ahun 2012 tepatnya
pada bulan April hari Kamis malam Jum'at, Ibu saya melahirkan anak
perempuan kedua. Sehingga saya waktu itu mempunyai dua saudara wanita.
Sebelum waktu kelahiran adik saya, terlihat mukanya yang begitu
penyabar. Yah, menahan rasa sakit yang rasanya menyayat badan. Tidak
saya bayangkan waktu itu, kalau-kalau Ibu saya harus melahirkannya di
rumah sakit persalinan. Oksigen yang terkandung pada paru-paru Ibu saya
tersendat sehingga tidak kuat lagi untuk menarik nafas sebagai penguat
bagi keluarnya sang cabang bayi. Sore-sore sekali, saya dan Ibu saya
beserta Pa Supir dan bidan langsung ke rumah sakit bersalin hanya untuk
menyelamatkan sang bayi. Betapa paniknya, subhanaallah wal hamdulillah
Allahuakbar. Panik, bingung, khawatir, takut ada apa-apa dengan Ibu saya
dan rasa-rasa lain yang tercampur aduk jadi satu.
Tinggal
10 Km lagi menuju rumah sakit, mobilnya tiba-tiba macet. Waduh tambah
tidak karuan, semua yang ada di dalam mobil benar-benar panik banget.
Melihat wajah ibu saya yang memucat, badan serasa tidak mau jauh-jauh
dari Ibu. Mudah-mudahan Allah menolong Ibuku, doa saya waktu itu. Mata
yang tidak bisa bohong ini, mengeluarkan tetesan airnya. Berusaha untuk
tidak diketahui oleh Ibu saya, sesegera saya mengusapnya. Dalam hati
berkata, inilah tanggung jawab seorang lelaki, yang harus mampu
mengimami disaat apapun.
Alhamdulillah, akhirnya menyala juga mesin mobilnya. Ayu jalan lagi, kata Pak Sopir. Ayu Pak, kata saya.
...............
Sampai
di rumah sakit pukul 17.55 wib. Ibu saya langsung dibawa ke tempat
persalinan. Dan juga langsung di infus. Dengan sikap saya yang masih
seorang anak SMA kelas 2. Masya Allah!!! Tambah menegangkan. Wah,
bener-bener ini bukan hal yang sepele, ini sudah menyangkut nyawa! Ya
Allah selamatkanlah Ibu saya. Karena paniknya sahabat.
Allahuakbar!
Ternyata membutuhkan 3 jam untuk mengeluarkan si cabang bayi dari
kandungan. Bukan main, bagaimana dengan energi Ibu saya? Alhamdulillah,
Allah menyelamatkan Ibu saya. Tepat pukul 21.15 si cabang bayi keluar
dari kandungan Ibu saya. Dengan selamat sentosa tanpa harus menyesar Ibu
saya. Terharu, bangga dengan pengorbanan Ibu saya dan benar-benar ini
adalah hal terluarbiasa juga teristimewa dalam hidup saya merasakan
langsung tentang perjuangan Ibu untuk anaknya.
................
Sahabat
tahukan? Bahwa Ibu kita adalah penyelamat atas hidup kita yang oleh
Allah dijadikan sebagai perantara hidup. Memang ini naluri seorang Ibu
untuk anaknya, tapi apakah kita enggan mencoba untuk menghargai perjuangannya?
Merelakan nyawa untuk kehidupan kita. Sungguh tidak sebanding dengan
sebesar apapun materi yang diberikan ke Ibu kita dari hasil jerih payah
kita. Semoga Allah senantiasa melindungi Ibu kita dimanapun ia berada,
dikuatkannya imannya dan Allah merahmatinya.
Dengan perjalanan
hidup saya yang satu ini terlintas sebuah perasaan yang menyatakan,
"Wanitaku Penghebatku". Darinya kita diajarkan sebuah kebikan-kebaikan,
mengenalkan kita dengan Allah, Tuhan kita, dibimbingnya kita untuk
membaca ayat-ayatnya, diajarkannya kita untuk menjadi pribadi yang
penyabar, penyantun, peramah dan penderma.
Kita
sadari, dengan keberadaan Ibu kita di dunia ini menghebatkan hidup kita
yang sebenarnya. Karena izin-Nya berada pada izin Ibu kita,
merefleksikan dalam hidup kita bahwa dengan Ibu kita, kita dapat
dihebatkan oleh Allah langsung. Cepat seperti kilat yang menyambar.
Yuk
sekarang kita sama-sama belajar untuk mengindahkan kehidupan ini untuk
dihadihkannya kepada Ibu kita yang telah melahirkan kita di dunia ini.
Karena Ibu adalah Wanitaku Penghebatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar