Minggu, 03 Maret 2013

(4) Buletin Syi@R Islam

Alhamdulillah Telah Terbit!


Semenjak dulu, aku memang bercita-cita membuat sebuah buletin jum’at yang sedikit berbeda. Berangkat dari keprihatinan pergaulan remaja saat ini, maka aku berinisiatif membuat sebuah buletin yang bisa dibaca para remaja dan para pemuda beranjak dewasa. Isinya pun bukanlah hal-hal yang rumit namun tetap islami, disampaikan dengan bahasa yang cukup meremaja, namun para orang tua pun bisa juga untuk menikmatinya.

Jadilah Buletin Syi@R ISLAM pun lahir. Sebenarnya, ‘kelahiran’  buletin ini sudah lama, sekitar tahun 2004 lalu, sewaktu aku masih ada di Bogor. Dulu, formatnya adalah kertas HVS custom size (33 cm). Isinya pun macam-macam, disajikan dengan gaya yang santai tetapi tetap menyampaikan pesan dakwah secara islami (sesuai namanya). Hanya saja, waktu itu aku masih belum serius menjalankannya. Selain kendala dana (aku menerbitkannya menggunakan dana sendiri) dan kesibukan lain, baru sempat beredar beberapa edisi saja di masjid-masjid Bogor yang kusinggahi untuk shalat Jum’at, setelah itu hilang entah kemana.

Ketika aku kembali ke Indramayu tahun 2005, keinginan untuk melanjutkan buletin itu muncul kembali. Maka mulailah aku menerbitkannya kembali. Formatnya masih tetap sama seperti dulu. Namun lagi-lagi karena kendala biaya dan sumber daya, akhirnya buletin itu pun antara hidup dan mati sampai tahun 2008. Mulai tahun 2007, buletin ini terbit dengan format yang lebih kecil (HVS 33cm dibagi dua), namun isinya masih tetap sama.  Hanya terbit beberapa edisi dan selalu terlihat ‘aktif’ hanya pada bulan Ramadhan atau bulan-bulan tertentu saja. Hingga akhirnya, buletin ini pun mati suri, entah sampai kapan.

Bulan November 2008, aku membuka akun blog di wordpress. Semenjak itu, aku mulai aktif menulis di blog. Gara-gara blog, gairah menulisku kembali bangkit. Beberapa jenis tulisan berhasil aku buat, walaupun jumlahnya masih belum terlalu banyak. Selain itu, tahun 2009 aku mulai ikutan facebook. Tahun 2010 ini, aku mulai ikut menjadi teman facebook dengan beberapa penulis-penulis hebat yang karyanya hanya bisa kubaca tanpa bisa melihat orangnya secara langsung. Dari mereka, aku banyak belajar. Dari mereka, aku jadi tahu banyak hal. Maka semangatku kembali berkobar untuk menghidupkan kembali buletin Syi@R ISLAM yang telah lama mati suri (He..he kasian ya!). Aku jadi tahu, ternyata penulis terkenal Kang O. Solihin juga membuat buletin remaja GAULISLAM juga dengan dana pribadi. Wah, persis nih. Hanya bedanya, Kang O. Solihin tetap eksis dan buletin-nya udah beredar kemana-mana. Tekadku semakin kuat ketika membaca status Mas Gol A Gong (pendiri Rumah Dunia): “sesuatu yang biasa jika dikerjakan dengan profesional akan menjadi sesuatu yang luar biasa!”. Gara-gara kata-kata ini,  aku begitu termotivasi. Subhanallah…

Maka tekadku kembali menyala untuk menghidupkan kembali buletin yang telah lama mati suri ini. Dengan format yang masih tetap sama dengan tahun 2007, buletin ini aku isi dengan dua judul tulisan. Tulisan utama yang membahas tema-tema tertentu dan satu tulisan lagi tentang resensi singkat buku-buku yang bisa dipinjam gratis di PONDOK HATI Reading park/Taman Bacaan di Indramayu. Jika masih ada ruang, aku juga mengisinya dengan selingan humor santri. Judul bagian atas buletin ini pun telah aku ganti dengan wajah baru, mengusung motto ‘Menggoreskan Pena, Menggugah Dunia”. Dan setelah semua persiapan selesai, akhirnya dengan izin Allah, buletin ini pun terbit juga pada Jum’at 21 Mei 2010 melanjutkan edisi terdahulu yang sempat berhenti di tengah jalan. Meski dengan dana seadanya (semuanya masih swadaya pribadi), aku perbanyak buletin ini dengan jasa fotocopy (sebanyak 55 lembar, jadinya 110 eksemplar) dan mengedarkannya pada mesjid-mesjid terdekat di wilayah Karangampel. Berikut nama-nama mesjid yang bisa menikmati buletin ini:
  1. Mesjid NURUL HUDA, Mundu
  2. Mesjid AL IKHLAS, Dukuh Jeruk
  3. Mesjid SHIROTHOL MUSTAQIEM, Dukuh Tengah
  4. Mesjid MUJAHIDIN, Karangampel
  5. Mesjid DARUSSALAM, Karangampel Kidul

Alhamdulillah, buletin ini terbit rutin setiap jum’at. Semoga bisa tetap bertahan dan bisa memperluas jangkauan ke mesjid-mesjid lain. Doakan ya. Terima kasih untuk Kang O. Solihin dan Mas Gol A Gong atas semangat dan inspirasinya tiada henti. Juga penulis-penulis hebat lainnya di akun Facebook. Terima kasih juga kepada donatur yang memberi dana (ada juga yang sempat memberi dana loh) dan relawan pendistribusian (ditunggu loh), untuk kelangsungan buletin ini. Terima kasih juga untuk pembaca semuanya. Semoga semua yang kita lakukan ini berkah dan bermanfaat untuk kehidupan. Amiin….

Kendala-kendala  yang kami dihadapi:
  1. Kami kekurangan donatur untuk memperluas jangkauan buletin ke mesjid-mesjid lain. Sejauh ini, dana yang dikeluarkan berasal dari uang pribadi. Aku anggap semua itu adalah shodaqoh (katanya shodaqoh akan dibalas sepuluh kali lipat). Alhamdulillah, setiap uang yang kukeluarkan untuk membiayai penerbitan buletin ini cepat diganti oleh Allah berkali lipat jumlahnya. Aku bisa membuktikan bahwa shodaqoh yang tidak besar ini ternyata memberikan keberkahan keuangan bagi kami. Terbukti dari penerbitan buletin yang sampai saat ini masih tetap berjalan (sudah masuk ke Edisi 10). Bagi anda yang ingin berpartisipasi untuk kelangsungan buletin ini, kami sangat berterima kasih. Hanya dengan Rp. 5000,- anda bisa menyumbang penerbitan buletin ini sebanyak 35 eksemplar. Rencana ke depan, kami ingin buletin ini diperbanyak melalui percetakan, bukan difotocopy. Mohon doanya, ya.
  2. Kami kekurangan relawan untuk mendistribusikan buletin. Alhamdulillah, sebelumnya hanya diriku yang bekerja dalam ‘proyek ibadah’ ini, sekarang aku dibantu oleh Muhammad Nur Khozin, Asep Saefullah, Wargi menjalankan buletin ini. Rencana ke depan, jika dana telah mencukupi, oplah buletin ini akan aku tambah dengan menyebarkankannya pada mesjid-mesjid lain. Tentu saja perlu relawan yang siap tidak dibayar untuk hal ini. Maka jika ada yang berkeinginan untuk menjadi relawan yang mendistribusikan buletin ini, kami juga sangat berterima kasih. Ditunggu, loh.
  3. Jika anda jauh dari jangkauan kami (kami di Karangampel, Indramayu) dan berniat untuk menyebarkan buletin ini secara gratis (tentu dengan dana swadaya anda sendiri), anda bisa mengirim email ke pondok.hati@yahoo.com (dengan subject: BULETIN SYi@R ISLAM). Kami akan kirimkan softcopy-nya (ebook berupa file pdf) ke email anda, dan nama anda akan tercatat sebagai bagian dari staff distribusi buletin ini. Tentu saja dengan syarat buletin ini diperbanyak tidak untuk diperjual belikan, tetapi dibagikan gratis kepada pihak-pihak yang menginginkan, terutama untuk masjid-masjid disekitar wilayah anda berada. Dengan demikian, ada pun secara tidak langsung menjadi donatur dan relawan sekaligus seperti kami.

Semoga apa yang kita lakukan ini menjadi berkah dalam kehidupan. Menyebarkan dakwah Islam lewat tulisan (Dakwah Bil Qolam). Mari bershodaqoh, lalu perhatikan apa yang terjadi! [Hehe.. kata-kata terakhirnya meniru Pak Mario Teguh]

Wassalam,
PONDOK HATI Reading Park/Taman Bacaan
Jl. Simpang 3 Mundu Rt. 14/07 Kec. Karangampel Kab. Indramayu 45283

SMART for Success

success
http://pondokhati.wordpress.com/2013/01/06/smart-for-success/#more-2067
Dalam sebuah acara di televisi, secara tak sengaja saya mendengar sebuah kata-kata menarik yang diungkapkan Deddy Corbuzier. Kata-kata itu ternyata menjadi kata-kata penutup acara talkshow Hitam Putih hari itu. Deddy mengatakan, kunci mencapai kesuksesan adalah SMART. Selain berarti cerdas/pintar, “smart” yang satu ini ternyata merupakan sebuah akronim. S.M.A.R.T berarti :
S = Specific. Artinya spesifik. Untuk sukses, kita harus spesifik, apa mau kita. ini menunjukkan arah dan tujuan yang ingin dicapai. Ungkapan, “Saya pengin jadi orang kaya!” itu mungkin terlalu umum. Cari yang lebih spesifik, misalnya “Saya ingin jadi penulis” (kalo ini sih salah satu contoh impian saya, hehe…) atau cari yang lebih spesifik dari itu.
M = Measurable artinya terukur. Mampu tidak kita untuk mencapainya. Apakah kita punya alat-alat untuk mencapai tujuan kita menjadi seorang penulis, misalnya hobi baca buku, suka menulis banyak hal sekalipun dalam buku harian, suka memperhatikan sekitar kita, atau apapun itu.

A = Achievable artinya dapat dicapai. Semakin mudah atau sederhana suatu keinginan tentu akan semakin besar peluangnya untuk tercapai. Tetapi jangan berhenti pada hal-hal yang kecil. Teruslah untuk bermimpi sepanjang kita merasa mampu untuk mencapainya.
R = Realistic artinya realistik. Impian kesuksesan kita selain terukur tentu harus realistik untuk kita capai. Boleh punya impian selangit dan terkesan tidak mungkin, tetapi impian-impian yang lebih realistik tentu akan lebih cepat tercapai. Sekali lagi, boleh kita untuk memiliki impian yang tinggi, sepanjang kita masih mempunyai semangat tinggi untuk mencapainya.
T = Time artinya jangka waktu. Ini penting. Kita pengin sukses, tapi tak tahu kapan terjadi? Dengan memberikan jangka waktu, kita seperti terpacu untuk bisa mencapainya dengan sekuat tenaga. Misalnya, 1 tahun dari sekarang saya harus punya minimal satu buku. Ini tentu lebih membuat kita terpacu untuk segera mencapai target. Memang sih, semua perlu proses dan waktu akan menjawab semua tanya kita tentang arti kesuksesan.
Aha. Penjelasan Dedy ini bikin saya angguk-angguk geleng-geleng. Bagi saya ini sebuah pengetahuan baru yang bisa kita coba untuk terapkan. Apapun mimpi kita, apapun keinginan kita. Banyak yang harus saya benahi terutama soal “time” atau “target jangka waktu”, dan musuh bebuyutan bernama “kemalasan”. Saya mulai menata hati, niat dan semangat. Saya pun mulai belajar untuk menulis ulang resolusi saya tahun ini dengan metode smart. Bagaimana menurut anda? Semoga bermanfaat.
In the rama you, 060113 (rewrite)

Kehitamanku

islam Aku pernah hitam. Dalam kelam, aku tertipu diriku yang semu. Baluran keinginan menggema, menarikku, lalu menyeret jiwaku yang rapuh menuju lubang keresahan tak berkepastian. Sesal pun datang di bayang belakang. Terus berulang. Memaksaku menjadi sehitam arang, sehitam kelam.
Lalu, terbit inginku untuk melawanmu, menaklukkan diri sendiri. “Aku harus bisa!” kataku dengan tekad baja. Lagi, bagai hukum III Newton, setiap aksiku sebesar reaksimu. Aku kalah!
Ribuan ampun kumohon pada-Nya atas segala dosa yang memasir, sebanyak itupula aku kembali lupa dan mengulang kesalahan yang sama. Menghitamkan diriku. Menodakan putihku.
Duhai Rabbi, hanya kepada-Mu kuserahkan diriku. Malu kusebut namaku kepada-Mu. Begitu banyak hitam dalam diriku, dan Engkau masih saja memberi rahmat-Mu tanpa henti. Betapa luas karunia-Mu untuk hamba yang hina ini.
Dalam diam, aku merenung. Tangisku pecah, “Berapa banyak nikmat Tuhan-Mu yang kau dustakan?”
“Berapa banyak nikmat Tuhan-Mu yang kau dustakan?”
“Berapa banyak nikmat Tuhan-Mu yang kau dustakan?”
T-u-h-a-n, ampuni aku…
in the rama you,
031106/291012/150213 Sumber : http://pondokhati.wordpress.com/?ref=spelling

Jumat, 11 Januari 2013

Penyesalan

Oleh Titih Cmile pada 22 Juli 2009 pukul 10:09 ·
 
Kau tlh tncApkn luka dhtiq
mmbKz pRIh msiH trSA. .
Ku cbA mREdm mua yg trjdI. .
Nmun tetap sja q tak bsa. .
Mngkn trllu dlm skit yg kinI q rsa
q mnYSAl tlH mNcntaimu. .
mua nEY bknlh yg q hrapn kau brkn cnta sSAat Tukq
trnyta q slh mNlai drmu mMng kau tak pntz mNjdi mliku
stlh q tau siapa drmu. .
Smkin bsR kbncianq.
Msah sdh harapn 2 brSMa. .
TibALH ahiR sbuah crta. .
Suka · · Bagikan

M0tto hidupku

Oleh Titih Cmile pada 23 Juli 2009 pukul 7:27 ·
 
Jgnlah kau mbrikn sSWTu eanG Tak pSti kRN MmbwT Ss0rgkn mrSkn pEdiHy rSa akId hAti. .
Dan jGnlAH Kau bRhrP SswTu eAnG TAk pSTi krN PD AKHRykn sngaT MnYkidkn

it will be

Oleh Nurlatifah Afni pada 27 Oktober 2012 pukul 20:10 ·
Verse 1:
There’s nothing I could say to you
Nothing I could ever do to make you see
What you mean to me

All the pain, the tears I cried
Still you never said goodbye and now I know
How far you’d go

Refrain:
I know I let you down
But it’s not like that now
This time I’ll never let you go

Chorus:
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart
All my life, I’ll be with you forever
To get you through the day
And make everything okay

Verse 2:
I thought that I had everything
I didn’t know what life could bring
But now I see, honestly

You’re the one thing I got right
The only one I let inside
Now I can breathe, coz you’re here with me

Refrain:
And if I let you down
I’ll turn it all around
Coz I will never let you go

Chorus:
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart
All my life, I’ll be with you forever
To get you through the day
And make everything okay

Bridge:
Coz without you I can’t sleep
I’m not gonna ever, ever let you leave
You’re all I’ve got, you’re all I want
Yeah…

And without you I don’t know what I’d do
I can never, ever live a day without you
Here with me, do you see,
You’re all I need

Chorus:
And I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart

All my life (my life), I’ll be with you forever
To get you through the day
And make everything okay

Chorus:
I will be, all that you want
And get myself together
Coz you keep me from falling apart

And all my life, you know I’ll be with you forever
To get you through the day
And make everything okay (more)
 

Tasya - Beranjak Dewasa

 




01. Say No
02. Sehari Tak Cukup Sekali
03. Hadiah
04. Tinggal Bilang
05. Ibu Apa Kabar
06. Dor...Dor...Dor...
07. Ingin Lihat Kamu Langsung
08. Dia Ku Pilih
09. Hipnotize
10. Dag Dig Dug
11. Kau Pergi Saja
12. Beranjak Dewasa

Rabu, 19 Desember 2012

windows 8 lenka



dowblod

Katakanlah Cinta Kepada Istrimu





Dari gesture-nya aku tahu pasti: dia ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa tho? Mbok terus terang saja, jangan ditahan, nanti malah bikin stres lho!"

Aku memecah keheningan suasana malam itu.

"Tapi Mas jangan marah lho ya!" pinta istriku dengan serius.
"Astaghfirullahal adziim… Belum - belum kok sudah su'udhon sama suami gitu… "
"Aku mau cerita kalau Mas janji nggak marah… " masih serius dia memohon, menambah penasaranku akan apa yang akan dia sampaikan.
"Baiklah, insya Allah aku tidak akan marah."
"Sebenarnya Mas ini sayang sama Dik Rani nggak sih, Mas?" Prolognya mengejutkanku. Dan klasik sekali, tipikal laki laki di negeri ini, aku menjawab dengan:
"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Tuh, kan! Mas marah, kan... "

"Tetapi mengapa kau bertanya begitu? Mengapa?!" Egoku sebagai laki laki meninggi.

"Kalau Mas marah gitu aku nggak jadi cerita..." Dengan sedikit menggeser badannya dari tempat ia duduk, dan dengan mimiknya yang seolah tanpa dosa itu, ia seakan hafal bagaimana menaklukkanku.

"Baiklah... Mengapa kau bertanya begitu?" Aku tetap tidak menjawab pertanyaannya.

Entah mengapa, laki laki di negeri kami amat jarang mengungkapkan kata-kata cinta bahkan kepada istrinya sekalipun. Bahkan ketika ditanya dengan pertanyaan segamblang itupun, terasa kelu lidah ini untuk sekedar menjawab, "Aku sayang padamu, Dik..."

Bagi kami, para laki - laki, cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta adalah memberikan kepada orang orang yang kami cintai apa yang mereka butuhkan. Cinta adalah bekerja keras membanting tulang mencari nafkah untuk diberikan kepada anak, istri dan orang tercinta kami. Cinta itu demikian kuat, demikian dalam, demikian terang memancar dari dalam hati kami hingga kami sangat yakin bahwa rasa cinta itu sanggup menembus hati istri - istri kami meskipun tidak pernah kami ucapkan.

Kuatnya keyakinan itu membuat kami memaksa istri - istri kami memahami hal itu: Jangan pernah kalian tanyakan cinta kami, sebab cinta kami adalah cinta murni, bukan cinta basa basi dengan penuh kata kata puisi. Cinta kami adalah dengan memberi bukti, bukan obral janji.

Maka ketika cinta ditanyakan, bahkan ketika belum dipertanyakan, bagi kami terdengar sebagai sebuah vonis: engkau belum bisa memberikan yang terbaik untukku!

Itulah kami, para lelaki. Pertanyaan sederhana yang hanya membutuhkan jawaban sederhana: ya atau tidak, menjadi sebuah pertanyaan kompleks yang kental dengan beratus prejudice: Mas tidak cinta kepadaku karena nafkah yang mas berikan sedikit; atau: Mas tidak cinta kepadaku karena banyak permintaanku yang belum Mas penuhi; atau Mas tidak cinta kepadaku karena aku lihat akhir akhir ini sering pulang terlambat... dst.

"Mas harus jawab dulu pertanyaan dik Rani, sebenarnya Mas sayang nggak sama dik Rani?" Mimiknya mulai serius.
Penasaran dengan background pertanyaan itu, aku melunak:

Baiklah, dik! Mas Anto sayang banget sama dik Rani.

Bener?!

Betul!

Terima kasih, mas Anto! Sekilas kulihat rona merah di pipi istri tercintaku.

Suasana menjadi agak hening. Aku menjadi kikuk. Belum pernah aku alami fragmen itu sepanjang pernikahan kami yang sudah menghasilkan dua anak ini. Kayak di sinetron saja, pikirku. Aku termasuk orang yang berpendapat kisah - kisah dalam sinetron adalah kisah di dunia lain. Dunia nyata harus berbeda dengan dunia sinetron.

"Sekarang gantian mas Anto yang tanya. Mengapa Dik Rani bertanya seperti itu?" Aku memecah keheningan sesaat itu

"Dik Rani bersedia menjawab asalkan Mas Anto janji dulu."

"Janji apa?"

"Janji nggak marah setelah mendengar jawaban dik Rani."

Jiwa kelelakianku kembali terusik. Pasti jawabannya tidak menyenangkan dan pasti mengundang kemarahanku.

Tetapi kali ini, karena rasa penasaranku yang semakin menjadi – jadi, aku bisa mengontrol diri, dan menjawab:
"Mas Anto janji nggak akan marah..".

Tentu saja kata kata itu hanya untuk mempercepat aku memperoleh jawaban dari istriku, mengapa ia bertanya seperti itu.

"Mas, Dik Rani sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengungkapkan hal ini..."

Prolognya mengakselerasi degup jantungku.

"Dalam sebulan ini Dik Rani beberapa kali bermimpi. Dan dalam dua minggu terakhir ini mimpi itu semakin sering hadir dalam tidur Dik Rani.
Dalam mimpi – mimpi itu dik Rani bertemu dengan teman teman laki – laki sekelas dik Rani waktu SD, SMP dan SMA.. Orangnya lain – lain, tetapi mimpinya sama, Mas...! "

Rani berhenti bercerita. Matanya mulai berkaca – kaca. Kalimatnya menjadi bergetar di akhir kalimat..

Setelah menyeka air matanya yang mulai mengalir, ia melanjutkan ceritanya.

"Dalam mimpi - mimpi itu selalu saja teman - teman Dik Rani bilang..."

Ia berhenti lagi. Air matanya semakin deras

"Mereka bilang, aku sayang sama kamu, Rani!....". Tangisnya pun pecah mengiringi kalimat terakhirnya itu.

Bagai disambar petir kepala ini. Seluruh darahku terasa naik ke kepala.
Aku marah bukan kepalang. Aku cemburu. Dan sejurus kemudian, aku
menghakimi: Dasar istri tak tahu diuntung! Punya suami baik – baik kayak gini kok malah membayangkan laki – laki lain. Bagaimana tidak? Darimana datangnya mimpi - mimpi itu kalau tidak dari angan angan yang kuat?

Seakan tahu pasti bakal reaksiku, si Rani istriku segera membela diri.

"Tapi, Mas! Demi Allah! Dik Rani tidak pernah mengingat ingat mereka, apalagi membayangkan mereka! Sungguh, Mas! Demi Allah!"

Aku tetap diam menahan marah.

"Lihatlah, Mas! Kalau memang dik Rani membayangkan mereka, tidak mungkin dik Rani bilang ke Mas Anto seperti ini!"

Kalimat terakhir ini sedikit memancing logikaku bekerja, setelah beberapa saat mati total karena seluruh energiku terkuras ke emosiku. Tetapi kemarahanku sudah terlanjur mencapai puncaknya. Kemarahan memang membuat logika tidak bisa bekerja. Untungnya aku segera tersadar. Teringat perintah Rasulullah SAW, aku segera mengambil wudhu. Kemarahanku sedikit mereda. Tapi belum benar – benar padam. Seperti biasa, jika marah aku terdiam dan tidak mau melihat wajah istriku.
Meskipun masih satu ranjang, malam itu kami tidur saling menghadapkan punggung; posisi tidur yang diccela oleh Rasulullah SAW.

Malam itu barangkali adalah malam terburuk sepanjang sejarah pernikahanku dengan Rani, adik angkatan di bangku kuliahku. Seperti layaknya pernikahan para aktifis masjid di kampus, kami diperkenalkan, dan dijodohkan oleh ustadz kami. Pernikahan kami adalah pernikahan gaya baru untuk ukuran masyarakat kami. Kami tidak melewati masa masa pacaran. Begitu diperkenalkan, kemudian ada chemistry di antara kami, tahapan selanjutnya adalah langsung ke jenjang pernikahan. Pesta pernikahan kami pun sederhana. Maklum, kami menikah sebelum kuliah kami selesai. Kami tidak ingin membebani orang tua kami dengan biaya pernikahan yang sangat tinggi, sementara kami belum mandiri secara finansial.

Hari demi hari, bulan demi bulan kami menjalani kehidupan rumah tangga kami. Dua anak pun sudah dikaruniakan kepada kami. Sebelum lulus kuliah, aku bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar terkemuka. Di samping itu aku juga melayani les privat untuk tetangga rumah kontrakanku. Setelah lulus aku bekerja pada sebuah perusahaan engineering consultant. Sementara itu Rani sibuk dengan dua jagoan kami yang memang masih membutuhkan ibunya full – time; Rani tidak bekerja. Saya yakin model keluarga kami adalah tipikal keluarga aktifis dakwah kampus.

Hingga kejadian malam itu, aku merasa Allah telah menjadikan keluarga kami menjadi tauladan bagi pasangan muda di komunitas kami. Setidaknya itulah yang pernah kudengar dari beberapa temanku. Aku merasa menjadi laki laki paling bahagia di muka bumi. Kami tampak selalu rukun, tampak harmonis, dan bisa dibilang tidak ada pesoalan rumah tangga yang serius di keluarga kami. Tidak ada persoalan finansial, komunikasi antar pasangan, atau persoalan tidak segera mendapat momongan; tiga persoalan utama yang sering kami temui di keluarga teman - teman kami. Tetapi pengakuan Rani malam itu sungguh membuat aku merasa hancur. Kebahagian yang selama ini aku banggakan ternyata hanyalah kebahagiaan semu. Aku merasa gagal. Keharmonisan keluarga kami yang dilihat orang ternyata nol besar. Aku merasa sedih, karena ternyata aku gagal melihat kenyataan bahkan ketika kenyataan itu adalah kehidupanku sendiri.

"Ustadz, bisa minta waktu sebentar, saya ada persoalan yang ingin saya diskusikan dengan ustadz."

"Persoalan apa?"

"Masalah rumah tangga, ustadz!"

"Mau nikah lagi?"

"Ah, enggak ustadz! Saya sedang ada persoalan dengan Rani."

"Baik, nanti malam ba'da 'isya' insya Allah saya ada di rumah."

"Jazaakallahu khairan, Ustadz!"

"Amiin, walakum."

Ustadz Rahmat adalah salah satu ustadz kami. Di kalangan aktifis, beliau terkenal sebagai ustadz spesialisasi rumah tangga. Beliau menjadi perantara pernikahan hampir semua aktifis. Beliau juga biasa menjadi rujukan teman – teman ketika mendapat persoalan dalam kehidupan rumah tangga. Pagi itu, setelah acara ta'lim pagi yang biasa diselenggarakan di masjid kampus, saya membuat perjanjian dengan beliau untuk mengkonsultasikan premasalahan yang sedang saya hadapi.

"He he he.... . Anto..., Anto.!" Ustadz Rahmat tersenyum setelah mendengar penuturanku tentang mimpi - mimpi Rani; termasuk juga kecemburuanku dan perasaan kegagalanku.

" Aku tidak mengira, ternyata kau dan Rani yang selama ini tampak harmonis ternyata punya masalah juga. Sebenarnya ini masalah klasik, dan sederhana sekali. Bahkan sudah sering menjadi tema dalam kajian – kajian. Jadi... sekali lagi saya terkejut juga mendengar penuturanmu. "

Aku terdiam. Aku mencoba mengingat ingat materi kajian yang pernah kuikuti. Tetapi aku tidak mendapatkan satupun yang relevan dengan kasusku.

"Coba ambil kitab riyadhus-shalihin di rak buku itu!" ustadz Rahmat memintaku mengambil kitab riyadhus shalihin terjemahan bersampul biru di rak buku di belakangku. Tidak sulit aku mendapatkannya. Riyadhus shalihin adalah kitab kumpulan hadits yang biasa kami telaah, baik di pengajian - pengajian rutin maupun bacaan kedua di rumah tangga setelah AlQur'an.

"Bab berapa ustadz?" Seperti biasa, kamilah yang beliau minta membuka dan membaca sendiri ayat atau hadits yang ada di dalam sebuah kitab, ketika beliau ingin mengajari kami sesuatu.

"Coba buka bab keutamaan cinta karena Allah, di jilid I. Kira kira halaman 300-an. Sedemikian seringnya kitab itu dijadikan rujukan, ustadz Rahmat hafal betul letak halamannya."

Dan, terbukalah halaman 317, tertulis judul: Pasal: Keutamaan cinta karena Allah, dan menganjurkan serta memberitahu kepada Allah, dan orang yang dicinta karena Allah, dan jawaban orang yang diberitahu.

"Sudah ketemu?"

"Sudah, Ustadz!"

"Coba kamu baca hadits terakhir dari Pasal itu!"

"Baik, Ustadz!"

Aku balik lembar demi lembar, dan sampailah mataku tertuju hadits nomor 11, hadits terkahir dari Pasal keutamaan cinta karena Allah.

"Anas r.a. berkata: Ada seseorang duduk di sisi Nabi SAW, tiba tiba lewatlah seorang laki – laki, dan berkatalah orang yang duduk di sisi Nabi SAW tersebut: "Wahai Rasulullah, sungguh saya sangat menyayangi orang itu." Nabi SAW bertanya, "Apakah sudah kauberitahu padanya, bahwa kau cinta kasih kepadanya?" Jawabnya: "Belum.". Lantas bersabda Nabi SAW: "Beritahulah ia!". Maka dikejarnya orang itu dan berkatalah ia kepadanya, "Sungguh, demi Allah, Aku sayang cinta kepadamu!". Maka orang itu menjawab, "Semoga Allah menyayangi dan mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku karena Dia." (HR. Abu Dawud).

Aku terdiam setelah membaca hadits itu. Aku tertegun, seakan akan hadits itu baru saja aku baca. Padahal, secara logika, seharusnya hadits itu seharusnya sudah aku baca dan aku pelajari, sebab sudah dua kali aku mengkhatamkan riyadhus shalihin. Tak terasa, air mata meleleh membasahi pipiku.

"Anto,..." Ustadz Rahmat memecahkan keheningan sesaat itu. "Berapa kali kau sampaikan kepada istrimu bahwa kau mencintainya karena Allah?"

Aku terdiam. Sejurus kemudian aku menjawab, "Belum pernah, Ustadz!"

"Anto, ketahuilah, wahai saudaraku; manusia tidak bisa membaca kata hati manusia yang lain. Tidak pula dengan malaikat. Hanya Allah dan kitalah yang tahu isi hati kita masing – masing. Karena itulah, Rasulullah mengajarkan kepada kita, kalau kita mencintai seseorang karena Allah, maka sampaikan kepadanya bahwa kita mencintainya. Apalagi dengan istri – istri kita."

"Tetapi, ustadz, tidak cukupkah perbuatan dan kebaikan saya kepada istri saya selama ini menjadi bukti cinta saya kepadanya?"

"He he he... . Seharusnya sudah cukup. Paling tidak menurut pikiranmu.
Tetapi tidak menurut Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang barusan kaubaca. Ingatlah, wahai Anto, Allah menciptakan manusia berbeda – beda. Jangan kau samaratakan semua orang. Jangan kau anggap semua manusia memiliki nalar dan perasaan seperti yang kau punya. Apalagi wanita, Anto! Mereka adalah makhluk Allah yang penuh misteri. Bahkan Allah swt sampai membuat surat An-Nisa' di dalam AlQur'an, seakan mengingatkan kepada kita untuk berhati – hati bergaul dengan mereka. Wanita itu, wahai Anto, diciptakan Allah dengan sifat sifat kelembutan dan kasih sayang. Perasaan mereka lebih lembut dan lebih sensitif dibandingkan kita para lelaki. Mereka butuh kasih sayang, dan ungkapan kasih sayang dengan kata kata adalah salah satu kebutuhan dasar mereka. Sesungguhnya kita para lelakipun memiliki kebutuhan dasar itu, namun tidak sekuat kebutuhan para wanita. Tahukah kau apa yang terjadi pada Rani istrimu? Hatinya gersang akan ungkapan kasih sayang. Ibarat tanah di musim kemarau yang merindukan datangnya hujan, hati rani sudah bertahun tahun tidak pernah disiram dengan kata kata kasih sayang. Seharusnya kau yang menyiram hatinya dengan untaian kata kasih sayang. Namun karena kau egois dan menganggap bahwa kau tidak perlu mengungkapkan perasaanmu, maka orang lainlah yang menyirami hati Rani yang gersang itu. Saya yakin, Rani benar dengan pengakuannya bahwa ia tidak membayangkan kawan – kawan masa lalunya. Mimpi – mimpi itu muncul dari alam bawah sadar Rani yang sudah sedemikian kering dan haus akan siraman ungkapan kasih sayang."

Aku merasa amat bodoh di hadapan ustadz Rahmat. Aku tidak bisa berkata apa – apa.

"Sekarang, pulanglah, mintalah maaf kepada istrimu, dan sampaikan padanya, bahwa demi Allah, kau mencintainya. Insya Allah mimpi – mimpi itu tak kan pernah datang lagi dalam tidur Rani."

Sejenak kemudian aku mohon pamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Ustadz Rahmat. Dan, seperti biasa, ustadz Rahmat melepas kepergianku hingga pintu gerbang pagar rumah beliau, dan selalu dengan senyum khas beliau itu: senyum khas seorang Ustadz Rahmat.

Malam itu barangkali akan menjadi malam terindahku dengan istriku. Sulit kulukiskan dengan kata – kata, bagaimana malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir lima tahun menikah dengannya, aku ucapkan, "Demi Allah, Aku mencintaimu, Rani!" Bagaimana reaksi Rani, bagaimana syahdunya suasana malam itu biarlah menjadi kenangan kami sendiri. Aku tidak kuasa melukiskannya dengan kata – kata, sebab kalimat apapun yang kupilih, tidak bisa menggambarkan indahnya suasana malam itu.

Dan Alhamdulillah, setelah malam itu, Rani tidak lagi dihampiri teman – teman lamanya dalam tidurnya.

Abadikanlah cinta kami dalam ridhaMu, ya Allah!

Nilagraha, Mei 2008

Nama – nama dalam tulisan di atas adalah fiktif, namun kisahnya adalah kisah nyata sebagaimana dituturkan pelaku kepada penulis. Keluarga "Anto dan Rani" sekarang tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah, dan hingga kini dikaruniai 5 orang anak.

SILAHKAN PILIH TAHUN LAHIR MU SOB


SILAHKAN PILIH TAHUN LAHIR MU SOB →

1988 - 1989

1990 - 1991
...
1992 - 1993

1994 - 1995

1996 - 1997

1998 - 1999

2000 - 2001

KLIK TULISAN BIRU-NYA,, LALU SUKAI HALAMANNYA.
MAKA KAMU BISA CARI PASANGAN SERASI KAMU DISANA.

GABUNG DISINI ►Aku Cinta Indonesia