Selasa, 15 Juli 2014

Cara menghindari sifat S0mb0ng.



Di era yang serba modern dan canggih saat ini
mengubah pola pikir muslim dan muslimah
menjadi lebih gengsi, lebih cuek, lebih tampil
kebarat-baratan yang berorientasi pada
kesombongan belaka. Padahal sifat sombong itu
dilarang oleh Allah azza wa jalla. Bagaimana
menyikapi atau membubarkan penyakit sombong
pada diri kita? Berikut ini caranya:
(1) Hindari Banyak Bicara
Tidak banyak bicara terlebih pada hal-hal yang tidak
bermanfaat. Pembicaraan yang kita ucapkan sering
kali hanya membicarakan mengenai kelebihan
yang kita punya. Hal-hal yang dianggap dapat
membanggakan diri dibicarakan kepada semua
orang. Padahal titik awal dari penyakit sombong
adalah berawal dari pembicaraan ini. Oleh karena
itu, marilah kita hindari banyak bicara yang tidak
bermanfaat.
"Di antara orang yang aku cintai dan paling dekat
tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah
orang yang paling baik akhlaqnya. Dan
sesungguhnya orang yang paling aku benci dan
paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang
banyak bicara dan orang yang berbicara dengan
mulut penuh (untuk mempertontonkan
kefasihannya) dan orang yang banyak bicaranya,
serta membuka mulutnya lebar-lebar." (HR.
Mutafaq 'alaihi)
(2) Sikap Rendah Hati, Bukan Rendah Diri
Selalu rendah hati adalah kunci untuk memerangi
sifat sombong. Tapi perlu diingat! rendah hati
bukanlah rendah diri. Maksud dari rendah hati yaitu
senang berlaku baik terhadap semua orang. Selalu
menolong orang-orang yang membutuhkan
bantuan kita. Sehingga kita tidak lakunya berlagak
sombong.
"Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan
kepadaku agar kalian bertawadhu', sehingga tak
seorang pun menyombongkan diri kepada yang
lain, atau seseorang tiada menganiaya kepada yang
lainnya." (HR.Muslim)
(3) Jangan Merasa Dermawan
Tips lain untuk menghindari perilaku sombong
yaitu melupakan pemberian yang kita berikan.
Jangan sampai kita mengungkit-ungkit apa pun
yang kita berikan kepada orang lain. karena itu
menunjukkan bahwa kita memberinya dengan
tidak ikhlas. Rasulullah saw mengatakan "jika
tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan
kirimu tahu" maksudnya yaitu jika kita memberi
sesuatu jangan sampai tahu orang lain. Harus
ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah azza wa
jalla semata.
Orang-orang yang menafqahkan hartanya di jalan
Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafqahkannya itu dengan menyebut-nyebut
pemberiannya dan dengan tidak menyakiti
(perasaan si penerima), mereka memperoleh
pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan
pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang
diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan
(perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha
Penyantun. (QS. Al-Baqarah : 261-263)
(4) Tebarkan Salam
Selalu memberi salam dan menyapa kepada setiap
muslim dan muslimah merupakan ibadah. Karena
jika kita melakukannya berarti menunjukkan bahwa
kita berlaku sombong. Tidak memaling muka kita
kepada orang-orang sekitar. Dan insyaAllah cara ini
sangat mudah kita lakukan.
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di
tangan-Nya, tidaklah kalian masuk surga sehingga
kalian beriman dan tidaklah kalian beriman
sehingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah
aku tunjukkan kepada kalian pada suatu perkara
apabila kalian mengamalkannya kalian akan saling
berkasih sayang ? Tebarkanlah salam diantara
kalian !". (HR. Tirmidzi)
(5) Senantiasa Bersedekah
Dan hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu
sering-sering bersedekah. Jangan sampai kita
karena merasa kaya lalu bersikap kikir dan angkuh.
Kita harus sering-sering "melihat orang yang
dibawah kita". Sehingga kita senantiasa tidak
bersikap berlebihan dalam berbagai hal. Dan
sedekah ini juga kita gunakan untuk membersihkan
berbagai kotoran yang ada pada harta yang kita
miliki. InsyaAllah istiqomah.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa seseorang
telah bertanya kepada Nabi saw., "Ya Rasulullah,
sedekah yang bagaimanakah yang paling besar
pahalanya?" Rasulullah saw. bersabda, "Bersedekah
pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang
berangan-angan menjadi orang yang kaya.
Janganlah kamu memperlambatnya sehingga
maut tiba, lalu kamu berkata, 'Harta untuk Si Fulan
sekian, dan untuk Si Fulan sekian, padahal harta itu
telah menjadi milik Si Fulan (ahli waris)." (HR.
Bukhari Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar