemudian menunduk di atasku. Aku tenggelam makin dalam di sofa karena lututnya menekan bagian samping kanan kiriku. Rambutnya tergerai turun seperti tirai memisahkan kami dari dunia luar.

Kurasakan dia hanya menatapku tanpa mendekat lagi. Hembusan napasnya terasa membelai pipiku, bibirnya begitu dekat. Putus asa ingin segera mencoba rasa bibirnya, kunaikkan tanganku, kukaitkan di belakang tengkuknya, membelit rambutnya, kemudian kutarik dia lebih mendekat ke arahku dan aku pun berpesta.

Berlawanan dengan diriku yang bergelora, Bayu terasa bagai cairan kental panas yang mengalir dengan perlahan. Bibirnya mencumbu bibirku dengan gerakan malas seolah ingin berlama-lama menikmatinya. Ketika akhirnya irama kita mulai sama, kususurkan jemariku di rambutnya. Meremasnya saat desahan nikmat lolos dari tenggorokanku.

Tangannya membelai manja tengkukku, bagian samping dan bawah payudaraku, kemudian tangannya turun dan berlama-lama di area perut bawah dan paha dalamku tanpa menyentuh area panas yang begitu mendambakan sentuhan. Dia terus membelaiku dan tetap meninggalkan area sensitifku tak tersentuh. Hal itu justru membuatku semakin frustasi dan menggelinjang tak terpuaskan.

Dari balik kabut kesadaran, aku bisa mendengar suara bisikannya dalam tidurku, “Ssst… Aku akan membuatmu melayang. Berpeganglah!” tidak mengerti dengan arti kata-katanya aku berpikir apa yang harus dipegang? Kemana aku harus berpegangan?

Kemudian bisa kurasakan tangannya turun ke bawah. mengangkat rokku ke atas dan menarik celanan dalamku ke bawah. Kurasakan hembusan udara hangat di antara kakiku dan akhirnya kurasakan benda basah dan panas membelai vaginaku dengan perlahan dan memabukkan. Begitu nikmat dan menyenangkan sampai-sampai aku tak mau mengakhiri mimpi itu. Kupejamkan mataku erat-erat, tak rela terbangun.

Khawatir jika mengigau, aku mencoba menahan desahan nikmatku, tapi setiap kali kulakukan itu, serangan dibawah sana semakin gencar, hingga akhirnya orgasmeku semakin mendekat dan kulepaskan kendaliku demi meraih kepuasan tertinggi. Kukaitkan jari-jariku ke sela-sela rambutnya. Merasa putus asa, ingin berpegang pada sesuatu yang nyata. Orgasmeku datang menyapu kesadaranku tanpa ampun. Kuteriakkan namanya dalam mimpiku, terlupa akan kemungkinan bisa saja teriakan itu keluar menjadi igauan di dunia nyata. Yang kuingat dan kupedulikan saat itu hanya denyut nikmat dalam vaginaku dan belaian mesra dan basah yang masih mengirimkan sensasi memabukkan ke seluruh syaraf dalam tubuhku.

Setelah itu entah berapa lama kemudian, kudapati aku terbangun di sofa itu lagi. Dengan rasa terpuaskan dan tubuh serileks setelah mengalami sesi percintaan yang heboh dan memuaskan.

Tiba-tiba kusadari BAyu berjalan mendekatiku dan duduk di depan sofa, “Sepertinya kamu tidur nyenyak…” katanya sambil menyisirkan jemari di rambutnya. Sekilas kuingat sensasi yang kurasakan dalam mimpiku. Mungkin tepat seperti itu rasanya.

“Ya… Lumayan. Kamu sudah menyelesaikan sketsamu?”

“Satu sketsa dasar… Akan aku selesaikan malam ini dan besok untuk pewarnaannya…”

“Okey… Bagus! Aku… Mau ke toilet sebentar!” ucapku sambil bangkit dari sofa dan berjalan memutari Bayu yang masih duduk di tempatnya semula,

“Nina…” panggilnya lembut,

“Iya?” tanyaku tanpa berbalik,

“Tadi kamu mengigau…” Jantungku seraya berhenti sesaat, “Kamu memanggil namaku!” lanjutnya dengan cengiran jahil di mukanya.

Merasa malu dan ingin segera menghilang dari hadapannya, aku masuk ke dalam toilet dan menutup pintu dibelakang punggungku tanpa memberikan komentar atas pernyataannya. Ketika aku membuka celana dalam, bisa kurasakan celana dalamku basah. Jelas bukan karena keringat atau air, tapi karena cairan kewanitaanku.

Buah yang terlarang memang yang paling nikmat. Sementara ini, okeylah jika aku hanya menikmatinya dalam mimpiku. Takkan ada yang terluka olehnya. Batinku meyakinkan dan menenangkan diriku dari fakta bahwa aku telah memakai sosok sahabatku sebagai bahan mimpi erotis.
7 Juni 2013   
CHAPTER IX YUKI NO ITTAI… bagian c
Posted in nina_almeira chap 9    ¶ Tagged almeira, arata, cerita, nina, seru    ¶ 1 Komentar

Semua acara hari itu akhirnya selesai dan akan dilanjutkan dengan malam keakraban. Perusahaan dan pihak hotel menyiapkan jamuan makan malam di restoran hotel untuk semua peserta pelatihan dan para top manajer yang telah memberikan materi selama acara berlangsung.

Aku dan Denia langsung menuju kamar kami dan memulai persiapan untuk pesta malam itu. Aku baru saja selesai mandi dan masih mengeringkan rambutku ketika bel pintu berbunyi, saat aku membukanya aku sungguh terkejut karena disana berdiri Arata masih dalam pakaian yang dipakainya siang tadi. Dia bertanya dengan suara pelan, “temanmu?”

“Di dalam kamar mandi!” dan dengan itu dia langsung masuk ke dalam kamar ku dan menutup pintu dibelakangnya,

“Siapa Na?”

Dengan cepat aku berusaha mengarang sebuah kebohongan “Lily dari kamar seberang… minjem hairdryer aja!”

“Oooo okey… “ dia pun kembali menyalakan shower dan bersenandung,

“Doshite [mengapa], Kitazuma-san? ”

“Kore… Anata no… [Ini… Milikmu…]. It’s a present! Aku mau kamu pakai ini di pesta nanti!”

“Untuk aku?”

“Hai… dozo![Iya… Silahkan!]”

“Arigatou… Kiiireeeeiii da you… [Terimakasih! Cantik sekali…]”

“I think… Akai [merah]… is your colour!”

“Yeah ini tampak… indah!”

“Just like you… I’ll see you later!”

“Yes… Bye…” setelah dia keluar dari kamar, aku langsung menutup pintu sepelan mungkin,

Seperti yang kuduga ketika keluar dari kamar mandi dan melihat aku sudah dalam pakaian pemberian Arata, Denia langsung terpekik kagum. Dia terus bertanya dari siapakah baju itu, namun aku tetap diam.

Denia sempat menebak bahwa baju itu adalah pemberian Pak Darrel untukku dank arena tak ingin membuat Denia tahu bahwa pemberi hadiah itu sebenarnya adalah Arata, aku hanya diam saja seolah mengiyakan.

Aku dengan gaun malam warna merahku tentu saja menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan Darrel sempat datang mendekatiku dan meremas bahuku tanpa kentara saat tidak ad orang yang memperhatikan.

Tak lama setelah aku dan Denia memasuki ruangan, Arata masuk diikuti beberapa rekan manajernya. Matanya tak berkedip sama sekali saat melihatku dari seberang ruangan. Tubuhku menghangat karena tatapannya yang intens. Matanya menyapu gaun itu dari atas, tali spaghetti berwarna merah dan emas, turun ke bagian dada yang memperlihatkan sedikit belahan dan bertabur Swarovski, kemudian mengikuti aliran gaun yang jatuh pas diatas lututku.

Dia menyukai apa yang dia lihat jika aku tak salah mengartikan bagaimana dia merapikan bagian depan jasnya.

Entah kebetulan atau memang telah disengaja entah oleh siapa, aku mendapat tempat duduk tepat di seberang Arata dan di sebelah kiri Pak Darrel. Aku dan Arata terhalang meja kecil yang diatur memanjang, sedangkan Pak Darrel berada disebelahku. Setiap meja berisi 10 orang dan diatur secara “acak” antara karyawan dan atasan-atasan. Denia berada dalam satu meja denganku dan kami memiliki 2 orang manajer di meja kami.

Aku bisa merasakan kakiku bersentuhan dengan kaki Arata di bawah meja. Kakinya memang panjang. Dia tersenyum manis padaku saat aku merasakan bahan celananya menyapu betis dalamku.

Saat aku menengok ke samping mencoba masuk ke dalam percakapan Darrel dan salah satu anak marketing mantan bawahannya, Darrel hanya menengok cepat dan aku merasakan remasan tangannya pada paha kananku.

Aku langsung menatap bergantian antara 2 orang pria itu dan merasakan bahwa mala mini akan menjadi malam yang sangat panjang.

Acara dibuka oleh sambutan dari manajer HRD dari pusat dan disambung dengan wakilnya kemudian makanan pembuka mulai diantar ke meja-meja. Salad alpukat dengan udang galah diatasnya mampu membuatku tergoda untuk makan dengan lahap. Selama saat jamuan makan aku hanya sekali-sekali berbicara di sela-sela makan malam. Hingga sampai ke menu dessert dan semua meja mulai bising dengan percakapan disana-sini.

Darrel adalah yang pertama memulai kegilaan itu. Dia sedang berbicara dengan Farhan anak marketing ketika aku merasakan tangannya membelai lututku dan meremasnya sesekali.

Kubiarkan saja apa yang sedang dia lakukan karena aku merasa itu tidak seberapa mengganggu dan lagi kegiatannya tersembunyi di bawah meja dan tertutup kain penutup meja. Tempat dudukku membelakangi tembok restoran jadi takkan ada orang lain yang bisa melihat kejadian tersebut.

Lama kelamaan tangannya mulai naik ke paha dan bagian dalam pahaku, mengirimkan sensasi di perut bawahku. Buku jarinya yang sedikit kasar membuatku semakin merinding. Tiba-tiba saja, aku bisa merasakan sentuhan lain di kakiku.

Kaki telanjang membelai kaki telanjang, aku menatap Arata yang berada diseberangku dan mengerjapkan mata padanya. Kukira dia hanya ingin perhatian dariku, namun aku bisa merasakan apa yang dia lakukan tidak berhenti hanya disitu.

Kakinya naik dan naik hingga ke paha sebelah kiri, sedangkan Darrel sedang meremas-remas paha kananku. Aku hanya bisa berharap mereka tidak saling menyadari apa yang sedang dilakukan yang lain kepada tubuhku.

Tubuhku terasa semakin panas dan keringat dingin mulai keluar di dahi dan tengkukku.  Gugup, cemas dan teramat sangat terangsang karena belaian 2 orang itu. Tangan Darrel berpindah ke atas dan membelai kulit paha bagian luar, sementara itu kaki Arata semakin berani dan mengusap-usap paha dalamku, mengusap belahan vaginaku yang sudah mulai terasa basah dari luar celana dalam.

Aku merasakan kakinya berusaha menyingkirkan penghalang terakhirnya. Menyingkapkan pinggiran celana dalamku dan menyelipkan jari kakinya ke balik celana.

Jantungku serasa hampir copot ketika aku merasakan tangan Darrel mulai beranjak dari paha luarku dengan perlahan menuju ke atas dan keringat dingin bercucuran ketika aku sadar tujuan akhir dari tangannya dan aku begitu tegang mengingat jari kaki Arata masih membelai vaginaku yang basah, bahkan mulai menekan ibu jari kakinya melesak masuk ke liang senggamaku.

Beberapa detik kemudian yang terasa bagai berjam-jam, suara seseorang memanggil Darrel dari seberang ruangan, ternyata salah seorang manajer dari kantor pusat memanggilnya untuk bergabung dengan pembicaraan seru di meja lain. Dia langsung menghentikan belaian tangannya di pahaku dan dengan remasan kecil meninggalkan meja kami.

Aku tak bisa tenang lebih lama karena tiba-tiba aku melihat cengiran jahil menghiasi wajah tampan Arata.

Hampir seketika itu juga, ibu jari kaki Arata yang dipakainya untuk mengaduk-aduk vaginaku dan keluar masuk dengan ritme teratur itu disentakkan dengan keras ke arah klitorisku. Hal itu membuatku tak bisa menahan pekikan kecil dari bibir yang langsung kubekap dengan kedua tangan.

Semua orang di mejaku dan beberapa di meja sebelah menoleh padaku dengan pandangan heran. Sebelum aku mempermalukan diri sendiri lebih jauh, akupun berdiri dari kursi dan bilang kepada Denia bahwa aku harus ke kamar kecil.

Dari ekor mataku, aku bisa melihat Arata dengan tenang berdiri dari kursi dan pamit kepada orang yang sedang diajaknya bicara, kemudian berjalan keluar ruangan dari pintu yang berbeda.

Ketika berjalan aku bisa merasakan kakiku yang masih sedikit gemetar karena baru saja mengalami orgasme.  Ketegangan meja makan tadi benar-benar membuatku hilang kontrol sekejap.

Pangkal pahaku terasa basah karena cairan dari vagina. Aku setengah berlari menuju kamar kecil terdekat yang terletak di koridor samping ruang makan. Begitu masuk aku merasa teramat lega karena ruangan itu kosong, namun baru saja akan menutup pintu, tiba-tiba saja seseorang menerobos masuk ke dalam dan langsung mengunci pintu itu dari dalam.

Tanpa basa-basi dia langsung menyerangku dengan ganas, mencium dan mendorongku hingga aku berada di antara dia dan dinding. Meniadakan jarak diantara kita, dia segera mengangkat tepian rokku hingga ke atas dan memasukkan tangannya ke dalam celana dalamku yang sudah basah.

Dia mengocok vaginaku dengan ritme cepat dan membuat gerakan keluar masuk yang hampir kasar, namun bukannya mendorong dia untuk menjauh, aku malah mengangkat naik kakiku ke atas dudukan toilet membuatnya lebih leluasa memporak porandakan isi kepalaku.

“Do it… now… Please…”

Aku tak perlu memohon dua kali kepadanya, dia hampir merobek celana dalamku menjadi secarik kain saat melepasnya dari tubuhku. Hanya dalam waktu singkat dia telah menyatukan tubuh kami dan menenggelamkan penisnya ke dalam tubuhku.

Aku tak peduli dengan kelembutan saat itu, aku hanya ingin merasakan hentakan-hentakan keras pinggulnya dan menghilangkan rasa gatal jauh di kedalaman daerah kewanitaanku. Aku hanya ingin merasakannya di dalam tubuhku.

Puncak kenikmatanku datang dengan begitu dasyatnya karena posisi yang strategis, hentakan kerasnya menyodok mulut rahimku dan kepala penisnya menggaruk g-spotku ketika dia menarik dan mendorong penisnya, klitorisku terus bergesekan dengan kulit dan rambut kemaluannya. Kakiku terasa lemas karena orgasme keduaku malam itu.

Dia membalik posisiku dan membuat tanganku berpegangan pada dudukan toilet, lalu dia kembali memasukiku dari belakang.

Gerakannya yang semakin mendesak menandakan bahwa dia juga akan mengalami ejakulasi. Suara dan aroma seks kami menguar di udara di antara harum pewangi ruangan. Beberapa menit kemudian, aku bisa merasakan tubuhnya menegang dan cengkraman tangannya pada pinggulku mengencang, membuatku yakin kulit di sekitar pinggulku akan memerah karenanya. Beberapa letupan sperma hangat terasa dalam liang kewanitaanku dan meleleh perlahan saat dia menarik keluar penisnya yang setengah lemas.

Ditariknya aku dalam pelukannya. Membawaku di pangkuannya ketika dia duduk di atas penutup kloset dan ciumannya menjalar dari belakang tengkuk ke leher dan bahuku. Bulir-bulir keringat yang muncul walau udara dingin dari air conditioner menyapu kulitku.

“You’ll get in trouble, if someone sees you…” bisikku di antara desahan nikmat yang lolos dari sela-sela gigiku yang terkatup,

“Tak ada yang tahu aku kemari…” sahutnya dengan dialek khasnya,

“Arata… Kimochiii… [Nikmat…]” desahku lagi saat aku merasakan tangannya meremas-remas payudaraku dengan gemas,

“Omae mo… kimochi desu [Kamu juga… Terasa nikmat]. I’ll hate it when we have to say goodbye, tomorrow!” katanya lagi sambil terus menciumiku leherku,

“Arata… don’t talk about tomorrow… onegai… [kumohon…] “ kataku sambil berdiri sejenak untuk kemudian duduk kembali dengan berhadapan di pangkuannya, “Imaaaa… [Sekarang…] Kiss me!”

“Yorokonde… [Dengan senang hati…]”  dan Arata pun kembali mencurahkan perhatiannya pada bibirku. Mencium dengan malas layaknya harimau yang telah terpuaskan.

$#@!%^
6 Juni 2013   
CHAPTER IX YUKI NO ITTAI… bagian b
Posted in nina_almeira chap 9    ¶ Tagged almeira, arata, cerita, nina, seru    ¶ Tinggalkan komentar

Pagi datang dengan cepat, Denia bangun lebih awal dan membangunkanku. Sambil mandi dan bersiap-siap untuk acara hari ini, aku menceritakan perkenalanku dengan seorang bule Jepang yang tampan kepada Denia, minus “kedekatan” kami semalam. Dia hanya tertawa dan berkomentar tentang mendapatkan kekasih bule dan jalan-jalan ke luar negeri.

Mengingat acara ini tidak terlalu formal, aku hanya mengenakan kemeja lengan panjang warna pink dan celana panjang denim. Memutuskan mengikat rambutku menjadi ekor kuda dan hanya mengenakan make up tipis, alih-alih berdandan lengkap layaknya hari kerja biasa.

Jam 7 tepat, kami memutuskan turun ke coffee shop dan menyantap sarapan sebelum semua orang turun dan berebut makanan. Seperti dugaanku, tidak banyak yang sudah bangun dan kami bisa makan dengan santai. Tak lama kulihat Pak Darrel keluar dari lift dan Denia langsung melambai dengan heboh ke arahnya. Dia berjalan ke arah meja kami tanpa melepaskan pandangannya dariku dan membuat Denia membuat isyarat mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya seolah dia merasa gerah.

Tak bisa dipungkiri, Pak Darrel terlihat sangat tampan dan menggiurkan bagi semua wanita. Tapi tak banyak yang pernah melihat Pak Darrel dalam penampilan yang lebih menggiurkan daripada apa yang telah aku lihat.

Setelah bertukar sapa sebentar dia meninggalkan kami dan bergabung dengan beberapa manajer yang ada di meja seberang ruangan. Jam setengah 9, kami diminta untuk berkumpul di gathering room untuk memulai acara. Hari itu kami dijadwalkan untuk mendapatkan beberapa materi yang berhubungan dengan team work dan leadership diselingi dengan game kelompok khas outbond.

Setelah makan siang, kami melanjutkan acara dengan pemberian materi “Idea and Creativity”. Kami diharapkan untuk membawa notebook masing-masing saat pemberian materi ini, jadi kami semua duduk di meja dan membukanya. Aku masih berkutat dengan milikku saat suara pintu mengayun terbuka dan Denia yang berada di sebelahku menyenggol sikutku dengan keras.

“Apa sih Den?”

“Cowok cakep…” aku sungguh terkejut saat mengalihkan pandanganku dari layar notebook ke depan dan langsung melihat wajah familiar yang baru semalam aku kenal,

“Arata??” desisku pelan, namun tidak terlewat dari pendengaran Denia,

“Maksudmu… dia adalah cowok perenang itu? Yang semalam?” aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Denia dan mengingat detail pembicara yang tertulis di lembar acara. Aku ingat disana tertulis manajer HRD dari kantor Pusat Jakarta dan seketika itu juga aku menunduk dalam-dalam berharap bisa bersembunyi di balik layar notebookku yang kecil.

Kulirik sebentar figur pria itu, dia tampak sungguh berbeda dari semalam. Hari ini dia memakai kaos warna putih, jas hitam dan celana denim warna gelap. Dia terlihat cukup professional berdiri disana dengan rambut panjangnya diikat kebelakang dengan tali hitam.

Walau aku yakin dia bisa mengenaliku, namun dia tidak memperlihatkannya. Setelah berbicara beberapa saat tentang mengungkapkan ide-ide baru untuk perusahaan dan menarik kreativitas dari diri kami, dia memberikan tugas kepada kami semua untuk menuliskan ide-ide dalam pikiran kami yang mungkin bisa membuat perusahaan semakin maju, tak peduli seberapa konyolnya itu.

Tak terasa waktu 2 jam telah berakhir dan waktu menunjukkan pukul 3 sore, waktunya untuk istirahat selama 1,5 jam sebelum kami kembali ke materi teamwork. Semua orang sudah mulai terlihat letih, maklum ini hari sabtu, hari dimana mereka biasanya sedang beristirahat dirumah dan bermalas-malasan atau sedang menikmati waktu luang.

Merasa sedikit lelah karena merasa tegang selama hampir 2 jam, aku menundukkan kepala ke atas notebook dan membiarkan semua orang keluar dari ruangan. Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar sebelum keluar dari ruangan ini. Saat aku mengangkat kepala dari meja, aku tersentak ke belakang menyadari Arata ada di depanku, berdiri di depan mejaku.

“Nina san… Konichiwa! [Nina… Selamat siang!]” sapanya sambil menutup notebookku,

“Konichiwa… Kitazuma_san… Gomenasai… [Siang… Pak Kitazuma… Maafkan saya!]” kataku sambil berdiri dan membungkukkan badan,

“Gomen? [Maaf?] Minta maaf kenapa?” tanyanya,

“Karena tidak mengenali anda… Seharusnya saya ingat siapa anda, tapi…” sahutku masih dalam posisi yang sama.

“Ya… saya juga sedikit terkejut karena ternyata kamu adalah pegawai di perusahaan ini! Tapi… kenapa meminta maaf?” tanyanya sambil melipat tangan di depan dada, “Seingat saya… Saya yang mencuri ciuman dari kamu semalam! Di jepang… itu bisa disebut Sekuhara! Sexual Harassment!”

Aku ingat istilah itu dari sebuah artikel yang kubaca. Seorang atasan yang menggunakan kekuasaannya untuk merayu bawahan atau melecehkan secara fisik salah satu bawahannya bisa dibilang melakukan pelecehan seksual. Jika hal itu diketahui orang lain dia akan mendapat masalah besar dari perusahaan tempatnya bekerja.

“Nina_san, saya harap saya tidak membuat kamu marah dan merasa dipermainkan karena ciuman semalam!” katanya dengan nada lembut dan membuatku kembali berdiri tegak, berusaha menyangkal hal itu,

“Tid…” kata-kataku berhenti saat tiba-tiba Arata menciumku… lagi dan lebih lama daripada ciuman semalam di pinggir kolam renang,

“Aku senang kamu tidak marah, karena aku tidak berencana untuk meminta maaf!” katanya lagi sambil menarikku berdiri dan merangkul tubuhku, “Apa kamu selalu berpenampilan seperti ini?”

Dia menyentuh kelepak kerah kemejaku dan membelai bagian atas dadaku, rupanya aku tidak sadar kancingku terlepas dari lubangnya dan membuat belahan dadaku terlihat. Karena meja diatur seperti ruang kelas dan menghadap ke depan ke arah pembicara, jadi tak ada yang menyadari hal ini kecuali tentu saja, sang pembicara.

“Aku rasa aku lupa mengancingkan kemejaku setelah kembali dari toilet setelah makan siang!” aku mengangkat tangan kananku untuk menutup kancing tersebut, namun dia menahannya,

“Yakin ini bukan hanya untuk menggodaku?” tanyanya lagi sambil mencium tanganku dan kemudian leherku yang terbuka,

“Kitazuma_san… sewaktu-waktu seseorang bisa masuk ke dalam ruangan ini dan memergoki kita!” aku berusaha untuk mendorongnya menjauh, namun tangannya di belakang punggungku tidak mengijinkanku mundur satu langkahpun,

“I don’t think so… Semua orang sedang menikmati coffee break di coffee shop. And… I’ve locked the door!”  katanya sambil meneruskan menghujaniku dengan ciuman-ciuman dimanapun yang terjangkau oleh bibirnya,

“You planned this??” tanyaku sambil menjauhkan wajahku darinya, mencoba menghentikan serangan ciuman yang mulai membuat diriku lemah,

“Sepanjang materi ini??? Yes that’s right!” katanya sambil tersenyum lucu, “Bisa dibilang, kamu telah membuat aku bertarung dengan diriku sendiri selama 2 jam!”

“Hontou? [sungguh?]” tanyaku lagi sambil tersenyum, mau tak mau merasa tersanjung,

“Iya… Di satu sisi, aku berharap bisa menarikmu dari balik meja ini dan bercinta denganmu di depan semua orang, di sisi lainnya aku tahu aku harus bersabar!”

Aku merasa bergidik ngeri dengan bayangan itu dan entah mengapa aku tidak merasa dia sedang bercanda. Kurasakan tangannya membelai punggungku dan bibirnya menciumi garis rahangku. Dia berhenti sejenak dengan bibir tepat di depan bibirku.

“Apa aku bisa mendapat hadiah untuk ketahanan diriku?” tanyanya sambil membuatku mendongak dan membuka bibirku untuknya.

Aku tahu apa yang dia mau… Hampir tidak mungkin aku tidak merasakan bukti keinginannya yang sangat besar jika hal itu menempel ketat di perutku. Tonjolan itu tidak benar-benar besar, namun terlihat tebal dan terasa sangat keras dibalik celana denimnya. Tangan dibalik punggungku mulai turun dan menangkup pantatku, diselipkannya satu kakinya di antara kakiku dan aku pun menyerah.

Pria ini sangat mempesona dan aku benar-benar ingin bercinta dengannya sejak kejadian semalam. Tanpa menunggu dia memohon kembali, aku melingkarkan lenganku di tengkuknya, menarik diriku semakin mendekat dan menempel ketat pada tubuhnya. Kuselipkan jemariku di bawah permukaan rambut hitamnya yang bergelombang dan dengan satu sentakan aku melepas tali beludru yang mengikat rambutnya dengan jari-jariku.

Kurasakan tekstur rambutnya di tanganku dan sedikit kuremas, ketika aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Kukecup bibir atasnya, kemudian bibir bawahnya, bergerak lambat, semalas kucing manja dan mengusapkan lidahku di sepanjang bibirnya. Kurasakan tangannya menyelip di balik kemejaku naik ke atas dan mengusap kulit punggungku. Ciuman kami semakin intens dan semakin dalam, seperti dia mencoba melepas kemeja ku dan menyentuh tubuhku tanpa penghalang, aku melakukan hal yang sama pada dirinya, aku menaikkan kaos putihnya dan membelai perut dan dadanya dengan tanganku tanpa melepaskan ciuman kami.

Tiba-tiba saja pintu terbuka dan seseorang mengeluarkan suara terkesiap terkejut, membuat aku dan Arata menghentikan apa yang kami lakukan. Arata membantuku merapikan pakaian secepat apa yang dia bisa tanpa terlihat terburu-buru dan bersalah. Aku sempat mencuri lihat ke orang yang menangkap basah kami dan sedikit lega melihat orang tersebut adalah Pak Darrel.

“What are you doing here, Mr Darrel?”

“Saya bisa menanyakan hal yang sama pada anda dan Nina, tapi saya rasa apa yang saya lihat sudah cukup menjelaskan segalanya! Oh dan sebelum anda bertanya lagi Kitazuma san, saya berpikir untuk mempersiapkan materi berikutnya sebelum semua orang selesai beristirahat.”

“Kitazuma_san… Saya rasa, sudah waktunya saya pergi. Teman saya akan khawatir jika saya tidak segera muncul di coffee shop!”

“Ya… I’ll see you later!”

Aku meninggalkan Pak Darrel dan Arata dalam ruang gathering dan keluar menyelamatkan diri. Tawaku pecah beberapa langkah dari pintu, saat cukup yakin mereka tidak akan mendengarku. Itu adalah situasi paling konyol yang pernah aku dapati. Bercumbu dengan atasanku dan dipergoki oleh mantan atasanku yang sekarang ini adalah rekan sejawat. Sepenasaran apapun aku atas bagaimana cara Arata meng-handle masalah itu, aku takkan mau masuk kembali ke dalam ruang gathering.

Masih ada 15 menit sebelum materi berikutnya dimulai. Aku masih sempat minum dan menenangkan diri, tak lupa aku mampir ke rest room untuk membenahi dandananku sebelum muncul di depan semua orang.

“Kamu akan membuat dirimu terkena masalah!” sahut Darrel mengagetkanku,

“Darrel…” dia berjalan mengimbangi langkahku menuju lantai dasar dan menarik lenganku,

“Bercumbu dengan atasanmu di ruang rapat? Itu hal paling konyol yang pernah kamu lakukan… dan mengingat betapa jarangnya kamu melakukan hal konyol membuat ini semua terlihat lebih buruk!” omelnya lagi dengan suara yang hanya bisa kudengar,

“Well… Aku hanya bisa bilang, Arata yang memulainya…” dia berhenti menarikku dan menatapku tajam, “Kalian sudah ada pada situasi memanggil nama awal? Nina… Aku kira sudah aku katakan kepadamu untuk tidak lagi berhubungan dengan atasanmu di kantor!”

“Iya… tapi saat aku mengenalnya semalam, aku tidak tahu dia adalah atasanku! Dan tadi adalah pertama kalinya aku tahu dia adalah atasanku!” elakku lagi tanpa berusaha melepaskan cengkramannya pada lenganku,

“Alasan bodoh… Kamu tahu hierarki perusahaan ditempel di papan pengumuman HRD dan siapapun harus menghapalnya!” katanya lagi saat kami berhenti di balik tanaman palem mini di sudut belokan tepat sebelum masuk ke dalam area coffee shop,

“Well… semalam kebetulan adalah saat dimana saya tidak bisa mengingat hal itu!” kataku santai sambil memberinya ciuman ringan di pipi dan masuk menyongsong keramaian di dalam coffee shop.