“Ya Rasulullah”, kata ‘Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti kucinta diriku sendiri.”
Beliau Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri sendiri dan keluargamu.”
“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”
Kisah ini, dulu saya takjub bertanya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam ‘Umar ibn Al Khathab menata ulang cintanya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejap. Ah, alangkah indahnya jika saya begitu.
Bagi saya tak semudah itu. Cinta berhubungan dengan ketertawanan hati yang tak gampang dialihkan. Tetapi ‘Umar bisa. Dan mengapa dia bisa?
Ternyata cinta bagi ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berrumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.
*****
Erich Fromm menguraikan dalam karyanya The Art of Loving, “Cinta merupakan seni maka cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Sayang, pada masa ini cinta lebih merupakan masalah dicintai (to be loved), bukan mencintai (to love) atau kemampuan untuk mencintai.”
Ya. Persoalan cinta menjadi tidak sederhana, karena cinta dalam latar pikir adalah persoalan ‘dicintai’. Itu adalah sesuatu yang diluar kendali penuh jiwa kita. Kita dicintai atau tidak bukanlah suatu hal yang bisa kita paksakan. Dunia di luar sana punya perasaannya sendiri, yang kadang secara aneh memutuskan siapa yang layak dan tak layak dicintai.
Tak semesti bagaimana Anis Matta mengungkapkan kesederhanaannya, “dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah melankonik saat kasih kandas karena takdirNya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: MENCINTAI.”
Tak sederhanakah cinta? Tidak.
Mari kita sederhanakan persolannya. Bahwa cinta, sebagaimana ‘Umar memahaminya adalah persoalan berusaha untuk mencintainya. Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau paras tampan. Bahwa sebagimana cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah.
Disini kalimat seorang suami yang suatu hari mengadu untuk bercerai menjadi tak relevan, “aku sudah tak mencintaimu lagi!” Justru karena kau tak mencinatinya lagi, maka cintailah dia. Karena cinta adalah kata kerja.
Disini kalimat seorang istri yang menerima seorang lelaki dengan keterpaksaan juga tak mempan. “Aku tidak mencintainya.” Engkau bisa memilih. Untuk mencintai atau membenci. Dan dalam keadaan kini, mencintai adalah pilihan yang lebih masuk akal. Bukan perasaan itu. Mungkin ia memang belum hadir. Yang ku maksudkan adalah sebuah kerja untuk mencintai. Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya. Kerjakan cinta yang ku maksudkan agar kau temukan cinta yang kau maksudkan. Karena cinta adalah kata kerja. Bukan ‘perasaan cinta’ melainkan ‘kerja cinta’.
Bagaimana Allah menegaskan,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mngetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah, 2:216)
Beginilah, cinta.. sebuah kata kerja sebuah kerja cinta untuk mencintai.
Beliau Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri sendiri dan keluargamu.”
“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”
Kisah ini, dulu saya takjub bertanya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam ‘Umar ibn Al Khathab menata ulang cintanya dalam sekejap? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta pada sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejap. Ah, alangkah indahnya jika saya begitu.
Bagi saya tak semudah itu. Cinta berhubungan dengan ketertawanan hati yang tak gampang dialihkan. Tetapi ‘Umar bisa. Dan mengapa dia bisa?
Ternyata cinta bagi ‘Umar adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Ia tak berrumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.
*****
Erich Fromm menguraikan dalam karyanya The Art of Loving, “Cinta merupakan seni maka cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Sayang, pada masa ini cinta lebih merupakan masalah dicintai (to be loved), bukan mencintai (to love) atau kemampuan untuk mencintai.”
Ya. Persoalan cinta menjadi tidak sederhana, karena cinta dalam latar pikir adalah persoalan ‘dicintai’. Itu adalah sesuatu yang diluar kendali penuh jiwa kita. Kita dicintai atau tidak bukanlah suatu hal yang bisa kita paksakan. Dunia di luar sana punya perasaannya sendiri, yang kadang secara aneh memutuskan siapa yang layak dan tak layak dicintai.
Tak semesti bagaimana Anis Matta mengungkapkan kesederhanaannya, “dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah melankonik saat kasih kandas karena takdirNya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: MENCINTAI.”
Tak sederhanakah cinta? Tidak.
Mari kita sederhanakan persolannya. Bahwa cinta, sebagaimana ‘Umar memahaminya adalah persoalan berusaha untuk mencintainya. Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau paras tampan. Bahwa sebagimana cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah.
Disini kalimat seorang suami yang suatu hari mengadu untuk bercerai menjadi tak relevan, “aku sudah tak mencintaimu lagi!” Justru karena kau tak mencinatinya lagi, maka cintailah dia. Karena cinta adalah kata kerja.
Disini kalimat seorang istri yang menerima seorang lelaki dengan keterpaksaan juga tak mempan. “Aku tidak mencintainya.” Engkau bisa memilih. Untuk mencintai atau membenci. Dan dalam keadaan kini, mencintai adalah pilihan yang lebih masuk akal. Bukan perasaan itu. Mungkin ia memang belum hadir. Yang ku maksudkan adalah sebuah kerja untuk mencintai. Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya. Kerjakan cinta yang ku maksudkan agar kau temukan cinta yang kau maksudkan. Karena cinta adalah kata kerja. Bukan ‘perasaan cinta’ melainkan ‘kerja cinta’.
Bagaimana Allah menegaskan,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mngetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah, 2:216)
Beginilah, cinta.. sebuah kata kerja sebuah kerja cinta untuk mencintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar